Dana Baitul Asyi Dibagikan Sekembali Jamaah ke Aceh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Dana Baitul Asyi Dibagikan Sekembali Jamaah ke Aceh

Dana Baitul Asyi Dibagikan Sekembali Jamaah ke Aceh
Foto Dana Baitul Asyi Dibagikan Sekembali Jamaah ke Aceh

BANDA ACEH – Dana kompensasi pemondokan Baitul Asyi, khusus untuk jamaah haji Aceh, biasanya dibagikan di Arab Saudi. Tapi, pada musim haji tahun ini Pemerintah Aceh mewacanakan dana tersebut dibagikan ketika jamaah haji Aceh sudah tiba kembali ke Tanah Air.

Hal itu disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Aceh, Drs M Daud Pakeh, dalam konferensi pers persiapan keberangkatan jamaah calon haji (JCH) Aceh yang berlangsung di Aula Arafah Asrama Haji Banda Aceh, Selasa (1/8).

“Uang Baitul Asyi sudah diberikan ke jamaah haji Aceh sejak 2006. Setiap tahunnya diberikan di Arab Saudi sebesar 1.200 riyal. Tahun ini kita belum bisa sebutkan angkanya berapa, karena Arab Saudi sedang meminta data jamaah kita. Ketika uang itu diserahkan ke jamaah haji Aceh di Arab Saudi, maka uang itu beredar di Arab Saudi karena dibelanjakan untuk membeli oleh-oleh,” kata Daud Pakeh.

Menurutnya, jamaah tanpa sadar membelanjakan uang tersebut membeli berbagai barang untuk dibawa pulang ke Tanah Air, sehingga terkendala dengan penerbangan yang membatasi jumlah barang bawaan. Akibatnya, barang-barang tersebut akan tertinggal dan sia-sia.

“Harapan kita jamaah yang menerima kompensasi dana Baitul Asyi berdoa untuk Habib Bugak Asyi, karena jamaah mendapatkan rahmat dari wakaf dana tersebut,” katanya.

Daud Pakeh menambahkan, pihaknya akan meminta nazir (pihak yang menerima harta benda wakaf dari wakif untuk dikelola dan dikembangkan) agar menyiapkan cek untuk tiap jamaah haji Aceh. “Nantinya cek itu ditukarkan di Aceh, sehingga uang tersebut beredar di Aceh dan membawa kemakmuran kepada rakyat Aceh. Namun, hal ini belum final, sedang kita usahakan,” ujar Daud Pakeh yang juga Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Aceh.

Selain itu, Daud Pakeh menyampaikan bahwa pada musim haji tahun ini JCH akan menerima gelang barcode yang memuat semua data dan informasi tentang jamaah. Sebelumnya, jamaah sudah mendapatkan gelang stainless steel sebagai identitas dari Kementerian Agama, gelang kesehatan dari Kementerian Kesehatan, dan gelang maktab yang dibagi saat di Armina. Maka pada tahun ini, akan ditambah satu gelang lagi yaitu gelang barcode.

Dikatakan, gelang barcode merupakan kebijakan baru dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi. Wajib dipakai jamaah haji sejak akan berangkat. Masing-masing jamaah akan menerima gelang barcode saat berada di Embarkasi Asrama Haji menjelang keberangkatan. Penggunaan gelang ini terkait dengan kebijakan Pemerintah Arab Saudi sebagai tindak lanjut kebijakan e-hajj.

Sementara itu, JCH Aceh kelompok terbang (kloter) 1 yang berasal dari Nagan Raya, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Aceh Singkil, Subulussalam, dan Banda Aceh, kata Daud Pakeh, akan masuk ke Asrama Haji Banda Aceh pada Selasa (15/8) pukul 12.00 WIB. Kloter ini akan bertolak ke Tanah Suci pada Rabu (16/8) pukul 12.15 WIB melalui Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Aceh Besar. Selanjutnya, terus diikuti oleh kloter lainnya.

Pada musim haji tahun ini, pihak Unit Pelaksana Teknis (UPT) Asrama Haji Embarkasi Aceh juga menyiapkan handuk untuk setiap jamaah. Jadi, jamaah tak perlu mengeluarkan handuk yang sudah dibawanya, karena sudah disediakan pihak asrama.

General Manager Garuda Indonesia Banda Aceh, Sugiyono yang hadir dalam konferensi pers itu menyebutkan sejumlah barang yang tak boleh dibawa oleh JCH ke dalam pesawat, yakni benda yang mengandung magnet, radioaktif, cairan yang mudah terbakar, bensin, minyak tanah, benda padat yang mudah terbakar. Seperti korek api, mancis, dan tabung pemadam kebakaran.

“Barang-barang itu tak boleh dibawa, demi keselamatan semuanya. Sedangkan barang-barang yang boleh dibawa adalah gunting, alat cukur, tapi harus diletakkan dalam tas besar, bukan ditenteng ke dalam pesawat,” katanya.

Kakanwil Kemenag Aceh juga menyatakan, JCH yang sudah terbiasa menggunakan obat-obat yang dikonsumsinya selama ini, maka obat tersebut harus didaftar lebih dulu dan ditandatangani oleh dokter di Asrama Haji. “Tanpa didaftar di Asrama Haji dan rekomendasi dari dokter, maka obat itu tak bisa dibawa,” pungkasnya.

Konferensi pers ini juga dihadiri General Manager Bandara SIM, Yos Suwagiyono, Karo Tata Pemerintahan Aceh, Frans Deliian, Anggota DPRA, Ummi Kalsum, Kabid Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Aceh, Abrar Zym, Imigrasi, serta Kantor Kesehatan Pelabuhan Banda Aceh. (una) (uri/evo/stuti/RA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id