Investor Butuh Suasana Tenang | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Investor Butuh Suasana Tenang

Investor Butuh Suasana Tenang
Foto Investor Butuh Suasana Tenang

Ratusan orang dari sejumlah desa di Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam murka, lalu menyerang perusahaan perkebunan PT Asdal Prima Lestari (APL) yang berlokasi di Desa Lae Langge, berbatasan dengan Aceh Selatan, Rabu (2/8) malam hingga Kamis (3/8) dinihari. Serangan itu mengakibatkan sejumlah aset PT Asdal terbakar; truk, kamp, bahkan kantor.

Pemicunya disebut-sebut karena warga memprotes pihak Kejaksaan Negeri Aceh Selatan yang menahan Haji Zainal bin Ismail, tokoh masyarakat Kota Subulussalam. Di mata warga, Zainal adalah sosok yang baik dan tinggi jiwa sosialnya. Ia ditangkap malam hari, pukul 20.00 WIB, beberapa saat sepulang shalat berjamaah di masjid setempat.

Haji Zainal memang bersengketa lahan dengan PT Asdal. Pengadilan sudah memvonis Haji Zainal setahun penjara. Karenanya, jaksa menjemput Zainal supaya menjalankan keputusan pengadilan itu. Sebab, menurut jaksa, Zainal sudah pernah dipanggil tapi tidak memenuhi panggilan itu.

Ya, jaksa memang menjalankan tugas. Namun, di mata warga putusan pengadilan yang memenangkan PT Asdal adalah sesuatu yang tidak adil. Makanya, mereka marah besar ketika Zainal yang menjadi tempat tumpangan aspirasi mereka selama ini ditangkap jaksa untuk dijebloskan ke penjara.

Dan, akibat amuk massa itu, kini PT Asdal mengaku mengalami kerugian besar. “Mencapai sekitar tujuh miliar rupiah,” kata seorang petinggi PT Asdal.

Pihak perusahaan perkebunan sawit itu menyatakan akan segera melaporkan secara hukum terkait aksi kerusuhan massa terhadap perusahaannya. “Kami menyerahkan kepada pihak berwajib, kasus ini diselesaikan secara hukum,” kata Edi.

Ya, jika tak ada jalan musyawarah, tentu diselesaikan secara hukum. Namun, yang ingin kita katakan, kerusuhan itu dampaknya bukan saja kerugian yang dialami PT Asdal, tapi ini berpengaruh luas terhadap ketidaknyamanan berinvestasi di daerah ini.

Setiap kali terjadi kerusuhan akibat sengketa antara perusahaan perkebunan dengan masyarakat sekitar areal perkebunan di manapun, pihak yang mestinya selalu kita salahkan adalah pemerintah. Sebab, untuk memberi kenyamanan bagi para investor atau calon penanam modal, harusnya persoalan lahan harus selalu “bersih” dari sengketa. Dan, tugas “pembersihan” batas lahan itu adalah tugas pemerintah. Dengan demikian, masyarakat dan perusahaan perkebunan tidak bersengketa di kemudian hari.

Kasus penyerangan terhadap PT Asdal harusnya dijadikan momentum oleh pemerintah di daerah ini untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sengketa lahan antara masyarakat dengan pihak perusahaan perkebunan hampir di seluruh Aceh. Sengketa lahan garapan antara perusahaan perkebunan dengan warga sekitar persis seperti bom waktu. Kita mencatat beguitu banyak sudah klasus kerusuhan antara masyarakat dengan perusahaan-perusahaan peerkebunan di Aceh. Inilah “PR” penting pemerintah daerah ini jika ingin menyatakan Aceh sebagai daerah yang nyaman bagi siapapun untuk berinvestasi. (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id