Subulussalam Rusuh, Massa Bakar Truk dan Kantor PT Asdal | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Subulussalam Rusuh, Massa Bakar Truk dan Kantor PT Asdal

Subulussalam Rusuh, Massa Bakar Truk dan Kantor PT Asdal
Foto Subulussalam Rusuh, Massa Bakar Truk dan Kantor PT Asdal

SUBULUSSALAM – Ratusan orang dari sejumlah desa di Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam murka, lalu menyerang perusahaan perkebunan PT Asdal Prima Lestari (APL) yang berlokasi di Desa Lae Langge, berbatasan dengan Aceh Selatan, Rabu (2/8) malam.

Kerusuhan itu mengakibatkan sejumlah aset PT Asdal terbakar: truk, kamp, bahkan kantor. Pemicunya disebut-sebut karena warga memprotes pihak Kejaksaan Aceh Selatan yang menahan Haji Zainal bin Ismail, warga Desa Sigrun, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam. Di mata warga, haji yang satu ini adalah sosok yang baik dan tinggi jiwa sosialnya. Ia ditangkap malam hari, pukul 20.00 WIB, beberapa saat sepulang shalat berjamaah di masjid setempat.

Kabar tentang penangkapan tokoh masyarakat itu terus menyebar via layanan pesan singkat (sms) dan WhatsApp (WA) hingga menggemparkan penduduk yang berbatasan dengan Aceh Selatan itu.

Kabarnya, Zainal yang akrab disapa “Anak Desa” itu ditangkap petugas kejaksaan beberapa saat setelah dia pulang shalat berjamaah di masjid setempat. “Ada penangkapan Pak Haji Zainal dan dia dibawa orang tak dikenal naik dua mobil,” demikian info beredar di grup jejaring sosial.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Serambi, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 23.40 WIB, melibatkan 500-an orang.

Massa datang menggunakan sejumlah truk dan kendaraan roda dua. Awalnya, massa yang datang beberapa orang saja. Mereka menggunakan sepeda motor (sepmor). Tapi kemudian bertambah dan akhirnya membeludak.

Massa tersebut bukan saja berasal dari Kecamatan Sultan Daulat, tapi juga dari Trumon Timur, Aceh Selatan. Aksi massa makin tak terbendung karena suasana malam gelap gulita, sehingga membuat mereka bebas melakukan apa saja.

Petugas keamanan (security) perusahaan dikabarkan tak mampu menghalau desakan massa yang terus membeludak, sehingga mereka pun ikut menyelamatkan diri.

Massa awalnya membakar pos jaga di pintu gerbang atau simpang menuju lokasi PT Asdal. Massa kemudian masuk dan merusak fasilitas timbangan yang berada 500 meter dari areal perkantoran dan kompleks perumahan PT Asdal.

Massa juga merusak fasilitas lain dan membakar sejumlah truk, satu unit kantor, barak atau mes karyawan, gudang, dan bangunan tempat penyimpanan bahan bakar minyak (BBM).

Belum ada data resmi mengenai jumlah riil fasilitas maupun kendaraan PT Asdal yang rusak dan dibakar massa kemarin. Namun, dari hitungan sementara, truk plus mobil dan alat berat mencapai delapan unit dibakar dan enam unit rusak ringan. Jika dilihat dari lokasi atau kompleks PT Asdal, hampir 80 persen fasilitas dan kendaraannya rusak dan terbakar.

Sementara itu, karyawan yang mendengar adanya amuk massa langsung lari terbirit-birit. Namun, tidak semua mereka dapat menyelamatkan harta benda miliknya sebelum api berkobar hebat.

Massa yang telah beringas itu dilaporkan membakar berbagai fasilitas PT Asdal, termasuk barak karyawan dan isinya. “Barang-barang kami juga ikut terbakar, karena kami tak sempat menyelamatkan diri. Sepeda motor saya juga rusak,” kata seorang karyawan.

