Berobat Keluar Negeri (Masih) Perlukah? | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Berobat Keluar Negeri (Masih) Perlukah?

Berobat Keluar Negeri (Masih) Perlukah?
Foto Berobat Keluar Negeri (Masih) Perlukah?

PERSOALAN berobat kenegara seberang sering menjadi topik pembahasan di warung kopi. Saya sendiri terkadang saat bertemu para penikmat kopi di Banda Aceh sangat sering ditanyakan pertanyaan di atas, sehingga yang awalnya berniat minum kopi, pada akhirnya mendadak beralih ke persoalan berobat ke luar negeri itu.

Kembali ke topik di atas, jika jawabannya tidak boleh; alasan apa tidak dibolehkan? Demikian kalau dibolehkan berobat ke luar negeri; mengapa kita harus berobat jauh ke sana? Padahal sarana dan prasarana diagnostik, rumah sakit (RS), dan para dokter relatif sama, bahkan pendidikannya berstandar internasional. Adakah yang salah dalam sistem pelayanan kita? Hal inilah yang coba penulis coba angkat dalam tulisan ini.

Memilih suatu keinginan adalah hak asasi manusia (HAM), termasuk juga dalam hal berobat bagi rakyat Indonesia, khususnya masyarakat Aceh. Terkadang gaya berobat keluar negeri ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kelompok masyarakat tetentu.

Saat ini, kita hidup ibarat dalam sebuah dunia tanpa dinding pembatas, transportasi begitu mudah dan relatif sangat mudah, sehingga pergerakan seseorang/migrasi mudah dari satu titik ke titik lain. Situasi ini juga yang menyebabkan penyebaran penyakit berpindah dari satu negara ke negara lain.

Kemudahan transportasi dan kebijakan tanpa membayar fiskal memberi peluang masyarakat bergerak keluar negeri. Begitu juga bagi masyarakat Aceh dalam hal berobat ke negeri jiran Malaysia (Penang atau Kuala Lumpur).

Dokter pakar atau dokter spesialis adalah seorang dokter umum yang melanjutkan pendidikan keahlian bidang tertentu, sehingga dia mendapat brevet keahlian dan mempunyai kompetensi khusus sesuai standar keilmuan bidang tersebut. Kompetensi dokter seharusnya sama bagi seluruh dokter dunia, karena acuan buku yang digunakan untuk masing-masing bidang ilmu adalah sama,

Antara satu negara dan negara lain, ada beberapa hal yang membedakan tapi bukan terkait dalam kompetensi ilmu dan prinsip terapi, melainkan hanya pada tahapan seseorang dalam mencapai gelar pakarnya. Sebagai contoh, bagi seorang calon ahli kebidanan dan kandungan di negara persemakmuran, mereka harus lulus dulu bidang Ilmu Obstetri dan Ginekologi yang lebih dikenal RCOG (royal college obstetric and ginecology) part 1, baru boleh melanjutkan kebidang klinisnya, sedangkan bagi kita di Indonesia belum menjadi suatu keharusan. Makanya bagi mereka yang menggunakan modul pendidikan demikian, bisa bekerja dalam negara kelompok persemakmuran tersebut.

Apa yang salah?
Kalau demikian apa yang salah dalam pelayanan sistem kesehatan kita di Indonesia, sehingga masyarakat merasa nyaman berobat keluar negeri walaupun harus membayar mahal? Menurut saya, tidak ada yang salah dan tidak ada pula orang yang mutlak harus disalahkan, dan menjadi sebuah pertanyaan yang sulit dijawab.

Sebenarnya, seseorang berobat keluar negeri bisa dihubungkan pada masalah rasa/selera dan trust (kepercayan), dan tentu ini ya hak dia. Hal ini terus menjadi bahan renungan kami para dokter Indonesia dalam setiap pertemuan Nasional.

Saat penulis bertugas sebagai manajer pada bidang SDM dan pelayanan di RSUZA beberapa tahun lalu, topik ini serius dibahas bersama sejawat medis dan mitra kami paramedis atau nurse, dan kami coba melakukan perubahan masalah rasa pelayanan yang holistik. Bahkan, kadangkala ada staf yang kurang berkenan dan mempertanyakan; mengapa kami harus dilatih lagi? Dengan pelatihan service excellen bagi dokter, paramedis sampai para petugas penunjang lainnya, ternyata sangat bermanfaat.

Perubahan ke arah perbaikan terus dilakukan, dan kita terus diajak untuk move-on ke arah lebih baik, demi menghemat devisa negara, dan tentu dengan suatu harapan bila pelayanan menjadi baik akan terjadi perluasan daya tampung tenaga kerja kesehatan di negeri sendiri. Ratusan miliar, bahkan mungkin triliunan dana masyarakat yang selama ini bergeser ke negeri seberang, ditambah lagi nilai rupiah yang keluar untuk biaya pelancongan tetap berputar di negeri sendiri.

