Mata Ie Butuh Area Tangkapan Air | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mata Ie Butuh Area Tangkapan Air

Mata Ie Butuh Area Tangkapan Air
Foto Mata Ie Butuh Area Tangkapan Air

BANDA ACEH – Mata Ie sebagai kawasan karst yang mampu menyimpan air membutuhkan area tangkapan untuk menjaga ketersediaan air di wilayah itu. Rusaknya ekosistem Mata Ie seperti pegunungan, flora dan fauna, gua-gua, bebatuan, diyakini menjadi penyebab air tak mampu tersimpan lagi.

Ahli Speleologi (ilmu tentang gua) Aceh yang juga aktivis Karst, Abdillah Imron Nasution kepada Serambi, Kamis (3/8) mengatakan, kawasan karst memiliki area tangkapan air yang timbul secara alami berupa cekungan yang disebut danau karst (dolina). “Dolina ini yang mungkin tidak berfungsi lagi. Sehingga perlu intervensi manusia untuk membuat aliran air mengarah ke dolina dengan menanam vegetasi (pepohonan) yang sesuai,” ujarnya.

Dikatakan, tidak semua pohon bisa atau layak ditanam di kawasan karst. Hal itu dikarenakan kawasan karst yang berciri khas limestone (bebatuan gamping/kapur) yang rawan rusak. “Hati-hati memilih pohon jenis beringin karena akarnya bisa merusak bebatuan limestone,” katanya, seraya menyebut pohon yang cocok ditanam seperti bayur, pulai, balam, dan keranji.

Senada dengan itu, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh turut menyikapi kekeringan Mata Ie dengan menggelar diskusi lintas sektor, di Kantor Walhi Aceh, Lambhuk, Kamis (3/8). Ketua Walhi Aceh, Muhammad Nur kepada Serambi menyampaikan sejumlah rekomendasi yang dilahirkan dari diskusi tersebut.

Menurut dia, pihaknya bersama masyarakat mendesak Kementerian ESDM untuk menetapkan kawasan karst sebagai kawasan lindung geologi, demi menjaga sumber mata air untuk Aceh Besar dan Banda Aceh. “Pemerintah Aceh harus segera menertibkan galian c, illegal logging, dan pengguna air ilegal di kawasan karst itu,” ujar Nur.

Ditambahkan, manajemen PT Lafarge Holcim Indonesia harus menjaga dan melestarikan ekosistem 12 gua yang ada di sekitar pabrik semen itu sebagai sumber mata air. “Pemerintah Aceh juga segera merevisi Qanun RTRWA sebagai agenda bersama melindungi kawasan kars, demi menjaga sumber mata air di masa akan datan,” jelasnya.

Abdillah Imron Nasution menambahkan, anggapan masyarakat bahwa Mata Ie merupakan mata air periodik (tidak tergantung hujan) selama ini mulai terbantahkan. Ekosistem kawasan yang telah berubah membuat air hujan tidak tersimpan dalam potensi karst Mata Ie. Hal itu dibuktikan lewat pengecekan yang dilakukan Abdillah pada saat air semata kaki (31 Juli) dan saat air penuh (1 Agustus) di sumber air Mata Ie.

Abdillah mengambil sampel yang representatif di kolam intake dekat masjid, tepi kolam intake, kolam WTP, dan dalam gua Mata Ie. “Saya mengecek kadar pH, suhu, kekeruhan, bau, dan rasa air. Lalu saya bandingkan sampel air,” ujar dia.

Hasilnya, suhu, pH, kekeruhan, bau, dan rasa air gua mata ie sama. “Air hujan tersebut langsung keluar dari mata air dengan suhu dan pH sama. Artinya fungsi kawasan karst sebagai tempat penyimpan air terganggu,” jelasnya.(fit) (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id