Nelayan ‘Berebut’ Solar di SPBU | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Nelayan ‘Berebut’ Solar di SPBU

Nelayan ‘Berebut’ Solar di SPBU
Foto Nelayan ‘Berebut’ Solar di SPBU

* Ekses Pompa SPDN Masih Tutup

BLANGPIDIE – Stasiun Solar Packed Dealer Nelayan (SPDN) di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Ujung Serangga, Kecamatan Susoh, Aceh Barat Daya (Abdya) yang rusak mesin pompa sejak Juni lalu sampai Rabu (2/8) belum beroperasi. Akibatnya, nelayan di kawasan itu setiap hari harus antre berjam-jam untuk membeli solar di Stasiun Pengisihan Bahan Bakar Umum (SPBU) Pante Perak, kecamatan yang sama. Bahkan, tak jarang mereka harus ‘berebut’ solar dengan pengguna kendaraan terutama pengemudi damtruk dan truk barang hingga sering memicu ketegangan.

Amatan Serambi, di Abdya solar juga sulit diperoleh karena krisis BBM jenis tersebut pada SPBU-SPBU di kabupaten itu belum teratasi. Akibatnya, stok solar di SPBU Pante Perak habis hampir setiap hari. Saat solar dipasok dengan mobil tanki dari Depo Pertamina Meulaboh, langsung terlihat antrean panjang kendaraan dan nelayan yang membawa jeriken.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Abdya, Mukhlis MD yang dihubungi Serambi, Rabu (2/8) menjelaskan, SPDN Susoh yang dikelola Koperasi Rehabilitation & Empowerment for Fisherman Community of Aceh (Refca) tersebut selama ini melayani kebutuhan solar untuk 89 boat ukuran 30 GT ke bawah.

Untuk mengantisipasi kerusakan mesin pompa SPDN itu, menurut Mukhlis, pihaknya kemudian mengajukan surat ke Pertamina meminta agar solar jatah SPDN PPI Ujung Serangga untuk sementara waktu dialihkan ke SPBU Pante Perak. Setelah disetujui, lanjutnya, nelayan membeli solar bersubsidi di SPBU Pante Perak dengan membawa rekomendasi dari DKP Abdya.

“Berdasarkan rapat koordinasi dengan pihak terkait disepakati bahwa nelayan yang membeli solar bersubsidi di SPBU Pante Perak harus ada rekomendasi dari DKP Abdya dan hanya untuk boat 30 GT ke bawah. Tanpa rekomendasi dan boat di atas 30 GT, pengelola SPBU harus menolak,” tegas Mukhlis MD.

Sehubungan terjadinya kerusakan mesin pompa SPDN Ujong Serangga, menurut Mukhlis, tim Pertamina Banda Aceh sudah turun ke lokasi sekitar sepekan lalu. “Dalam pertemuan dengan kami, tim Pertamina berjanji segera mengirim surat teguran ke pengelola SPDN Ujong Serangga. Bila tak beroperasi dalam sebulan ke depan, pengelolaan SPDN itu dialihkan ke pihak lain,” tegasnya.

Ia tak tahu apakah surat teguran itu sudah dikirim Pertamina ke Koperasi Refca selaku pengelola SPDN tersebut atau belum. “Yang jelas, sampai hari ini (kemarin-red), SPDN di PPI Ujung Serangga belum beroperasi,” pungkasnya.

Ketua Koperasi Refca, Ermisal menjelaskan, kerusakan mesin pompa SPDN Ujung Serangga sangat parah sehingga tak bisa diperbaiki, tapi harus diganti baru. “Mesin pompa yang baru sudah kita beli 145 juta rupiah. Teknisi dari perusahaan pompa segera memasang mesin pompa itu. Insya Allah, awal pekan depan SPDN sudah beroperasi kembali,” janji Ermisal.

Ia juga mengakui sudah menerima surat teguran dari Pertamina yang memberi jangka waktu penanganan kerusakan mesin pompa itu sekitar sebulan atau 3-31 Agustus ini. “Insyal Allah target yang diberikan Pertamina bisa kita penuhi, malah awal pekan depan SPDN sudah beroperasi kembali,” ulangnya.

Dikatakan, kuota solar untuk SPDN Ujung Serangga 80 ton per bulan atau lima mobil tanki isi 16.000 liter. SPDN ini, sebutnya, hanya melayani kebutuhan solar bersubsidi untuk 89 boat ikan skala 30 GT ke bawah yang beroperasi di perairan Susoh.

Menurut catatan Serambi, SPDN itu adalah bantuan Kementerian Perikanan dan Kelautan RI. Setelah diresmikan pada September 2013, pengelolaannya dipercayakan kepada Koperasi Refca.

Izin pembelian solar bersubsidi di Aceh Barat mulai diperketat. Untuk nelayan, saat membeli solar sekarang harus melampirkan rekomendasi dari Panglima Laot. “Kalau tidak, tak akan dilayani,” kata Pj Panglima Laot Lhok Padang Seurahet, Amran, kepada wartawan, Rabu (2/8).

Langkah itu diambil menyusul terjadinya kelangkaan solar bersubsidi seperti dikeluhkan nelayan dan masyarakat kabupaten itu selama ini. “Aturan ini baru kita terapkan. Selama ini hanya rekom dari DKP. Kami tentu tahu mana nelayan dan mana yang bukan,” ungkap Amran di sela-sela inspeksi anggota DPRA, T Iskandar Daod ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Diesel Nelayan (SPDN) Padang Seurahet, Aceh Barata, kemarin.

Selama ini, menurutnya, panglima laot tidak pernah dilibatkan dalam pengawasan solar subsidi. Sehingga, lanjut Amran, pihaknya tak tahu apakah solar subsidi jatah nelayan benar digunakan oleh nelayan atau tidak. Namun, ke depan akan diawasi ketat, termasuk laporan bahwa SPDN yang selama ini dipasok 8 ton per hari akan ditambah 8 ton lagi. “Bila tidak terlayani di SPDN, tentu akan dikeluarkan rekom untuk dibeli di SPBU,” ujarnya.

Iskandar Daod menilai itu adalah langkag tepat untuk mengatasi kelangkaan solar subsidi. “Dengan harus adanya rekom dari Panglima Laot, ke depan nelayan yang membeli solar subsidi akan lebih terawasi. Demikian juga kepada SKPK terkait dalam memberikan rekomendasi harus diteliti dulu, sehingga solar subsidi jatah masyarakat tepat sasaran,” ungkap Iskandar didampingi Kabid Alat Tangkap DKP Aceh Barat, T Syamsuar.

Ia juga mendukung langkah polisi yang mengusut sampai tuntas kasus kelangkaan solar subsidi di Aceh Barat. Jika ada oknum atau pihak tertentu yang terbukti melakukan tindakan kriminal dalam kasus tersebut, menurutnya, harus ditangkap.

Kapolres Aceh Barat, AKBP Teguh Priyambodo Nugroho, kepada Serambi, kemarin mengatakan kasus kelangkaan solar subsidi masih didalami pihaknya untuk memastikan apakah terjadi penyimpangan atau tidak. “Kami juga sudah tempatkan dua personel di setiap SPBU. Kalau ada penyimpangan, akan ditindak,” tegasnya.

Seperti diberikan sebelumnya, dalam dua pekan terakhir solar subsidi langka di Aceh Barat. Kondisi tersebut dikeluhkan nelayan dan sopir angkutan umum.(nun/riz) (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id