Mengenal Lebih Dekat sang Navigator Ulung | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mengenal Lebih Dekat sang Navigator Ulung

Mengenal Lebih Dekat sang Navigator Ulung
Foto Mengenal Lebih Dekat sang Navigator Ulung

OLEH AL-ZUHRI, Kepala Bidang Jurnalistik pada Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Tiongkok, melaporkan dari Nanjing, Provinsi Jiangsu

LIHAI, itulah kata yang sama digunakan oleh orang Tiongkok dan Indonesia untuk menggambarkan seseorang yang dapat melakukan hal yang tak biasa. Kata ini juga yang saya pinjam untuk menggambarkan ksatria gagah bernama Zheng He. Siapa yang tak kenal sang Navigator pacak asal Tiongkok yang satu ini? Keberaniannya menaklukkan samudera lewat pelayaran-pelayaran ke berbagai daratan di dunia tentunya tidak membuat kita ragu akan ketangguhannya.

Empasan gelombang, entakan angin brutal, bahkan petir yang memekik di samudra tak menggetarkan tekadnya mengarungi lautan luas. Ia telah mengunjungi 40 negara dan wilayah mulai dari Asia sampai Afrika. Tentunya pantas sanjungan itu kita sematkan kepadanya.

Baik pada masanya bahkan sampai sekarang, Zheng He selalu disanjung. Bahkan ada nonmuslim yang menyembah makam dan patungnya lantaran dianggap bukan orang biasa. Kita boleh saja meletakkan kebanggaan kepadanya tidak saja karena dia seorang muslim, tapi ia juga mengemban misi dakwah ke daratan-daratan yang disinggahi. Akan tetapi ingat, jangan berlebihan. Kita sebagai muslim tak boleh menyembahnya atau meminta keberuntungan kepadanya karena itu perbuatan syirik yang dimurkai Allah.

Sekiranya pernah berkunjung ke Museum Negeri Aceh, Anda akan lihat di sisi kanan pintu masuknya terpajang sebuah lonceng besar yang dulu pernah dipasang di kapal perang Sultan Iskandar Muda bernama “Cakradonya”. Lonceng itu dulunya adalah pemberian Kerajaan Cina kepada sultan di Samudera Pasai melalui pelayaran yang dilakukan Zheng He–lebih populer dengan nama Cheng Ho–ketika itu.

Tak saja Aceh, daerah lain seperti Cirebon juga pernah dilalui sang Navigator ini. Ia berikan cendera mata khas Cina kepada sultan berupa sebuah piring bertuliskan ayat kursi. Sampai-sampai di Nusantara beberapa masjid dibangun menggunakan nama Zheng He yang hari ini masih dapat kita saksikan, yakni di Palembang (Sumatera Selatan), Surabaya, Pandaan, dan Jember (semuanya di Jawa Timur) dengan maksud mengenang jasanya.

Indonesia, lebih sempit lagi Aceh, mungkin lebih mengenal baik Cina lewat sosok bernama Zheng He ini. Zheng He adalah laksamana yang di masa hidupnya sering mengadakan perjalanan laut untuk mencapai negara-negara di dunia dalam misi merajut persahabatan dan mempromosikan Cina dengan menonjolkan sisi keistimewaanya melalui kerajinan kayu, porselen, juga kain sutera buatan perajin Ming untuk diperdagangkan di berbagai pelabuhan.

Dari pertukaran barang tersebutlah Zheng He pun memperoleh barang-barang langka dan berharga untuk dibawa sekembalinya ke Cina.

Sayangnya, di Cina sendiri masih sedikit orang mengenal sejarah Zheng He, meski patung dan kuburannya menjadi usaha pemerintah untuk mengenang jasanya. Patungnya terpahat tegap di sebuah taman di Kota Nanjing yang menjadi tempat orang-orang berkumpul dan berbagi tawa, berada terpisah dengan makamnya.

Menurut sebuah artikel di National Geographic, ekspedisi yang dilakukan orang-orang Eropa tidak ada apa-apanya dibandingkan Dinasti Ming. Bahkan ada yang mengeluarkan statement bahwa Zheng He-lah yang lebih dulu menginjakkan kaki di benua Amerika sebelum Columbus. Ini berawal dari seorang peneliti yang menyatakan penemu daratan Amerika pertama adalah orang Asia. Penobatan itu tertuju kepada Zheng He yang telah banyak melakukan perjalanan laut dan disokong oleh penemuan peta kuno milik Dinasti Ming serta bukti-bukti pendukung lainnya yang dijadikan sandaran bagi sang peneliti untuk menguatkan statement tersebut.

Oleh karenanya, kesempatan ke Nanjing beberapa waktu lalu tentu saja tidak saya sia-siakan untuk tak mengunjungi situs penting dalam sejarah dunia, yaitu ziarah ke makam Zheng He (Mandarin: Zheng He Mu). Makam ini terletak 10 km di selatan Kota Nanjing, tepatnya di Niushou Shan yang berarti Gunung Kepala Sapi. Kawasan gunung ini memang persis menyerupai kepala sapi, sehingga penamaan itu klop.

Lokasi ini cocok untuk wisata musim semi dengan bukit hijau dan udaranya yang sejuk. Tapi, jaraknya sangat jauh dari pusat kota. Namun, jangan khawatir ada bus yang menuju kemari.

Sesampai di stasiun tujuan, sekiranya lelah berjalan, maka kita bisa naik becak motor. Cukup dengan bayaran 10 yuan, kita akan diantar ke gerbang awal situs, tempat pembelian tiket masuk.

Setelah melewati pintu pemeriksaan keamanan, jengkal demi jengkal kami mulai masuki lokasi makam dengan memberi salam kepada ahli kubur. Hanya satu makam yang terlihat di area Zheng He Mu ini. Saya berpikir mungkin ini karena saking dikhususkan oleh pemerintahnya. Makam asli Zheng He sebetulnya sudah hancur. Yang ada kini justru hasil perbaikan yang telah dilakukan dua kali, yaitu pada tahun 1984 dan 2005. Di makam Cheng Ho ini saya temukan kaligrafi bertuliskan “Bismillah” dalam bahasa Arab. Ini menguatkan bahwa sang pemilik makam adalah seorang muslim. Kebanggaan saya terhadapnya bertambah-tambah.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: [email protected] (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id