Keistimewaan Bulan Zulkaidah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Keistimewaan Bulan Zulkaidah

Keistimewaan Bulan Zulkaidah
Foto Keistimewaan Bulan Zulkaidah

Oleh Luthfi Arongan

SAAT ini, kita berada dalam bulan Zulkaidah, yang oleh Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya sabagai “bulan haram” atau “bulan yang disucikan”, yakni bulan yang dijadikan oleh Allah sebagai bulan yang suci lagi diagungkan kehormatannya. Di mana di dalamnya amalan-amalan yang baik akan dilipatgandakan pahalanya sedangkan amalan-amalan yang buruk akan dilipatgandakan dosanya.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa “bulan yang disucikan” itu ada empat, yakni bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab. Bulan Zulkaidah mempunyai keistimewaan karena di dalamnya Allah Swt melarang manusia untuk berperang. Bulan Zulhijjah manusia mempersiapkan diri untuk melaksanakan ritual dan manasik haji. Bulan Muharram mereka kembali ke negeri mereka masing-masing. Dan, bulan pada Rajab orang dari berbagai pelosok negeri yang datang ke Baitullah kembali ke negerinya dalam keadaan aman, serta menjadi momentum bagi Nabi Muhammad saw berkomunikasi dengan Allah Swt untuk menerima perintah shalat (peristiwa Israk Mikraj).

Zulkaidah merupakan bulan ke-11 dalam penanggalan Islam. Secara bahasa Zulkaidah berarti “penguasa gencatan senjata”, karena pada saat itu bangsa Arab dilarang melakukan peperangan. Di antara keutamaan bulan Zulkaidah ialah termasuk di antara bulan-bulan haji, sebagaimana firman Allah Swt, “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji…” (QS. al-Baqarah: 197).

Menurut Ibnu Rajab, Rasulullah saw pernah melaksanakan umrah empat kali dalam bulan-bulan haji. Satu hikmahnya sebagaimana disebutkan bahwa ibadah umrah pada bulan-bulan haji setara dengan pahala haji di bulan-bulan haji. Keistimewaan lain Zulkaidah ialah bahwa masa 30 malam yang dijanjikan oleh Allah Swt kepada Nabi Musa as untuk bertemu dengan-Nya terjadi pada bulan Zulkaidah, sedangkan 10 malam sisanya terjadi pada bulan Zulhijjah.

Firman Allah Swt, “Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. al-A’raf: 142).

Bangsa Arab sangat menghormati bulan-bulan haram, baik di masa jahiliyah maupun di masa Islam, termasuk di antaranya bulan Zulkaidah. Di zaman jahiliyah, bulan Zulkaidah merupakan kesempatan untuk berdagang dan memamerkan syair-syair mereka. Mereka mengadakan pasar-pasar tertentu untuk menggelar pertunjukan syair, pamer kehormatan suku dan golongan, sambil berdagang di sekitar Mekkah, kemudian selanjutnya mereka melaksanakan ibadah haji. Bulan ini menjadi bulan aman bagi semuanya, satu sama lain tidak boleh saling mengganggu (Khazanatul Adab, 2/272).

Kita sebagai muslim yang telah mencukupi syarat untuk menunaikan ibadah haji, tentunya berkewajiban untuk melaksanakannya. Ibadah haji itu dilaksanakan pada bulan tertentu dan salah satunya pada bulan Zulkaidah. Saat ini, misalnya, kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia mulai berdatangan ke berdatangan ke Mekkah dan Madinah untuk melaksanakan ibadah haji.

Peristiwa penting dan bersejarah
Di antara peristiwa penting dan bersejarah pada bulan tersebut adalah umrah Rasulullah selalu dilaksanakan pada bulan Zulkaidah. Beliau melaksanakan umrah sebanyak empat kali yang bersamaan dengan hajinya, yaitu umrah Hudaibiyah (6 H), umrah Qada’ (7 H), umrah Jiranah (8 H), dan umrah dengan haji Wada’. Hal ini disebutkan bahwa dari Anas bin Malik ra, beliau mengatakan, “Nabi saw melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya di bulan Zulkaidah, kecuali umrah yang dilakukan bersama hajinya.” (HR. Al Bukhari).

