Rumah Sang Tokoh Terlihat Sepi | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Rumah Sang Tokoh Terlihat Sepi

Rumah Sang Tokoh Terlihat Sepi
Foto Rumah Sang Tokoh Terlihat Sepi

RUMAH H Zainal bin Ismail di Dusun Rawa Sakti, Desa Sigrun, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulusalam terlihat sepi setelah tokoh yang dikenal dengan sebutan “Anak Desa” itu dijemput paksa oleh tim jaksa yang akhirnya terjadi pengrusakan dan pembakaran fasilitas PT Asdal Prima Lestari (APL) di Lae Langge, Kecamatan Sultan Daulat, menjelang tengah malam, Rabu (2/8).

Pantauan wartawan, Jumat (4/8), bangunan berpagar kayu itu tampak tertutup rapat, sepi. Warung di samping bangunan juga kosong. Sejumlah warga di sekitar kediaman H Zainal tidak mengetahui keberadaan sang tokoh. “Tidak ada yang tahu di mana Pak Haji, tapi yang penting beliau sudah sempat pulang ke rumah setelah malam itu sempat dikabarkan dijemput paksa oleh jaksa,” kata Kepala Desa Sigrun terpilih, Gomok SS kepada Serambi.

Berdasarkan laporan warga, kediaman Zainal sudah sepi sejak Kamis (3/8) pagi. Istri dan anaknya juga tidak berada di rumah. Rumah tertutup rapat tanpa aktivitas. Hanya saja, menurut warga ada salah satu keluarga yang menjaga rumah tersebut jika malam hari. Sumber Serambi menyebutkan pihak keluarga termasuk Zainal berada di suatu tempat yang aman.

Seperti disampaikan berbagai tokoh masyarakat, sosok Zainal dikenal berjiwa sosial dan disenangi masyarakat sekitar. Bukan hanya sosial, berbagai kepentingan orang banyak, Zainal kerap menjadi garda terdepan membela. Bahkan, sebagaimana disampaikan warga, dijebloskannya Zainal ke penjara melalui proses hukum dengan tuduhan penyerobotan lahan juga diduga sebagai upaya mengintimidasi masyarakat. “Ada upaya agar masyarakat takut, jadi jebloskan tokohnya ke penjara, kalau tokoh saja bisa dipenjara apalagi orang biasa,” begitu pendapat yang berkembang secara luas di kalangan masyarakat.

Ketokohan Zainal dilaporkan karena sering mengurus persoalan orang lain untuk dibela saat berbenturan dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Asdal. Karena sering membela rakyat kecil inilah sosok Zainal menjadi panutan dan banyak yang simpatik. Padahal, secara pribadi, Zainal dianggap orang yang mapan dan tidak harus menyerobot lahan. Zainal menggarap tanah yang memang merupakan pemberian mertuanya.

Sembilan bulan lalu, tepatnya 25 Oktober 2016, Zainal mengeluarkan pernyataan yang sempat dilansir Serambi terkait protes terhadap kasus yang membelitnya. Dia menyanggah pernyataan Humas PT Asdal Prima Lestari (APL) yang mengaku telah menempuh upaya dialog sebelum masalah tersebut sampai ke penegak hukum. “Saya keberatan dengan pernyataan saudara Asyhari yang mengatakan sudah pernah ada upaya untuk bermusyawarah dalam penyelesaian sengketa ini sebelum sampai ke ranah hukum, itu tidak benar,” katanya waktu itu.

Menurut Zainal, sejak kasus sengketa berujung tudingan penyerobotan lahan bergulir tidak pernah ada upaya untuk berdialog. Padahal, kata Zainal, dia sangat kooperatif dalam kasus yang membelitnya. Buktinya hingga vonis pengadilan dijatuhkan dia selalu aktif hadir kecuali saat sakit. Malah, lanjut Zainal dia juga tetap hadir meski undangan yang dilayangkan dari penegeak hukum di sana hanya lewat pesan singkat SMS atau telepon. Zainal sendiri mengaku sudah benar-benar hancur akibat kasus yang membelitnya. Betapa tidak, tanah yang diklaim merupakan warisan dari mertuanya dikelola dan kini telah diambil alih oleh PT Asdal dengan alasan merupakan areal HGU perusahaan kelapa sawit tersebut.

Tragisnya, kata Zainal, selain lahan sekitar tiga hektare-an itu, dia pun telah dijatuhi hukuman setahun penjara oleh PN Tapaktuan, Senin 25 Oktober 2016.

PT Asdal melaporkan Zainal dengan tuduhan menyerobot lahan seluas lebih kurang 30 hektare. Fakta di lapangan saat dicek lahan yang digarap hanya berkisar tiga hektare. Sebenarnya, kata Zainal selain dia ada sejumlah petani lain juga menggarap lahan serupa yang kini diklaim PT Asdal areal HGU-nya. Namun hanya Zainal yang dilaporkan hingga divonis bersalah.

Zainal, di mata banyak orang yang bersimpati kepadanya adalah sosok tokoh alternatif tempat curhat dan berani membela kepentingan orang yang dinilainya terzalimi. Nah, ketika sang tokoh mendapat perlakukan yang mereka anggap tidak pantas, reaksi pun muncul. (lid) (uri/aradhia/ayanti/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id