Kadisperindag: Stop Jual Semen Andalas ke Luar Aceh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kadisperindag: Stop Jual Semen Andalas ke Luar Aceh

Kadisperindag: Stop Jual Semen Andalas ke Luar Aceh
Foto Kadisperindag: Stop Jual Semen Andalas ke Luar Aceh

BANDA ACEH – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Aceh meminta pihak manajemen PT Lafarge Cement Indonesia (LCI) yang memproduksi semen Andalas untuk menyetop sementara penjualan semen ke luar Aceh. Penuhi dulu lonjakan permintaan semen di pasar lokal Aceh, baru pikir memenuhi permintaan luar daerah.

“Alasannya, kelangkaan semen yang terjadi dalam dua pekan terakhir telah membuat beberapa pekerjaan proyek APBN, APBA, dan APBK 2017, serta proyek fisik pedesaan yang bersumber dari dana bantuan desa mulai terganggu,” kata Kepala Disperindag Aceh, Asmauddin SE, dalam pertemuan dengan pihak manajemen PT LCI, di Lhoknga, Aceh Besar, Kamis (10/8).

Kunjungan kerja Kadisperindag Aceh itu didampingi sejumlah kepala bidangnya. Di pabrik semen itu, Asmauddin diterima Stakeholder Management PT LCI, Amiruddin Latief, Manajer Produksi Saibaini Ramli, dan Manajer Packing Plan, Effendi Sidik.

Asmauddin mengatakan, kunjungan kerjanya ke Pabrik Semen Andalas di Lhoknga itu adalah atas perintah Gubernur Aceh dengan maksud untuk mendapatkan informasi yang benar mengenai produksi dan suplai semen dari pabrik ke distributor dan pasar, terkait sulitnya masyarakat dan para kontraktor mendapatkan semen dari distributor dan toko-toko bangunan di sebagian Aceh akhir-akhir ini.

Dalam pertemuan itu, Amiruddin Latief dari PT LCI melaporkan, meski pabrik semen Andalas sejak 19 Juli-10 Agustus 2017 melakukan overhaul (pembersihan/servis) selama tiga minggu, tapi penyaluran semen kepada distributor tetap berjalan.

Dalam kondisi normal, sebut Amiruddin, volume semen curah dan sak yang disalurkan ke distributor semen Andalas di Aceh maupun luar Aceh mencapai 1.800 ton. Tapi sejak overhaul, aktivitas pendistribusian semen sak ke pasar lokal melalui distributor tetap berjalan, tapi volumenya sudah tentu menurun menjadi 1.400-1.200 ton.

Hal ini disebabkan ada kegiatan servis mesin dan jaringan elektrikal mesin, maka ada beberapa bagian, kegiatan operasinya harus dihentikan sementara untuk beberapa jam. Akibatnya, kegiatan pengantongan semen dan pendistribusinnya ke distributor jadi berkurang.

Sarbaini Ramli menambahkan, pelaksanaan overhaul itu sudah dijadwalkan pada Mei lalu, tapi karena suku cadang mesin semen yang hendak diganti belum datang dari negara yang membuatnya di Cina, maka ditunda sampai bulan Juli. Akibat dari pergeseran jadwal overhaul itu, telah membuat permintaan lonjakan semen pada bulan Agustus ini tidak bisa dipenuhi 100 persen.

Menanggapi penjelasan pihak PT LCI itu, Asmauddin menegaskan bahwa kelangkaan semen yang terjadi pada Agustus ini hendaknya tidak terjadi lagi pada bulan berikutnya.

Pihak manajemen PT LCI menjawab bahwa mulai hari Ini, Jumat (11/8), produksi pengantongan semen dan penjulan semen curah kepada distributor akan normal kembali hingga mencapai volume 1.800 ton/hari.

Manajemen PLT LCI juga menegaskan, tidak ada kenaikan harga jual semen dari pabrik ke distributor. Dengan demikian, distributor dan pedagang bahan bangunan diharamkan menaikkan harga jual semen andalas.

Untuk mengisi kelangkaan pasar dan menormalkan harga semen di pasar, kata Asmauddin, ia harapkan pihak manajemen PT LCI jangan hanya berjanji dan berdiplomasi ketika pemerintah mempertanyakan kondisi distribusi semen ke pasar. Tapi yang paling penting adalah apa yang telah dijanjikan itu dilaksanakan 100 persen.

Sementara itu, Ketua Dewan Penasihat BPD Gapensi Aceh, Drs H Lukman CM meminta pemerintah dan khususnya Gubernur Aceh agar menata ulang sistem pendistribusian semen di daerah ini. Pasalnya, kelangkaan dan harga tidak menentu, bukan sesuatu yang baru.

“Tapi, permasalahan seperti ini, hampir saban tahun berulang dan belum ada tindakan nyata untuk mengatasinya dari para pihak berkompeten di negeri ini,” kata Lukman CM, kepada Serambi di Banda Aceh, Kamis (10/8).

Lukman CM menyesalkan sikap pemerintah yang terkesan cuek alias kurang peduli terhadap tata niaga produk strategis, terutama bahan bangunan seperti semen ini. Karena, kelangkaan semen hampir setiap tahun terjadi di semua kabupaten/kota di Aceh.

Ia katakan, krisis semen terulang, karena pasokan tidak sebanding dengan permintaan, sehingga sering terjadi kelangkaan di toko bangunan. Terlebih lagi jelang akhir tahun, permintaan semen makin tinggi untuk penyelesaian proyek pembangunan. Karenanya, ia berharap persoalan kelangkaan semen di daerah diharapkan mendapat perhatian serius pemerintah.

Menurutnya, kelangkaan semen di beberapa kabupaten/kota di Aceh, diduga hanya permainan produsen dan distributor untuk menaikkan harga. Karenanya, para pengusaha jasa konstruksi berharap pemerintah bersikap dan tak membiarkan kondisi ini berlanjut.

Kelangkaan hingga mempengaruhi harga, sebut Lukman CM, merupakan pelanggaran yang harus ditindaklanjuti dan diproses hukum. “Sebab, semua jenis barang, termasuk semen tidak bisa dinaikkan ssepihak seperti yang terjadi di pasar selama ini,” jelas Lukman.

Soal perubahan harga barang, katanya, harus melalui pembahasan resmi di tingkat lembaga yang memiliki tugas dan wewenang dalam kaitan itu. Artinya, tidak dinaikkan secara tiba-tiba di tengah stok barang dalam keadaan langka. Apabila harga naik di saat persediaan tidak ada, maka patut dipertanyakan alasan di balik perubahan harga barang tersebut. (her/awi) (uri/homas/ebriani/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id