Pengemis Menjamur di Bireuen | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pengemis Menjamur di Bireuen

Pengemis Menjamur di Bireuen
Foto Pengemis Menjamur di Bireuen

BIREUEN – Keberadaan para pengemis yang beroperasi di berbagai sudut Kota Bireuen mulai menganggu kenyamanan dan keamanan masyarakat. Warga Bireuen pun meminta dinas terkait untuk segera turun tangan menertibkan peminta-minta tersebut.

Hal itu dikatakan salah seorang warga Bireuen, Bachtiar kepada Serambi, Minggu (30/7) malam. Dikatakannya, saat ini cukup banyak gepeng (gelandang dan pengemis) bersileweran di pusat-pusat pasar dan persimpangan jalan. Kehadiran pengemis yang mayoritas berasal dari luar Kabupaten Bireuen itu, dirasa Bachtiar, sudah mulai menganggu kenyamanan dan keamanan warga.

Sebab, jelasnya, para pengemis itu beroperasi bukan saja dari satu pintu ke pintu yang lain, tapi pada jam-jam tertentu mereka juga menadahkan tangan meminta-minta di sekitar traffic light simpang empat Bireuen. “Selain menganggu penguna jalan, mengemis di jalan raya tentu juga dapat mengancam keselamatan jiwa pengemis itu sendiri,” jelasnya.

Hal senada juga dikatakan Nuraini, warga Bandar Bireuen, Kecamatan Kota Juang. Dia mengungkapkan, banyak pengemis yang menggunakan modus untuk mengharapkan rasa iba dan belas kasih warga agar mereka diberi sejumlah uang. Modus yang paling sering dilakukan, bebernya, adalah dengan membawa anak di bawah umur. “Tujuannya tidak lain adalah agar orang merasa iba menglihatnya, dan mengulurkan tangan dengan memberikan uang kepada mereka,” katanya.

Nuraini memberi contoh, seorang pengemis wanita paruh baya yang setiap malam selalu mangkal di salah satu mini market di Jalan T Hamzah Bendahara. Saat beroperasi, pengemis itu selalu bersama beberapa anaknya yang masih di bawah umur. Pakaian mereka yang dekil dan wajah yang kusam tentu menimbulkan rasa kasihan para warga yang keluar masuk dari mini market tersebut.

“Fenomena ini sangat memilukan. Karena, setiap orang yang memiliki nurani tentu akan iba melihatnya, akhirnya banyak orang mengulurkan tangan dengan memberikan uang kepada mereka,” paparnya. “Di sisi lain, mengajak anak untuk mengemis juga termasuk satu bentuk eksploitasi anak yang harus ditindak cepat,” tandasnya.

Pantauan Serambi di lapangan, di salah satu mini market di Jalan T Hamzah Bendahara, Bireuen, memang terlihat seorang pengemis wanita paruh baya yang duduk di emperan toko untuk mengharapkan belas kasih orang. Di samping pengemis tersebut, tampak anaknya yang masih di bawah umur tidur terlelap di emperan mini market itu.

Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Kabupaten Bireuen, Drs Murdani menjelaskan, pada prinsipnya dinas sosial secara berkala tetap melakukan penertiban dan razia terhadap para pengemis di Kota Juang itu. Penertiban itu, ujarnya, bertujuan agar tercipta ketertiban dan keamanan di masyarakat, serta tidak mengganggu kenyaman masyarakat dalam beraktivitas. “Terhadap para pengemis yang terjaring dalam razia, secara manusiawi kita beri peringatan dan kita kembalikan ke desanya masing-masing,” terangnya.

Namun demikian, ucap Murdani, para peminta-minta ini tetap bermunculan lagi, dan sepertinya mengemis sudah menjadi mata pencaharian yang menjanjikan bagi mereka. “Kota Bireuen memang menjadi magnet tersendiri bagi para pengemis dari luar daerah untuk meraup keuntungan,” ucap Murdani.

Terkait modus mengemis dengan membawa anak di bawah umur, Murdani menjelaskan, disaat dilakukan razia, terutama di Simpang Empat Bireuen, tidak ditemukan pengemis yang membawa anaknya yang dapat membahayakan dia dan pengguna jalan. “Namun demikian, untuk mencegah dan mengantisipasi maraknya para pengemis, kita akan melakukan pengawasan secara berkala,” katanya.

Murdani mengimbau kepada masyarakat agar tidak memberi uang kepada pengemis. Jika ingin bersedekah atau memberikan sebagian hartanya kepada orang kurang mampu, Murdani menganjurkan, untuk diserahkan lewat lembaga resmi, agar angka pengemis di Bireuen bisa ditekan.

“Kami mengimbau agar berdonasi kepada lembaga resmi. Jangan di jalan, karena semakin banyak yang berdonasi di jalan, akan semakin banyak pengemis di jalanan. Secara kasat mata, siapa pun kerap merasa iba saat melihat pengemis, namun demikian masyarakat jangan memberikan uang kepada mereka,” tegas Murdani.(c38) (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id