Mengurus Pariwisata, Dari Toilet Sampai ke Sikap | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mengurus Pariwisata, Dari Toilet Sampai ke Sikap

Mengurus Pariwisata, Dari Toilet Sampai ke Sikap
Foto Mengurus Pariwisata, Dari Toilet Sampai ke Sikap

Pemerintah Aceh selama ini dinilai tidak fokus mengurusi sektor pariwisata yang seharusnya menjadi tulang punggung pendapatan daerah paling potensial. Hal itu dibuktikan dengan sejumlah persoalan yang masih membelit sektor pariwisata di Aceh, seperti kurangnya fasilitas umum di lokasi wisata, minimnya promosi, hingga isu syariat Islam yang sengaja dibenturkan.

“Ke depannnya kita akan mendorong Pemerintah Aceh agar fokus, fokus mengurusi dan fokus wisata mana yang ingin dijual,” kata anggota Komisi X DPR RI asal Aceh, Teuku Riefky Harsya.

Menurut Riefky, yang bersama Muslim SH juga anggota Komisi X asal Aceh baru-baru ini mengunjungi sejumlah objek wisata, Aceh memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan nusantara dan mancanegara. Oleh sebab itu, ke depan, Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah dianjurkan membuat program-program khusus untuk menggenjot sektor ini.

Sebab, kini pemerintah sedang mengupayakan penghasilan dari sektor wisata menjadi penghasilan nomor satu. “Nah, Aceh punya itu, Aceh memiliki segalanya. Maka, sektor ini harus segera dikembangkan,” kata Riefky.

Di antara banyak persoalan yang melingkupi pengelolaan lokasi wisata di Aceh, salah satunya adalah ketersediaan MCK (mandi, cuci, kakus). Dan, toilet itu bukan hanya dibangun, tapi juga harus dijaga kebersihannya dan ketersediaan airnya. Jangan sampai toilatnya ada, tapi airnya nggak ada. Ini jangan terjadi.

“Saat ini tidak ada lagi yang bisa dijual dari Aceh selain wisata, budaya, dan religiusnya. Oleh sebab itu, sektor pariwisata ini harus dibungkus sedemikian rupa sehingga orang-orang dari seluruh pelosok nusantara dan mancanegara terpikat untuk terus datang ke Aceh. Nah, kita juga harus siap dari segi infrastrukturnya, maka ini kita dorong,” tandas Muslim.

Ya, kita setuju sektor pariwisata Acweh harus lebih dikembangkan lagi hingga menjadi primadona rupiah. Namun, mengembangkan sektor ini juga tidak mudah. Apalagi bagi Aceh yang memiliki sejumlah rambu-rambu “kekhususan”.

Secara umum, sebuah hasil riset menyebutkan, ada beberapa kendala dalam pengembangan pariwisata. Antara lain, pertama, sering timbulnya konflik sosial serta situasi politik yang kurang kondusif. Banyak rencana pengembangan yang gagal karena kurang mendapat dukungan dari masyarakat. Kedua, rendahnya mutu pelayanan dari para penyelenggara pariwisata serta kurangnya pemahaman terhadap pentingnya pelindungan konsumen.

Ketiga, sistem dan moda transportasi belum memadai, terutama pada musim-musim liburan. Dan, keempat, pengelolaan pariwisata karena instruksi pemerintah, termasuk kendala pengembangannya. Selama ini, banyak destinasi wisata yang tidak dikembangkan karena berbagai keterbatasan pemerintah. Sedangkan pihak swasta banyak yang belum berani menanam modal secara serius ke sektor ini di Aceh.

Jadi dalam rangka fokus pengembangan pariwisata di Aceh, keempat kendala itu hendaknya diperhatikan. Singkatnya, masyarakat hendaknya menjadi bagian penyelenggara kepariwisataan dan pemerintah harus berhasil membujuk swasta untuk menanam modal ke sektor ini. (uri/itri/elmeizar/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id