Peristiwa yang tidak kalah pentingnya yang juga terjadi pada bulan Zulkaidah adalah ketika Rasulullah menunjukkan kepada para qabilah pada musim haji dan menemui mereka (tahun 11 kenabian) yang datang ke Mekkah dan Bani Khazraj di Aqabah, mereka masuk Islam dan ber-bai’at kepadanya, berjanji untuk setia dan senasib sepenanggungan dalam suka dan duka dan berjanji untuk menyeru kaumnya di Madinah. Pada bulan Zulkaidah ini pula terjadi perjanjian antara kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy yang disebut dengan perjanjian Hudaibiyah.

Pada bulan Zulkaidah ini, Rasulullah saw mengutus Musha’b bin Umair bersama Abdullah bin Ummu Maktum ke Madinah untuk mengajarkan Alquran di kota baru. Di samping itu juga dalam bulan Zulkaidah perang Bani Quraidzah dari suku Yahudi (5H). Perang ini terjadi setelah perang Khandaq, sebelum Rasulullah melepaskan baju perangnya. Juga pada bulan ini sosok Abu Musa al-Asya’ri, Muadz bin Jabal diutus ke Yaman (10H).

Secara singkat kejadian lainnya pada bulan Zulkaidah, yaitu peristiwa al-Farad (yakni perkemahan di Syam, Irak dan jazirah), pada saat itu pasukan Romawi dan Persia, suku-suku Tagleb, alat pelempar dan macan, mereka semua diserang oleh Khalid bin Walid dan mereka banyak mati terbunuh (12H/634). Muawiyah bin Abi Sufyan diangkat menjadi Khalifah pada Zulkaidah 37 H. Kemudian, perang Malazkard (26/8/1071 M), dimana kaum muslimin Saljuk di bawah pimpinan Alp Arselan berhasil merebut kota suci dari Kaisar Romanus. Di sinilah kemenangan kaum muslimin dengan menghapuskan kekuasaan Byzantium dan kemudian mendirikan kerajaan Islam di Asia kecil.

Kita mengetahui bahwa bulan Zulkaidah adalah awal bulan haji yang kemuliaannya disebutkan oleh Allah Swt dalam kitab-Nya yang mulia. Para ulama juga telah menyebutkan kelebihan bulan ke-11 ini dalam banyak karangannya. Satu di antara kelebihan tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Sayyid Ibnu Thawus, yang meriwayatkan bahwa bulan Zulkaidah adalah bulan diijabahnya doa, khususnya bagi orang yang sedang kesulitan.

Tentang keutamaan Zulkaidah, Rasullullah saw bersabda, “Barangsiapa yang melakukan shalat sunnah di dalamnya, maka taubatnya diterima, dosa-dosanya diampuni, musuh-musuhnya ridha pada hari Kiamat, matinya dalam keadaan beriman, agamanya tidak dicabut darinya, kuburnya diluaskan dan diterangkan, kedua orang tuanya diridhai dan dosa mereka diampuni oleh Allah, rizkinya diluaskan, sakrakatul mautnya dikasihi oleh Malaikat dan ruhnya dicabut dari jasadnya dengan mudah.”

Kita berharap bulan Zulkaidah yang sedang kita jalani ini, mampu kita isi dengan bermacam amal ibadah, di samping tidak lupa untuk berbenah diri demi menggapai insan kamil, yang mampu memberi kontribusi untuk agama, bangsa dan Negara ini menuju negeri baldatun tayyibatun warabbul ghafur. Amin.

* Tgk. Luthfi Arongan (Ayah Panti), Pimpinan Dayah Harapan Ummat Arongan, Bireuen. Alumnus PPs IAIN Malikussaleh Lhokseumawe. Email: [email protected] (uri/evo/stuti/RA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id