Data nasional Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan, terjadi penurunan masyarakat indonesia yang berobat keluar negeri dan saat ini kalaupun masih ada hanya mereka para kalangan eksekutif muda untuk check-up kesehatan, dan untuk mencari pendapat kedua. Bagi masyarakat Aceh umumnya terkait dengan mencari pendapat kedua akan diagnosa dari dokter tempatan, tetapi untuk tindakan seperti operasi sudah sangat jarang dan keadaan ini menunjukkan terjadi pergeseran ke arah lebih baik dan masyarakat mulai percaya pada pelayanan di negeri sendiri.

Apakah hal ini terkait dengan berlakunya BPJS Kesehatan? Menurut penulis, bisa ya dan tidak. Tapi harus diakui, secara umum terjadi perubahan besar dalam SDM, khususnya bidang kesehatan. Sebut saja jika 30 tahun silam, kita di Aceh tak punya sekolah/fakultas kedokteran. Kini kita bertambah dua, yakni kedokteran Universitas Malikussaleh (Unimal) dan Universitas Abulyatama (Unaya). Dan menjadi tugas kita bersama adalah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan di FK lain di Aceh menjadi sama dengan FK Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dengan akreditasi A dan rumah sakit terakreditasi paripurna.

Di sisi lain, sejak 10 tahun silam di FK Unsyiah sendiri telah mulai pendidikan spesialis (S2). Saat ini sudah ada 8 bidang prodi spesialis, dengan 40 orang staf pengajar bergelar doktor. Harapan penulis, dalam dua tahun ke depan seiring meningkatnya jenjang pendidikan staf segera akan dikukuhkan 5-10 profesor di FK Unsyiah, yang tentunya akan menambah jumlah guru besar di Unsyiah yang kita cintai ini.

Pasien adalah raja
Masalah mendasar saat ini dalam pelayanan sehari-hari adalah hal pelitnya ruang komunikasi dokter-pasien/klien. Seorang dokter masih belum berani membatasi jumlah pasien, sehingga terkesan terburu-buru. Konsultasi dokter-pasien ini sebenarnya kunci kesembuhan dan nyamannya pasien. Hal ini yang dilakukan di negeri jiran dan manajemen kesehatan di sana, mereka telah berkiblat pada orientasi keinginan pasien (customer oriented). Pasien adalah raja dan ini salah satu yang membuat masyarakat gandrung berobat ke luar negeri walaupun harus membayar mahal. Mereka melakukan pelayanan holistik yang humanis.

Apakah para dokter atau paramedis kita belum melakukan sebagaimana yang dilakukan di luar negeri itu? Menurut saya sudah, tapi masih belum semuanya, sehingga ini masih menjadi satu alasan masyarakat untuk mencari yang lain walaupun harus mengeluarkan biaya ekstra.

Beberapa RS kita di Aceh telah terakreditasi paripurna. Jika disimak pada point-point penilaian akreditasi RS, umumnya pola penilaian ke arah tata kelola RS demi membuat pasien sehat, yang lebih dikenal dengan pasien safety. Sebuah RS dengan kategori paripurna dengan akreditasi A, menurut penulis sudah cukup dapat dipercaya, tentunya dengan syarat semua petunjuk penilaian saat akreditasi dijalankan secara kaffah atau sempurna.

Sebenarnya telah terjadi pergeseran besar akhir-akhir ini, hal jumlah masyarakat yang berobat ke luar negeri. Ini satu kesan dari penulis; lihat saja semakin banyak RS yang bergabung dengan pelayanan kesehatan paket BPJS. Tetapi semakin tinggi juga daftar antrean pasien untuk operasi kasus bidang tetentu, dan terlihat juga dengan semakin tingginya klaim BPJS bagi RS di seluruh Indonesia, termasuk di Aceh. Malah kita lihat pula ada RS luar yang melakukan upaya jemput bola dengan membuka kantor penghubung di daratan kita.

Secara umum bisa dikatakan terjadi perubahan dalam pelayanan, tetapi tetapi pengakuan masyarakat terhadap pelayanan tempatan masih membutuhkan waktu. Tentunya ini akan berjalan sinergis bila seluruh para pemberi pelayanan managemen RS, pemerintah dan tokoh masyarakat mensupport upaya ini, Semoga saja di masa depan jangan lagi ada orang kurang mampu mencari pelayanan di luar dengan dana berutang. Padahal, pelayanan yang ingin didapat di seberang sudah cukup baik ditempatan dan ditanggung oleh JKA-BPJS Kesehatan.

Dr. dr. Mohd. Andalas, Sp.OG., Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), mantan Direktur SDM dan Pelayanan RSUZA Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/strid/lleonora/AE)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id