Perempuan yang Berjalan di Atas Air | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Perempuan yang Berjalan di Atas Air

Perempuan yang Berjalan di Atas Air
Foto Perempuan yang Berjalan di Atas Air

Karya S. Agustina

Gampong rimung bukanlah kampung biasa. Selama bertahun-tahun tak ada yang tahu persis dimana lokasinya. Namanya tak ada dalam daftar desa Kecamatan Gunong Gajah, apalagi dalam Peta Kabupaten Gunong Raya, Provinsi Aceh. Tak ada yang tahu berapa jumlah penduduknya dan bagaimana kehidupan mereka. Kisahnya mulai terdengar menjelang kemerdekaan Indonesia. Saat itu seorang serdadu Jepang yang bertugas di Aceh begitu frustrasi setelah mendengar kabar kekalahan Jepang. Di bawah pengaruh sake ia meracau dan berjalan terlalu jauh dari pos penjagaannya; masuk hutan hingga mencapai lokasi sebuah pondok di sebuah ladang dengan seorang gadis di dalamnya. Gadis itu adalah Canden, warga Gampong Ujong Uteun yang berladang jauh di atas gunung. Canden begitu ketakutan dan berteriak memanggil keluarganya yang sedang bekerja di ladang. Tergopoh-gopoh Abu, Mak, abangnya dan dua lelaki yang datang untuk membeli cengkeh berlarian ke pondok dengan parang terhunus. Serdadu itu kalap dan menembak membabi buta hingga pelurunya habis. Abu tertembak!

Tiga lelaki mengejar serdadu yang melarikan diri ke arah Gunong. Mereka tak kunjung menemukannya walau sudah mencari jauh bahkan sampai ke wilayah yang belum pernah dijelajahi. Ketika sore menjelang, akhirnya mereka melihat si serdadu. Tetapi di saat bersamaan muncul pula harimau besar dan dua anaknya. Si induk menyergap sang serdadu! Seiring senyapnya teriakan sang serdadu, ketiga harimau itu pun berlalu seperti lenyap ditelan belantara. Para pengejar ketakutan dan memutuskan menyerahkan nasib serdadu kepada si ratu rimba. Malam itu mereka terpaksa tidur di hutan dan meneruskan berjalan sesudah terang. Sesampainya di pondok ladang tak ada seorang pun di sana. Abu telah dibawa berobat turun gunung.

Sore itu satu pasukan Jepang sampai ke Ujong Uteun mencari rekannya. Tak berhasil mendapat jawaban yang memuaskan mereka bersitegang lalu menghabisi Abu, Abang dan satu lelaki pengumpul cengkeh. Canden dan Mak tak pernah lupa bagaimana Abang terus berteriak-teriak bahwa si Jepang ada di Gampong Rimung dan gampong itu tak boleh diganggu. Pengumpul cengkeh yang selamat kembali ke kota. Dari merekalah legenda Gampong Rimung mulai tersebar.

Setahun sesudah kemerdekaan, sang serdadu tiba-tiba muncul di balai Gampong Ujong Uteun dalam kondisi pincang. Sebelah kakinya telah dicabik harimau. Ia dipapah seorang lelaki tinggi besar gagah berkulit gelap. Lelaki itu menjelaskan dengan bahasa Aceh yang halus bahwa ia dan keluarganya di Gampong Rimung menemukansi Jepang dan telah merawatnya sampai pulih. Si serdadu yang kali itu sadar sepenuhnya menunduk dalam, bersimpuh membungkuk berkali-kali meminta maaf. Ia baru tahu bahwa pasukannya telah menembak mati Abu, Abang, dan seorang pengumpul cengkeh. Canden dan Mak diam seribu bahasa. Utusan dikirim ke kota dan esoknya Tentara Rakyat datang menjemput si Jepang. Selepas semua urusan tuntas sang lelaki hutan itu pamit kembali naik gunung. Sejak itu tak ada kabar apa pun dari Gampong Rimung.

Puluhan tahun kemudian di puncak konflik antara Pemerintah Pusat dan Gerakan AcehMerdeka (GAM), anggota GAM kerap bergerilya dan bersembunyi sampai jauh ke dalam hutan di puncak Gunong Gajah. Sesekali mereka turun sampai ke Ujong Uteun untuk mencari perbekalan. Seorang anggota membawa cerita bahwa Gampong Rimung memang ada. Letaknya jauh dalam belantara, tiga hari tiga malam berjalan. Melintasi padang ilalang yang lebih tinggi dari jangkauan tangan lelaki dewasa, melewati tujuh belas anak sungai, delapan bukit dan lembahnya. Konon puluhan warganya terdiri atas keturunan ke sekian keluarga pejuang yang tidak mau turun gunung sesudah Cut Nyak ditangkap Belanda. Ditambah kemudian keluarga ulebalang yang memutuskan tidak ikut dalam Perang Cumbok. Gampong Rimung konon memiliki masjid kayu berukir indah yang teungkunya mengajarkan ilmu agama, berhitung, bahasaArab dan Belanda. Konon pula warga Gampong Rimung tak merasa perlu turun gunung karena mereka bahagia dan berkecukupan dari hasil mengolah alam. Bagian paling menarik dari kisah-kisah yang dikabarkan dari Gampong Rimung adalah tentang perempuan-perempuan yang bercahaya dan berjalan di atas air.

