Darus Shalihin, Kemegahan Idi Rayeuk | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Darus Shalihin, Kemegahan Idi Rayeuk

Darus Shalihin, Kemegahan Idi Rayeuk
Foto Darus Shalihin, Kemegahan Idi Rayeuk

KETIKA tiba di pusat kota Kabupaten Idi Rayeuk, Aceh Timur, Anda tentu bertemu dengan Masjid Agung Darus Shalihin. Anda pun percaya bahwa tampilan masjid ini hampir mirip dengan bangunan bersejarah di India, Taj Mahal.

Hanya Taj Mahal bermenara empat buah, tampak depan. Tapi Masjid Agung Darus Shalihin belum bermenara. Masuk ke halaman masjid dari sebelah Selatan, tampak bangunan masjid berdiri kokoh nan megah. Enam, dari sembilan kubah, yang telah selesai dibangun menjadi keindahan tersendiri.

Pemandangan ini persis di tepi jalan Medan-Banda Aceh. Satu pintu masuk lainnya berada di sebelah utara. Jalan ini sebagai pembatas antara masjid dengan Kantor Pengadilan Negeri Idi. Di depan masjid ini terdapat pula taman kota dan Pandopo Bupati Aceh Timur, juga Jalan Petuah Husen enuju ke TPI Idi. Halaman Masjid Agung Darus Shalihin juga terbilang luas. Luasan yang mengelilingi masjdi sekitar 8000 meter bujur sangkar atau setara dengan 20 rante. Lokasi wudhuk berada tepat sebelah timur halaman.

Makin mendekati masjid, ketenraman dan keindahannya mulai terasa. Lihatlah. Pada dinding masjid sebelah selatan dan utara dihiasi dengan batu alam dan ukiran ornamen yang indah. Bentuk bunga, bintang, dan gambar bulatan berwarna hijau, melahirkan warna teduh sekaligus memanjakan mata memandang.

Begitu masuk kedalam, ada kesan sejuk dan nyaman pula. Tak lain pancaran darilantai masjid warna gading/ krem, terbuat dari mar-mar ukuran 1,20 meter X 60 cm. Tak pelak lagi, usai shalat parajamaah kerap tergoda untuk beristirahat di dalam mesjid. masuk ke masjid dari arah timur, di kiri kanan ada tangga menuju lantai dua.

Sayang, untuk saat ini Anda tak bisa menaikinya, karena belum selesai pembangunannya. Begitu juga tiga kubah lagi, dan dua menaranya belum rampung dibangun. “Masjid ini mampu menampung 1.500 jamaah, dan kalau lantai dua telah selesai juga mampu menampung 1000 jamaah lagi,” ungkapKetua Pengurus Harian Pembangunan Masjid Agung Darush Shalihin, Tgk M Ali Puteh.

Tgk M Ali Puteh, menceritakan ahwa mesjid Darus Shalihin ini pertama kali dibangun tahun 1960 yang digagas oleh para tokoh terdahulu Idi Rayeuk, sepertiTgk H Hasballah Hanafiah, Tgk H Amir Husein Almujahid, Tgk Amin KPN, Tgk Hasan Mahmud, Tgk H Nuriza, Tgk H Ismail Ben. “Semua tokoh pendiri pertama telah almarhum,” ungkap Tgk M Ali Puteh, seraya menyebutkan ia bergabung ke dalam panitian pembangunan Masjid Darus Shalihin pada tahun 1996.

Menurutnya masjid ini dibangun pertama semi permanenberdasarkan dana yang disedekahkan olehmasyarakat. selain Masjid Darus Shalihin, saat itu di sekitar Idi Rayeuk juga sudah ada Masjid Baitul Manan, Masjid Gampong Jawa, Masjid Padang di Teupin Batee, Masjid Gurep, Masjid Darussa’adah Peudawa Puntong. Kala itu status Masjid Darus Shalihin merupakan masjid besar Kecamatan IdiRayeuk. Kini, setelah ibu kota Aceh Timur, berpindah ke Idi Rayeuk, namanya menjadi masjid agung.

Ketika kepengurusan panitia pembangunan masjid direvisi tahun 1996 (dijabat Drs Mahyuddin A Ubit, Tgk H Budiman Ahmad, Tgk H Abubakar Cut, Tgk H Budiman Husen, dan Tgk H Muslim), maka pengurus baru mengubah desain masjid, hampir menyerupai Taj Mahal. Ide tersebut muncul kala kepanitiaan diketuai oleh Nasruddin (mantan Wakil Bupati Aceh Timur). “Setiap tahun desain rumah ibadah itu terus berubah karena tuntutan model dan perkembangan zaman. Sepeti Masjid Raya Baiturrahman, begitu juga Masjid Agung Darusshalihin terus direnovasi,” ungkap Tgk Ali.

Saat ini, ungkap Tgk Ali, mesjid Agung Darushalihinmerupakan ikon Kabupaten Aceh Timur, dan merupakan mesjid kebanggan masyarakat Aceh Timur. Pun demikian, kata Tgk Ali, untuk rampungnya seluruh fasilitas Masjid Agung Darus Shalihin lebih kurang membutuhkan dana Rp10 miliar lagi. Itu untuk membangun tiga kubah lagi, dua menara, ornamen sebelah utara masjid, keramik lantai dua, halaman, dan pagar. “Yang paling kita butuhkan adalah air bersih untuk shalat. Karena, sumur bor yang ada airnya hitam. Karenaitu, kebutuhan air untuk shalat setiap hari kita beli,
bahkan setiap bulannya menyerap dana sekitar Rp6 juta,” sebut Ali.

“Insya-Allah selama kepemimpinan Bupati Rockysetiap tahun dana pembangunan masjid agung terus dibantu. Hanya, tahun pertama ia menjabat bupati yang tidak ada bantunan,”ungkap Ali. Ada juga pihak ketiga, seperti PT Medco. Bilakah Darus Shalin, menjadi kemegahan Idi Rayeuk yang sebenarnya? Tentu tergantung dari pihak-pihak pendana. Siapa lagi kalau bukan pemerintah, dermawan, dan kita semua.(seni hendri) (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id