Kekeliruan Pada Dirgahayu HUT RI Ke 71 | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kekeliruan Pada Dirgahayu HUT RI Ke 71

Kekeliruan Pada Dirgahayu HUT RI Ke 71
Foto Kekeliruan Pada Dirgahayu HUT RI Ke 71

Oleh: Muhammad Toha

Upaya menghormati jasa para pejuang kemerdekaan untuk mendirikan negara Republik Indonesia ini dilakukan dengan berbagai cara. Kemeriahan itu terlihat jelas dari adanya beberapa perlombaan di bulan Agustus.

Lomba panjat pinang merupakan acara yang paling diminati dan ditunggutunggu oleh masyarakat. Penulis pernah mendengar, satu keluarga ikut serta dalam perlobaan itu yang terdiri dari menantu, mertua, adik ipar, dan abang ipar di daerah Bireuen.

Hebatnya, yang menjadi pondasi adalah si bapak mertua. Hanya pada perlombaan panjat pinang seorang menantu diijinkan bapak mertua memijak bahunya bahkan mungkin kepalanya. Gelak tawa dan berbagai komentar lucu dari jiran tetangga pun bermunculan.

Selain itu, ada saja kejadian lucu terutama pada celana yang dipakai peserta. Umumnya kejadian lucu itu karena celana peserta yang koyak, melorot, ataupun kancing yang terlepas ketika sedang beraksi.

Selain perlombaan, pedagang kaki lima memanfaatkan momen bersejarah ini dengan menjual bendera merah putih berbagai ukuran dan bentuk. Pada bulan Agustus pula gedung dan kantor berbagai instansi menghias diri dengan bendera merah putih. Sejumlah jalan raya juga semarak dengan bendera merah putih yang dipasang di pulau jalan. Para pembuat kain rentang atau spanduk pun mendapat limpahan rejeki karena banjir order. Pada bulan ini, di mana-mana akan mudah kita temui kain rentang yang berisi ucapan selamat ulang tahun untuk Republik Indonesia.

Ungkapan selamat ulang tahun yang dibuat sangat beragam. Misalnya saja (1) Dirgahayu HUT RI ke-71, (2) Dirgahayu Republik Indonesia ke-69 atau (3) HUT Republik Indonesia ke 71. Ungkapanungkapan itu kerap kali kita temui. Ternyata, ungkapan-ungkapan yang biasa itu sebenarnya memiliki makna yang keliru. Misalnya bila kita cermati ungkapan (1) Dirgahayu HUT RI ke-71.

Kata dirgahayu berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna ‘panjang umur’ atau ‘berumur panjang’. Dengan demikian, susunan kata dirgahayu HUT bermakna ‘selamat panjang umur HUT’. Rangkaian ungkapan itu menjadi tidak tepat karena ungkapan Dirgahayu HUT sebagai ucapan semoga panjang umur yang ditujukan kepada HUT. Padahal, HUT itu sendiri merupakan singkatan dari Hari Ulang Tahun.

Oleh sebab itu, susunan kata Dirgahayu HUT itu menjadi mubazir karena keduanya bermaknasama. Oleh sebab itu kedua kata itu tidak boleh digabung dalam satu tulisan, harus dipilih salah satu. Penggunaan kata Dirgahayu dan HUT memiliki sedikit perbedaan. Jika kata dirgahayu yang ingin digunakan seperti pada (2) Dirgahayu Republik Indonesia ke-69 maka kata bilangan tingkat dihilangkan.

Sebaliknya, jika kata HUT yang digunakan akan diikuti kata bilangan tingkat setelahnya. Susunan kata bilangan tingkat yang diposisikan sesudah RI pada RI ke-71 juga kurang tepat. Oleh karena itu, susunan HUT RI ke-71 bermakna yang berulang tahun saat itu adalah RI ke-71 bukan RI ke- 11 atau RI yang lain.

Jadi menurut hemat penulis, letak kata bilangan tingkat ke-71 sebaiknya dipindahkan posisinya sebelum kata RI. Sebagai tambahan, penulisan tanda hubung pada kata ke- yang disertai angka seperti pada contoh di atas, ditulis serangkai tanpa spasi. Terkadang angka Romawi digunakan juga seperti pada HUT ke-LXXI Kemerdekaan RI. Penggunaan keyang disertai tingkatan bilangan tidak berlaku untuk angka Romawi.

Berdasarkan paparan di atas, perbaikan contoh (1), (2) dan (3) menjadi menjadi (1) Dirgahayu RI atau HUT ke-71 RI, (2) Dirgahayu Republik Indonesia, dan (3) HUT ke-71 Republik Indonesia Demikian pula ucapan yang menggunakan angka Romawi yang seharusnya ditulis HUT LXXI Kemerdekaan RI. Tulisan ini sekaligus mencermati beberapa ucapan selamat ulang tahun untuk kabupaten, provinsi, instansi, atau institusi lainnya yang pernah penulis lihat. Misalnya saja sebuah kain rentang yang kebetulan penulis lihat di Kota Blang Pidie yaitu HUT Kabupaten Aceh Barat Daya ke-13 seharusnya ditulis HUT ke-13 Aceh Barat Daya. Penulis berharap semoga penulisan ucapan selamat ulang tahun untuk republik tercinta yang ini bisa menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang. Satu pesan yang ingin penulis sampaikan bahwa tulisan yang biasa kita lihat sebenarnya belum tentu benar. Oleh sebab itu, mari membiasakan yang benar bukannya membenarkan yang biasa. (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id