Mengajar di Lokasi Perjudian, Teungku di Langsa Pernah Minta Mundur | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mengajar di Lokasi Perjudian, Teungku di Langsa Pernah Minta Mundur

Mengajar di Lokasi Perjudian, Teungku di Langsa Pernah Minta Mundur
Foto Mengajar di Lokasi Perjudian, Teungku di Langsa Pernah Minta Mundur

URI.co.id, BANDA ACEH- Kota Langa bisa disebut sebagai kota heterogen di Aceh, yaitu kota yang didiami oleh masyarakat yang berbeda-beda.

Letaknya yang berdekatan dengan Sumatera Utara, membuat Kota Langsa juga beratikulasi dari segi budaya, sikap, dan tingkah laku masyarakatnya.

Lantas, bagaimana penerapan syariat Islam di Kota Langsa, apakah sama dengan kota-kota lainnya di Aceh, atau ada hal-hal yang dikurangi dalam penerapannya, karena mengingat kota ini tidak hanya dihuni oleh orang Aceh asli.

Wakil Wali Kota Langsa, Marzuki Hamid MM, mengatakan, penerapan syariat di Langsa tetap sama dengan kabupaten/kota lainnya di Aceh.

Hanya saja, di sana, rintangan untuk menegakkan syariat Islam lebih besar dihadapi oleh para petugas wilayatul hisbah. Mengapa? Karena di Langsa, banyak hal-hal yang dilarang, namun tetap dilakukan secara terang-terangan oleh sebagaian masyarakatnya.

“Misalnya seperti acara pesta, itu tidak afdhal kalau tidak ada kibot. Orang-orang luar datang, mulai pagi sampai pagi lagi.  Tidak hanya hiburan musik, ada kegiatan lain yang berkembang, seperti mabok,” kata Marzuki Hamid dalam kunjungannnya ke Kantor Harian Serambi Indonesia di Meunasah Manyang PA, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Jumat (4/8/2017).

Ia juga mengatakan, bahwa petugas syariat Islam di Langsa sering sekali mendapat perlawanan dari sebagian masyarakat, ada yang dilempar ada pula yang dicaci karena melakukan penegakan syariat.

“Kami tidak tahu siapa backingnya, siapa orang di belakang mereka, sampai berani melempar petugas dengan batu, padahal di situ juga ada polisi, dan PM,” kata Marzuki.

Marzuki juga menceritakan, suatu ketika, Pemerintah Kota Langsa membangun sebuah dayah di salah satu tempat, di mana di situ adalah lokasi sabung ayam dan perjudian paling dikenal. Seorang teungku pun ditempatkan di sana untuk mengajar.

Apa yang terjadi? dua hari setelah dayah itu diresmikan, teungku atau ustaz di dayah itu, meminta mundur dan tidak mau mengajar lagi.

“Dia minta mundur, karena orang-orang di situ marah kepada dia, karena dengan dayah itu mereka tidak bisa lagi melakukan sabung ayam, berjudi,” kata Marzuki.

Marzuki kemudian mengatakan kepada ustaz itu, untuk tetap mengajar. Tugasnya hanya mengajak ngaji anak-anak di sana, tidak untuk memata-matai warga yang menggelar sabung ayam atau berjudi.

“Warga ini marah, karena dipikir teungku ini akan lapor kelakuan mereka ke wilayatul hisbah,” cerita Marzuki.

“Yang main judi main terus, kemudian kita beri fasilitas ke dayah itu, beri kain sarung untuk dibagi-bagikan ke orang sekitar, ada kenduri kemudian kita undang masyarakatnya. Alhasil sekarang anak-anak banyak datang mengaji, dan sekarang sudah aman dan damai di sana,” cerita Marzuki. 

Kepada URI.co.id, Marzuki juga menyebutkan nama ustaz dan dayah tersebut, berikut memeberi tahu nama desa tempat dayah itu berdiri. (uri/itri/elmeizar/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id