MRT Lebih Ramah Disabilitas dan Anak | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

MRT Lebih Ramah Disabilitas dan Anak

MRT Lebih Ramah Disabilitas dan Anak
Foto MRT Lebih Ramah Disabilitas dan Anak

OLEH MASYITAH RIVANI, Koresponden Serambi Indonesia, melaporkan dari Kajang, Selangor, Malaysia

TIGA hari lalu saya dan suami mencoba transportasi publik terbaru megaproyek negeri jiran Malaysia, yakni Mass Rapid Transport (MRT). MRT suatu terobosan terbaru bagi negara ini, jalurnya mengangkasa di antara blok-blok apartment yang monoton di pinggiran kota, didesain untuk menghubungkan seluruh penjuru wilayahnya, dari pelosok negeri ini ke pusat-pusat ibu kota (bandaraya) seperti KL Sentral, Bukit Bintang, dan Pasar Seni.

Transportasi publik yang berada di Malaysia memang sedari dulu terkenal dengan transportasi yang nyaman untuk masyarakat lokal dan wisatawan, tak terkecuali bagi mereka penyandang disabilitas atau di sini terkenal dengan ungkapan Orang Kurang Upaya (OKU).

Begitu juga halnya dengan MRT juga memberikan nilai lebih, untuk sebuah kenyamanan dan sangat ramah disabilitas. Hal ini terlihat jelas dari area parkir di stasiunnya sudah tersedia khusus untuk OKU, berbeda dengan stasiun Kereta Tanah Melayu (KTM) Komuter, Light Rail Transit (LRT) sebelumnya yang mungkin tidak semua stasiunnya memadai akan fasilitas tersebut.

Stasiun MRT sangat megah dan mewah untuk sekelas stasiun kereta api. Begitu dari parkir untuk menuju tempat membeli tiket dan ruang tunggu MRT sudah tersedia khusus lift untuk orang kurang upaya. Bukan itu saja, apabila sedang menunggu kereta api berangkat dan tiba-tiba hendak buang hajat atau buang air kecil stasiun MRT juga menyediakan kamar mandi/toilet khusus bagi OKU ini.

Di dalam kereta tanpa awak (driverless) ini pun terdapat tempat duduk khusus bagi OKU dan terdapat peringatan keras bagi penumpang lainnya untuk lebih mendahulukan mereka yang membutuhkan.

MRT Sungai Buloh-Kajang atau MRT SBK ini juga menyediakan bangku lebih banyak, disusun memanjang saling berhadapan, dengan area tengah yang dikhususkan untuk penumpang berdiri yang lebih luas, sehingga mudah bagi penyandang disabilitas masuk dengan membawa serta kursi roda atau alat bantu lainnya mereka.

Apalagi MRT ini menyediakan empat gerbong (couch). Jadi, mudah bagi mereka untuk memilih duduk di gerbong 1 atau gerbong nomor 4.

Jangan heran, jika melihat penumpang di sini yang mungkin saja sudah duluan naik ataupun naik bersamaan dengan penyandang disabilitas, mereka seperti dikomando berlomba-lomba menawarkan bangku kosong untuk si penyandang disabilitas. Masyarakat di sini sudah terbiasa untuk mendahulukan orang yang lebih membutuhkan daripada mempertahankan keinginan sendiri. Malu rasanya hati mereka melihat orang yang berkekurangan berdiri sementara mereka yang sempurna duduk manis di bangku. Terbayang kan, betapa mudahnya para penyandang disabilitas di negeri ini untuk mengakses transportasi publik sekelas kendaraan pribadi ini meski tanpa ditemani sanak famili? Sebuah harga mahal yang masih sulit kita dapati di negeri kita ini.

Selain ramah disabilitas, MRT juga sangat ramah anak, bahkan bayi sekalipun, juga untuk “warga emas” atau penumpang yang sudah berusia 60 tahun ke atas. “Merokok, makan, dan minum adalah dilarang di dalam tren dan stesen,” begitu kira-kira suara yang diserukan melalui pengeras suara oleh petugas dan juga ditempelkan di tiap-tiap gerbong tren (kereta).

Dengan pengumuman seperti itu, maka dapat dilihat betapa bersih dan bebasnya kereta api MRT ini dari asap dan puntung rokok. Jadi, tak perlu khawatir untuk membawa bayi naik moda transportasi ini sebab terjamin kebersihan atau higienitasnya. Karena gerbong MRT yang luas, maka si ibu yang membawa bayi dan juga kereta dorong bayi tak perlu khawatir membawanya tanpa mengganggu penumpang lainnya.

Kenyamanan MRT untuk bayi atau anak pun bisa dirasakan lebih di MRT dibandingkan LRT, sebab desain mesin MRT terdengar lebih halus dibandingkan dengan deru mesin LRT yang mungkin sedikit membuat bayi shock atau ketakutan dan membuat tangisnya pecah karena kebisingannya. Padahal, lajunya sangat kencang membentang di angkasa menembus perut bumi. Tapi karena fasilitas pendukung lainnya seperti AC, kaca jendela yang jernih dan lebar yang dapat kita manfaatkan untuk menikmati pemandangan kota ini, serta informasi stasiun selanjutnya yang dapat kita dengar dari pelantang suara atau peta jaringan dalam bentuk digital ini, membuat kita sungguh merasa nyaman menggunakan transportasi publik seperti MRT ini.

Tak hanya mewujudkan megaproyek ini, demi menjaga keberlangsungan MRT ini Kerajaan Malaysia melalui sistem pengawasannya sangat mengantisipasi dan murka terhadap praktik-praktik vandalisme (perbuatan yang merusak sebuah karya) sejak diluncurkan Desember lalu hingga sekarang kerajaan masih menggembar-gemborkan bahwa mengharamkan praktik vandalism.

Sejatinya, masyarakat Aceh terdahulu juga pernah memiliki pengalaman indah saat melakukan perjalanan dengan kereta api. Karena pada hakikatnya kereta api itu bukan barang baru untuk provinsi yang kaya sumber daya alam dan dana otsus ini. Semoga mimpi pemerintah pusat dan daerah untuk mereinkernasi kereta api antarlintas provinsi segera terwujud. Tentunya dengan teknologi yang lebih canggih. Semoga.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@URI.co.id (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id