Penyakit Kaki Gajah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Penyakit Kaki Gajah

  • Reporter:
  • Sabtu, Agustus 5, 2017
Penyakit Kaki Gajah
Foto Penyakit Kaki Gajah

(Persepsi dan Mitos)

Oleh Zulfikar dan Khairul Fajri

SEBAGIAN masyarakat beranggapan bahwa penyakit kaki gajah (elephantiasis atau filariasis) merupakan suatu penyakit yang berhubungan dengan keturunan (genetika), jampi-jampi (dipeukeunoeng), melakukan kesalahan (dosa), atau kutukan karena mendatangi tempat-tempat yang dilarang (Nwoke et al, 2007 dalam Mutia 2016). Padahal anggapan seperti tersebut di atas tidaklah benar, namun informasi yang diterima oleh semua masyarakat tentang penyakit kaki gajah ini sangatlah kurang, disebabkan akses informasi mengenai penyakit tersebut sangat terbatas.

Penyakit kaki gajah merupakan satu di antara penyakit tular vektor yang menjadi masalah kesehatan, namun sedikit terabaikan (neglected topical diseases). Penyakit ini disebabkan oleh infeksi parasit (cacing filaria) yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini tersebar hampir di semua pulau di Indonesia, terutama di daerah pedesaan dan permukiman transmigrasi. Dampak dari penyakit kaki gajah ini dapat mengakibatkan kecacatan tubuh secara permanen, sehingga tidak dapat bekerja (penurunan produktivitas) yang akan menjadi beban keluarga dan masyarakat (Pahlevi dan Santoso, 2012).

Berbagai jenis nyamuk dapat menjadi penular penyakit kaki gajah, namun tergantung jenis cacing filaria-nya. Menurut WHO (1992) di kawasan Asia Tenggara genus Mansonia berperan sebagai vektor utama penularan filariasis dari Brugia malayi. Cacing filaria jenis Wuchereria bancrofti ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk Culex spp, Anopheles spp, Aedes spp (Sunish et al, 2007). Sedangkan Brugia spp umumnya ditularkan Mansonia spp dan Anopheles spp (Santoso et al, 2008). Sampai 2006 telah mengonfirmasi 23 spesies nyamuk dari genus Mansonia, Anopheles, Culex, Aedes dan Armigeres sebagai vektor filariasis di Indonesia (Kemenkes RI, 2006).

Cacing filaria memiliki siklus hidup, sehingga dapat menginfeksi manusia. Siklus dimulai dalam tubuh nyamuk betina, mikrofilaria ikut terisap saat mengisap darah, selanjutnya melakukan penetrasi pada dinding lambung dan berkembang di dalam thorax hingga menjadi larva infeksi yang akan berpindah ke proboscis (alat penusuk). Larva infektif selanjutnya masuk melalui lubang bekas tusukan nyamuk di kulit dan selanjutnya akan bergerak mengikuti saluran limfa, larva infektif ini mengalami dua kali perubahan bentuk.

Perkiraan 1.1 miliar penduduk dunia dapat terserang filariasis, terutama di daerah tropis dan subtropis. Sementara di Indonesia, kasus filariasis tersebar luas hampir di seluruh provinsi. Seperti dilaporkan kasus filariasis dari tahun ke tahun terjadi peningkatan, terutama selama 12 tahun terakhir. Seperti dilaporkan pada 2002 berjumlah 6.571 kasus, meningkat menjadi 14.932 kasus pada 2014. Tiga provinsi dengan kasus tertinggi antara adalah NTT berjumlah 3.175 kasus, Aceh (2.375 kasus), dan Papua Barat (1.765 kasus). Umumnya kasus-kasus filariasis lebih banyak ditemukan di daerah pedesaan (Kemenkes RI, 2015).

Aceh termasuk rawan
Hampir semua kabupaten/kota di Aceh termasuk daerah rawan kasus filariasis, namun berdasarkan data Kabupaten Pidie 84 kasus, Aceh Barat 11 kasus, dan Aceh Timur 47 kasus. Masyarakat yang sudah terinfeksi oleh cacing filaria berpotensi sebagai sumber penularan jika semua faktor penularan terdapat pada suatu daerah.