Kabar dari Rimung datang lagi sesudah perdamaian tercapai antara GAM dan Pemerintah Pusat. Semangat mewujudkan perdamaian muncul sesudah datang bencana besar gempa dan tsunami pada 2004. Dalam masa damai ini investor asing kembali melirik sumber alam di Aceh. Sebuah perusahaan konsultan energi panas bumi kerja sama Amerika dan Turki melakukan penelitian di Gunong Gajah yang merupakan gunung api aktif. Pada kunjungan kedua, mereka turun dari gunung membawa seorang perempuan muda bernama Jerneh sebagai penunjuk jalan sekaligus penerjemah pengganti. Seorang mantan anggota GAM yang dikontrak sebagai penunjuk jalan telah meninggal dunia dalam ekspedisi tersebut. Anggota tim bagian medis mengatakan ia terkena serangan jantung, bukan karena terkejut dan cedera ketika tim kocar-kacir saat bertemu sekawanan, tetapi karena kebiasaan merokok yang menahun. Si penunjuk jalan telah dikuburkan dengan bersahaja di Gampong Rimung. Ada dua anggota tim lain asal Jakarta dan Aceh tetapi mereka tidak mampu memandu di dalam hutan. Ada wilayah tertentu di Gunong Gajah dimana peralatan canggih dengan sistem GPS seolah tak berfungsi. Jerneh yang wajah dan keberadaannya seolah membuat orang terpaku sejenak, bisa berbahasa Aceh dan Belanda dengan fasih. Di Gampong Rimung ia sedang dipersiapkan untuk menjadi pawang uteun.

Ada sepuluh anggota tim, dua di antaranya perempuan. Attiya, ahli botani asal Belanda yang keturunan Turki serta Jess, ahli sosial asal Amerika. Setelah dua minggu tim tinggal di Ujong Uteun dengan menyewa rumah Bu Keuchik, pergaulan Jerneh dengan perempuan kampung dan anggota tim mengungkap lebih banyak lagi tentang Gampong Rimung dan perempuannya yang berjalan di atas air. Sikap Jerneh yang seperti malu dan menghindar tiap ditanya tentang legenda tersebut membuat mereka yang sudah cukup dekat dengannya semakin penasaran. Terungkap bahwa hanya perempuan akil balig yang bisa berjalan di atas air dan hanya pada saat sedang men. Seolah ada hubungan gaib terjalin antara perempuan Gampong Rimung dengan sungai di sana. Attiya dan Jesstak percaya pada kisah itu. Hanya karena desakan Bu Keuchik dan anak perempuannya, Jerneh akhirnya berjanji akan menunjukkannya kemampuannya; hanya pada mereka.

Pada minggu ketiga, Jerneh membisikkan pada Bu Keuchik bahwa sudah tiba waktunya bagi mereka untuk melihat ia berjalan di atas air. Selepas Bu Keuchik dan anaknya shalat Subuh, lima perempuan berjalan dalam remang di Ujong Uteun. Mereka menuju bagian sungai yang tidak sering dilalui orang. Attiya merasa geli dengan semua omong kosong ini dan ikut semata karena dipaksa Bu Keuchik. Jess ikut karena tertarik dengan cerita rakyat dan menganggapnya bagian dari tanggung jawab sebagai anggota tim bidang sosial. Ketika langit mulai terang mereka sampai di tepi sungai. Udara begitu bersih dan segar. Jerneh tersenyum dari tempat duduknya di atas batu. Perlahan dia berdiri, menarik nafas panjang. Berkelebat kenangan sungai bening di Gampong Rimung. Jerneh menunduk dan menyentuh air. Berkelebat pula kenangan ketika pertama kali ia merasakan dituntun Mak dan perempuan sesepuh gampong. Mak juga mengisahkan tentang Michik, generasi pertama perempuan Gampong Rimung yang akil balig di Gunonglalu tiba-tiba mampu berjalan di atas air. Ketika anak perempuan Michik yaitu Mak akil balig pun kejadian serupa terulang. Lalu perlahan seluruh perempuan gampong mendapatkan kemampuan itu. Kejadian ini menjadi sesuatu yang sangat dinanti-nantikan anak perempuan di Rimung.