Sejumlah karyawan yang hendak dikonfirmasi Serambi masih ragu memberikan keterangan. Mereka mengaku khawatir akan menimbulkan hal yang tak diinginkan jika memberikan keterangan.

Selain itu, tak sedikit pula karyawan yang trauma akibat kerusuhan yang melanda tempat kerja mereka. Saat kerusuhan terjadi, para karyawan yang telah berumah tangga juga harus menyelamatkan keluarganya, termasuk anak-anak mereka.

Saat api membara di lokasi PT Asdal, petugas keamanan dan pihak perusahaan berupaya menghubungi armada pemadam kebakaran (damkar) di Kecamatan Sultan Daulat. Satu unit damkar langsung meluncur ke lokasi PT Asdal, namun saat melintasi kerumuman massa, yakni di persimpangan menuju lokasi kebakaran, distop.

Massa menyandera armada damkar tersebut, sehingga api dengan cepat membakar fasilitas perusahaan yang beroperasi di Subulussalam sejak puluhan tahun silam itu.

Kerusuhan itu juga heboh diwartakan dan diulas awak media sosial dan sms terkait adanya pembakaran di PT Asdal.

Manajemen PT Asdal mengaku mengalami kerugian cukup besar akibat aksi massa yang berujung pada pembakaran sejumlah fasilitas perusahaannya. Hal itu disampaikan melalui Bagian HRD PT Asdal,.

Menurut Edi yang enggan memberikan nama lengkapnya kepada Serambi, kerugian PT Asdal akibat amuk massa itu sekitar Rp 7 miliar.

Eddi mengatakan pihak perusahaan akan segera melaporkan secara hukum terkait aksi kerusuhan massa terhadap perusahaannya.”Karena ini kerugian dan nominalnya cukup besar pasti ada langkah hukum. Kami menyerahkan kepada pihak berwajib, kasus ini diselesaikan secara hukum,” kata Edi.

Edi yang bertindak mewakili humas dan manajer PT Asdal mengatakan, saat massa mendatangi areal perkantoran PT Asdal, Rabu malam, kondisi terasa mencekam akibat lemparan batu, dilanjutkan perusakan bangunan dan aksi pembakaran.

Para karyawan, menurut Edi, lari menyelamatkan diri ke bagian dalam perkebunan. Edi melaporkan bahwa jumlah massa pada malam itu kemungkinan mencapai 500-an orang. Awalnya, kata Edi, warga yang datang hanya sekitar sepuluh orang dengan mengendarai sepmor.

Tapi tiba-tiba ratusan massa datang, sehingga suansana berubah menjadi mencekam.”Saya juga lari ke belakang untuk menyelamatkan diri, karena massa sangat banyak, ratusan yang berdatangan, saya lihat kobaran api membara,” ujar Edi. Edi mengaku terkejut tentang aksi massa di perusahaan tempat ia bekerja itu.

Adapun pemicu kasus ini karena PT Asdal bersengketa lahan dengan seorang warga. Edi mengaku pihaknya memang bersengketa dengan H Zainal hingga berujung ke ranah hukum. “Jumlah lahan yang disengketakan itu mencapai 30 hektare (ha), tapi vonis hakim 5,2 ha dengan hukuman setahun penjara,” ujarnya.

Lebih jauh Edi membantah tudingan kalau HGU perusahaannya juga ada menyerobot lahan masyarakat. Justru, menurut Edi, lahan HGU PT Asdallah yang banyak diserobot masyarakat. Kendati demikian, Edi tak bisa menjelaskan mana saja lokasi HGU mereka yang diserobot warga.

Edi mengaku tetap mengizinkan warga menggunakan jalan PT Asdal pada hari Sabtu dan Minggu. Sedangkan pada hari lain, perusahaan itu ada aktivitas produksinya, sehingga takut terganggu. “Bukannya terbalik, justru lahan kami yang banyak diserobot warga, Soal jalan kami izinkan, tapi ya Sabtu-Minggu,” pungkas Edi. (lid) (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id