Penularan filariasis dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sumber penular (manusia dan hewan sebagai resevoir), parasit (cacing) vektor (nyamuk), manusia yang rentan (host), dan lingkungan (fisik, biologik, ekonomi dan sosial budaya).

Resevoir, parasit filaria tipe B Malayi dapat hidup pada hewan merupakan sumber infeksi utama bagi manusia. Sementara manusia yang mengandung parasit dapat menjadi sumber infeksi bagi orang lain yang rentan. Host, faktor manusia terdiri dari: (1) umur, filariasis dapat menyerang semua kelompok umur, pada sasarnya setiap orang memiliki risiko yang sama untuk tertular apabilan terinfeksi larva infektif;

(2) jenis kelamin, laki-laki maupun perempuan dapat terserang penyakit kaki gajah, tetapi laki-laki memiliki insidensi yang tinggi dari pada perempuan karena pada umumnya laki-laki lebih sering terpapar dengan vektor karena pekerjaannya, dan; (3) imunitas, bagi yang sudah terinfeksi filariasis sebelumnya tidak terbentuk imunitas dalam tubuhnya terhadap filaria, demikian pula yang tinggal di daerah endemis, biasanya tidak mempunyai imunitas alami.

Vector, penular penyakit kaki gajah adalah nyamuk, siklus hidupnya akan terputus apabila tidak terdapat air. Kehidupan nyamuk dapat dibagi dua fase, yaitu fase pradewasa (telur, larva dan pupa) dan dewasa (imago). Perilaku nyamuk yang menjadi perhatian adalah kebiasan menusuk dan mengisap baik di dalam rumah (endophagic) maupun di luar rumah (eksophagic). Di samping itu, kesukaan mengisap darah menjadi antropophilic (suka darah manusia), zoophilic (suka darah hewan) dan indiscriminate biters feeders (mengisap darah apapun).

Environtment, distribusi kasus dan mata rantai penularan filariasis sangat dipengaruhi oleh lingkungan. W bancrofti tipe urban memiliki darah endemis di daerah-daerah perkotaan yang kumuh, padat penduduk dan banyak genangan air kotor sebagai habitat vektor yaitu Culex quinquefasciatus. Daerah endemis W. bancrofti tipe rural memiliki kondisi lingkungan yang secara umum sama dengan daerah endemis B. Malayi yaitu di daerah-daerah sungai, hutan, rawa-rawa, sepanjang sungai atau badan air lain yang banyak ditumbuhi tanaman air. Faktor lingkungan lainnya seperti geografik, keadaan musim, suhu, kelembaban, kecepatan angin dan hujan.

Pengendalian dan pencegahan filariasis berdasarkan faktor risiko dapat dilakukan dengan berbagai cara di antaranya: (1) memberikan penyuluhan di daerah endemis mengenai mekanismes penularan dan cara pengendalian vektor nyamuk; (2) penyemprotan IRS (indoor residual spraying); (3) memasang kawat kasa dan tidur dengan memasang kelambu; (4) memakai repellent, dan; (5) membersihkan tempat perkembangbiakan nyamuk.

Penatalaksanaan kasus pasien filariasis terbagi menjadi dua, yaitu perawatan umum dan pengobatan spesifik. Perawatan umum meliputi istirahat yang cukup, antibiotik bila terjadi infeksi sekunder dan abses serta pengikatan di daerah pembendungan untuk mengurangi endema. Menurut Chandra (2007), pengobatan spesifik meliputi pengobatan untuk infeksi dan pengobatan untuk penyakitnya. Pengobatan infeksi dilakukan dengan tujuan untuk menurunkan angka mikrofilaremia pada komunitas dengan pemberian Dietylcarbamazine (DEC) 6 mg/kgBB/hari selama 12 hari. Nah!

Zulfikar, SKM, M.Si dan Khairul Fajri, SKM, MKM., pemerhati masalah Kesehatan Masyarakat dan Tenaga Fungsional Entomologi Kesehatan pada Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas III Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id