H Zainal, Sosok Sosial Berjuluk ‘Anak Desa’ | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

H Zainal, Sosok Sosial Berjuluk ‘Anak Desa’

H Zainal, Sosok Sosial Berjuluk ‘Anak Desa’
Foto H Zainal, Sosok Sosial Berjuluk ‘Anak Desa’

EKSEKUSI putusan Pengadilan Negeri Tapaktuan, Aceh Selatan, oleh pihak Kejaksaan Negeri Tapaktuan terhadap Haji Zainal bin Ismail, salah seorang tokoh di Desa Sigrun, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Rabu (2/8) malam berujung kerusuhan massa. Kerusuhan yang berujung pembakaran terhadap fasilitas PT Asdal Prima Lestari (APL) di Desa Lae Langge, Kecamatan Sultan Daulat tersebut karena rasa simpati masyarakat terhadap sosok H Zainal yang dikenal berjiwa sosial.

Zainal yang sejagat Sultan Daulat dikenal dengan julukan “Anak Desa” merupakan tokoh yang disegani dan dihargai oleh masyarakat sekitar. Betapa tidak, selama hidupnya H Zainal dikenal sebagai sosok yang pemurah, sosial, dan selalu menjadi terdepan bila ada persoalan yang membelit warga sekitarnya.

Zainal sendiri tidak dapat ditemui wartawan karena keberadaannya tidak diketahui saat ini. Namun, dari sejumlah tokoh masyarakat yang ditanyai Serambi diperoleh informasi seputar ketokohan sang haji itu. “Warga marah karena Haji Zainal ini tokoh, dia itu sangat sosial, dan selalu di depan kalau urusan masyarakat,” kata Rasumin Pohan SE, seorang tokoh pemuda Sigrun.

Rasumin yang juga Anggota DPRK Subulussalam dapil Sultan Daulat itu mengatakan, sosok Haji Zainal telah dikenal sejak era 1990-an dan selama ini dia banyak membantu kemasyarakatan dan urusan di desa. Apa saja kegiatan di desa, maka H Zainal menjadi orang terdepan atau orang yang pertama berbuat. Karena jiwa sosialnya itulah H Zainal dijuluki Anak Desa karena dianggap sangat peduli terhadap kampung halaman dan masyarakatnya.

Tak hanya soal sosial di masyarakat, H Zainal menurut Rasumin sejak puluhan tahun lalu juga gagah berani mendobrak perusahaan PT Asdal dalam hal kebutuhan masyarakat. Dikatakan, H Zainal dikenal banyak memperjuangkan hak-hak masyarakat yang bebenturan dengan PT Asdal. Sehingga saat warga mengetahui ada persoalan hukum membelit sang tokoh idolanya itu, maka muncul simpati luar biasa.

Rasumin yang juga Ketua Komisi A DPRK Subulussalam menambahkan, aksi simpatik masyarakat terhadap H Zainal sudah ditunjukkan dari awal kasus yang membelit ayah empat anak itu. Semua warga di sana menurut Rasumin antusias mengikuti, mensuport dan lainnya atas proses hukum terhadap H Zainal. Bahkan, saat siding perkara H Zainal, selalu dipenuhi warga pendukungnya yang ikut menyaksikan secara berombongan. Sepulang dari sidang, Zainal telah ditunggu oleh para loyalis dan warga pendukungnya. Sehingga, saat tokoh ini dijatuhi hukuman satu tahun, banyak masyarakat tidak terima.

Menurut Rasumin, sebenarnya kemarahan warga sudah terjadi sejak lama, termasuk saat putusan hakim atas H Zainal. Namun, sang tokoh sosial ini menenangkan masyarakat.

Puncaknya, lanjut Rasumin, penangkapan terhadap H Zainal atau Anak Desa di malam hari dan di luar rumah. Anak Desa itu ditangkap persis beberapa saat ke luar dari masjid selepas melaksanakan shalat berjamaah dan di malam hari, sehingga warga tidak terima karena perlakuan itu dinilai tidak manusiawi, sebab kasus yang membelit sang tokoh tersebut bukan kriminal, teroris, atau merupakan operasi tangkap tangan (OTT) karena suap atau pungli misalnya.

“Yang membuat warga marah dia kan ditangkap malam hari, di jalan mau pulang ke rumah. Padahal, dia kan bukan kriminal atau teroris dan tertangkap tangan,” ujar Rasumin.

Hal lain yang memicu kerusuhan, menurut Rasumin, adalah lantaran kebencian masyarakat Sultan Daulat terhadap manajemen PT Asdal Prima Lestari sejak dulu. Pasalnya, perusahaan itu selama ini dituding menyerobot lahan masyarakat. Masalahnya, lanjut Rasumin, permintaan ukur ulang kepada pemerintah Kota Subulussalam tak kunjung terealisasi. Padahal, konflik PT Asdal dengan masyarakat soal tapal batas telah lama terjadi. Bahkan, kata Rasumin, tahun 2011 lalu, konflik juga pernah terjadi hingga penyanderaan kendaraan milik PT Asdal oleh masyarakat sekitar.

Terhadap masalah ini, Rasumin pun meminta agar persoalan yang terjadi harus diselesaikan secara bijak. Tak cukup Pemko Subulussalam, Rasumin menilai persoalan sengketa lahan antara warga dengan PT Asdal juga harus dimedia Pemerintah Provinsi Aceh. Selain itu, Rasumin mengingatkan statemen yang pernah disampaikan Wali Kota Subulussalam H Merah Sakti SH dalam berbagai kesempatan dengan pernyataan tidak akan memperpanjang Izin HGU PT Asdal. “Sekarang kita tagih janji itu benar tidak, sebab, wali kota menyatakan tidak memperpanjang izin HGU Asdal tapi nyatanya di lapangan perusahaan masih terus bekerja,” pungkas Rasumin.

Hal senada juga disampaikan Gomok SS, Kades terpilih Desa Sigrun. Menurut Gomok, simpati yang cukup besar dari warga terhadap sosok Zainal sangatlah pantas. Sebab, Zainal selama ini memang tokoh panutan masyarakat di sana. H Zainal, kata Gomok, selama ini banyak memberi masukan bagi masyarakat termasuk pemerintah desa. Selain itu, H Zainal menurut Gomok juga berjiwa sosial.

Hal lain yang membuat H Zainal disegani dan panutan warga lantaran dia tak mau terlalu mencampuri dunia politik, baik di tingkat desa maupun di level Pemko Subulussalam. Ia selalu memosisikan dirinya netral, sehingga ia menjadi panutan masyarakat.

Kemudian, kerusuhan yang terjadi, lanjut Gomok, juga bisa saja dipicu oleh masyarakat bernasib serupa dengan H Zainal. Dikatakan, jika mau jujur, orang yang merasa terzalimi oleh pemilik HGU PT Asdal ini bukan hanya H Zainal, tapi ada sederat warga ikut menderita dengan kasus penyerobotan lahan mereka oleh perusahaan kelapa sawit itu. Sehingga, saat Zainal diperlakukan hingga ditangkap untuk dipenjara menimbulkan simpatik luar biasa. “Sangat pantas, dia itu sosok tokoh, dan mungkin juga masyarakat yang marah termasuk orang yang dizalimi PT Asdal,” tandas Gomok seraya menambahkan, mereka tidak tahu di mana sang tokoh itu saat ini. (khalidin) (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id