Jerneh membaca bismillah, menciduk dan meminum air dengan kedua tangannya. Ia berdiri, melangkahkan kaki kanan. Selangkah, ia melayang ringan di atas air. Keempat perempuan lain tak dapat mempercayai apa yang mereka lihat. Legenda itu betul! Pada langkah kedua Jerneh tersenyum kepada keempat perempuan aneka bangsa itu. Bu Keuchik mengucap- ngucap. Anaknya dan Jess menutup mulut yang terganga. Attiya memandang penuh selidik ke dalam air, meyakinkan bahwa benar Jerneh melayang tanpa tipuan. Pada langkah ketiga Jerneh merasa mulutnya pahit, ada sesuatu yang tak biasa, air sungai di Ujong Uteun tak seperti di Rimung. Jerneh tercekat tapi melanjutkan langkah keempat, lima, enam, tujuh. Ia tersenyum kembali di tengah sungai dan membentangkan tangannya merengkuh langit. Attiya menyesal tak membawa Hp untuk merekam. Jerneh melangkah kedelapan, sembilan, tetapi seperti tak ada lagi yang menopangnya. Kakinya amblas ke dalam air. Di langkah kesepuluh Jerneh telah menapak di dasar sungai. Separuh tubuhnya basah. Ada bagian air yang memerah. Jerneh tak bisa lagi berjalan di atas air.

Saat peringatan 10 tahun gempa dan tsunami, Jerneh telah menjadi mahasiswi. Ia adalah warga Rimung pertama yang kembali ke kota. Ia lulus ujian paket C lalu kuliah di jurusan kehutanan UIN Ar Raniry. Kemampuan akademiknya; hasil tempaan tradisi belajar di belantara Gunong Gajah, tak kalah dengan lulusan kota. Ia juga kerap diminta menjadi penerjemah. Kali ini ia menjadi penerjemah mendampingi staf Kedutaan Belanda dalam rangkaian peringatan tsunami. Sejak kejadian di tepi sungai Ujong Uteun, Jerneh mempelajari fakta baru tentang perempuan Rimung. Jika ia turun dan tinggal lama jauh dari Rimung, kemampuannya berjalan di air perlahan hilang.

Jerneh sedang menemani rombongan dalam acara besar di muara Krueng Aceh. Presiden Republik pun turut hadir beserta perwakilan seluruh negara dan lembaga yang terlibat dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pascatsunami. Jerneh berdiri di dekat sungai mendengarkan pidato, tergerak hatinya merunduk di tepi, menciduk air, dan membasuh mukanya. Kulitnya yang bercahaya terasa begitu perih, sesuatu terjadi pada air ini. Jerneh tak merasakan air tetapi kotoran, darah, racun, sampah. Air itu seperti sakit berat. Sekarat. Sejak tinggal di kota Jerneh tak lagi minum air sungai dan tak pernah bicara tentang perempuan di gampongnya yang berjalan di atas air.

Tiga tahun kemudian. Jerneh, anak dara Gampong Rimung yang sebenarnya bukan gampong dan tidak ada dalam peta kecamatan atau kabupaten menemukan dirinya tercenung di tepi sungai kecil di Taman Nasional Yosemite. Ia berangkat ke Amerika sebagai peserta pertukaran mahasiswa yang disponsori perusahaan panas bumi. Ia nyaris menolak berangkat karena tak sepenuhnya yakin dengan manfaat kehadiran perusahaan bagi gampongnya. Diskusi panjang dengan teman kuliah dan teman lamanya, Jess, yang membuat ia akhirnya setuju berangkat. Seluruh peserta diundang dalam perjalanan wisata mengunjungi Taman Nasional. Jerneh tercenung melihat air sungai yang jernih tanpa sampah di pinggirannya. Dasar sungai berbatu-batu tampak begitu jelas. Jiwa Gampong Rimungnya seperti terpanggil. Ia merasakan sensasi itu. Ketika rombongan berhenti makan siang ia duduk agak menjauh. Biasanya ia menyempatkan diri untuk shalat saat yang lain makan, tapi kali ini ia sedang tidak shalat. Di tepi sungai yang seperti terus memanggil, Jerneh bersimpuh dan membuka sepatunya. Ia merasa begitu haus. Bismillah. Ia menciduk air sungai dan minum. Ia berdiri. Kakinya menyentuh air. Begitu dingin. Ia melangkah. Gemetar. Jantungnya berdetak sangat cepat.

* S. Agustina, ibu dari dua anak. Sebelum 2004, puisi dan cerpen terjemahannya dimuat di Serambi Indonesia, Kompas, dan Jakarta Post . (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id