Belajar dari Iblis Laknatullah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Belajar dari Iblis Laknatullah

Belajar dari Iblis Laknatullah
Foto Belajar dari Iblis Laknatullah

Oleh Fahmi Sofyan

DALAM Alquran, titel iblis yang dilaknat atau yang dirajam ada di enam tempat, satu di antaranya adalah firman Allah Swt, “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah makhluk yang terkutuk.” (QS. Shaad: 77). Titel ini ia dapatkan dari Allah setelah ia tidak mau mendengar perintah Allah Swt untuk sujud kepada Nabi Adam as. Padahal, sebelum diciptakan Adam, iblis sudah beribadah kepada Allah selama 1.500 tahun lamanya, gara-gara dua hal –yang dianggap sepele– yaitu enggan dan mau dipuji.

Enggan untuk sujud kepada Adam dan mau dipuji, sebab ia diciptakan dari api, bukan seperti Adam yang diciptakan dari tanah, Iblis harus menerima risiko untuk dikeluarkan dari surga. Firman Allah Swt dalam surah al-Baqarah, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

Ambil pelajaran
Kita selalu membayangkan iblis dengan hal-hal yang negatif, padahal banyak sekali hal-hal yang positif yang bisa kita ambil pelajaran darinya Pelajaran pertama, ibadah tidak bisa menjamin kita masuk ke dalam surga, makanya kita harus hati-hati dan selalu berdoa kepada Allah Swt supaya meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkannya kedalam surga, dan menyelamatkannya dari neraka. Tidak juga dengan ku, kecuali dengan rahmat Allah Swt.” (HR. Muslim).

Inilah yang dialami oleh Iblis, ibadahnya kepada Allah selama 1.500 tahun lamanya, hilang begitu saja, akibat ia ingkar dan tidak mau mematuhi perintah Allah Swt. Inilah pelajaran bagi kita umat Nabi Muhammad saw agar nasib kita tidak seperti Iblis.

Dalam satu riwayat, Rasulullah saw bertanya kepada Malaikat Jibril, mengapa ia menangis. Jibril menjawab: Ia tidak tahu bagaimana masa depannya. Makanya ia takut nasibnya seperti Iblis yang sebelumnya ahli ibadah, tetapi tiba-tiba bisa dilemparkan ke neraka oleh Allah Swt.

Pelajaran kedua; Sabarnya Iblis dalam menggoda manusia dibuktikan dengan berbagai cara yang ia lakukan untuk terus menggoda manusia, dimulai dari manusia bangun tidur, beraktivitas, dan tidur lagi. Apabila cara pertama tidak berhasil, dia akan menggunakan cara kedua dan seterusnya sampai ia berhasil memperdayai manusia. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari pada hadis ke 1.142, “Setan mengikat manusia dengan tiga ikatan ketika seseorang tidur, apabila seseorang bangun tidur dan berzikir maka lepaslah ikatan pertama, dan apabila ia pergi untuk berwudhuk, maka lepaslah ikatan kedua. Dan apabila ia shalat maka lepaslah ikatan yang ketiga”

Sabar inilah yan perlu kita tiru dari iblis, sehingga kita tidak pernah mengeluh kepada diri kita sendiri bahkan kepada Allah, sehingga terus berusaha untuk mencapai hasil yang lebih baik. Dr. Yasir Burhami didalam bukunya “a’malul Qulub”, beliau membagi sabar itu menjadi tiga; sabar dalam taat kepada Allah, sabar untuk tidak berbuat ma’siat dan sabar terhadap ujian yang diberikan oleh Allah. Iblis saja bisa bersabar kenapa kita tidak bisa?!

Pelajaran ketiga; Cara kerja Iblis terkontrol dan terorganisir dengan sedemikian rupa, sehingga masing-masing iblis memiliki tugas yang jelas, tugasnya pun berbeda-beda; yang yang menggoda manusia untuk berbuat maksiat, ada yang membuat manusia lalai dalam shalatnya, menggoda manusia ketika berwudhu’, ketika tidur, berinteraksi sosial, makan, minum dsb, sehingga tidak ada iblis yang mencampuri urusan (tugas) iblis lain, bahkan kerjanya sangat professional. Kalau misi mereka tidak berhasil, mereka akan dikumpulkan oleh raja iblis dan digantikan posisinya dengan iblis yang lain. Makanya iblis takut sekali kepada rajanya, oleh karena itu ia bekerja semaksimal mungkin agar posisinya tidak digantikan dengan yang lain.

Ketika kita bekerja dalam satu tim, maka sebaiknya belajarlah dari timnya iblis, tidak pernah campur ikut campur dengan urusan orang lain bahkan sibuk untuk mengurus tugasnya sendiri dan bekerja menurut tugas yang dibebankan kepadanya. Dan hendaklah bagi seseorang pimpinan belajarlah dari raja iblis, kalau ada bawahannya yang tidak maksimal kerjanya dan tidak sesuai dengan target yang diinginkan gantilah dengan yang lebih baik sebagaimana yang dilakukan oleh raja iblis.

Pelajaran keempat, ada dua kata kunci iblis di depan Allah Swt tatkala iblis dalam posisi terjepit: Pertama adalah lafaz, Inni akhafullah (Saya takut kepada Allah). Dalam Alquran, kata-kata ini disebutkan oleh iblis sebanyak tiga kali; dua kali ia ucapkan ketika berada di dunia (salah satunya ketika akan berlangsungnya perang Badar) dan sekali lagi ia ucapkan di akhirat tatkala ia berdebat dengan manusia di dalam neraka, seakan-akan iblis ingin mengatakan, Saya lebih baik dari pada kalian, walaupun saya seperti ini, saya takut sekali kepada Allah.

Kedua adalah lafaz fabiizzatika, yang artinya atas nama kemulianmu ya Allah, ini ia ucapkan ketika ia ingin memperdayai manusia ia minta izin dulu kepada Allah Swt, sebagaimana yang ia lakukan terhadap Nabi Aiyub as, “Demi kekuasaan-Mu ya Allah, aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Shaad: 82).

Perlu kita tiru
Dua kata kunci inilah yang perlu kita tiru dari iblis; yang pertama, lafaz inni Akhafullah. Lafaz inilah yang jarang sekali kita ucapkan tatkala kita diberikan cobaan oleh Allah Swt, bukannya kita takut kepada Allah karena sudah diberikan peringatan, tetapi kita selalu menyalahkan Allah dan selalu negative thinking kepada Allah.

Yang kedua adalah lafaz fabiizzatika. Ketika kita ingin memudharatkan orang lain; apakah kita teringat kepada Allah Swt? Apakah kita meminta izin kepada Allah terlebih dulu? Pasti tidak. Oleh karena itu, kita harus banyak belajar lagi dari iblis terhadap sesuatu yang belum bisa kita lakukan. Jangan sampai iblis laknatullah bisa melakukannya, tetapi kita tidak bisa.

* Fahmi Sofyan, Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id