Menakar Peran KNPI Aceh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Menakar Peran KNPI Aceh

Menakar Peran KNPI Aceh
Foto Menakar Peran KNPI Aceh

Oleh Mustafa Ibrahim

KOMITE Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh, menggelar Musda ke-13 yang berlangsung pada 29-31 Juli 2017. Sejumlah kandidat muncul dan siap bertarung merebut kursi Ketua DPD KNPI Aceh untuk periode tiga tahun ke depan (2017-2020). Mereka adalah Khalid, Muhammad Fadil Rahmi, Wahyu Saputra, dan Zulfan Efendi.

Keempat kandidat tersebut adalah anak-anak muda hebat di bidangnya, sehingga “pertarungan” akan menjadi ketat. Tinggal lagi bagaimana masing-masing kandidat mengadu strategi dan trik untuk mendapatkan simpati peserta Musda, sehingga menjatuhkan pilihan mereka.

Berbicara KNPI selalu menarik. Pertama, ada imej bahwa menjadi ketua KNPI, bahkan masuk hanya menjadi pengurus saja, suatu kebanggaan dan prestise tersendiri bagi anak muda.

Kedua, anggapan bila menjadi pengurus KNPI akan memiliki jaringan dan relasi yang luas. Baik di level kabupaten, provinis maunpun level nasional. Menjadi pengurus KNPI berarti akan banyak bertemu para tokoh-tokoh, pejabat-pejabat, orang-orang penting dan berpeluang dilibatkan dalam setiap agenda kepemerintahan.

Kesempatan berkarier
Menjadi pengurus KNPI juga menjadi jalan bagi seseorang untuk memperluas kesempatan berkarier. Bila dia aparatur pemerintahan, akan jadi “batu loncatan” mendapat posisi penting. Begitu juga bila bercita-cita menjadi anggota dewan. Anggapan ini bukan tidak beralasan, karena banyak tokoh yang sebelumnya sebagai ketua KNPI, mendapat posisi penting baik di lembaga eksikutif maupun legislatif. Sebut saja, Sulaiman Abda yang akrab disapa Bang Leman, saat ini sebagai Wakil Ketua DPRA. Begitu juga Ahmad Humam Hamid, Syahrul Badruddin dan lain-lain yang pernah jadi ketua KNPI Aceh.

Tentu saja, keberhasilan dalam kariri para tokoh “alumni” KNPI, bukan hal yang salah. Justru suatu yang positif. Karena satu peran organisasi kepemudaaan itu dapat memperjuangakan aspirasi kaum muda sesuai dengan profesinya, baik di lembaga politik, aparat pemerintahan maupun di lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan.

Fungsi dan peran pemuda semacam itu sebagaimana tujuan wadah KNPI itu sendiri. Secara sosilogis pemuda merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki sifat progresif, kritis, idealis. Secara historis memosisikan dirinya sebagai sparing partner pemerintah, mengontrol dan mengkritisi kebijakan pemerintah yang menyimpang dan tidak memihak kepada rakyat.

Tampaknya inilah yang harus menjadi entry point bagi organisasi KNPI untuk mempertegaskan kembali, sehingga dalam setiap reorganisasi seperti Musda, dapat melahirkan program yang komprehensif serta lahirnya sosok pemimpin berkualitas dan memiliki komitmen atas fungsi dan peran KNPI, mampu memainkan peran strategis dalam memperjuangkan pemberdayaan pemuda dan masyarakat untuk mengusung kemajuan.

Pentingnya menakar ulang fungsi dan peran KNPI Aceh, mengingat banyak harapan masyarakat disematkan. Di samping banyak terhadap organisasi kepemudaan itu ibarat “menara gading” yang tampak hebat tapi tidak memberi manfaat bagi masyarakat, terutama rakyat kecil, miskin dan tertindas.

Pentingnya menakar ulang atas keberadaan KNPI dalam momentum Musda. Dimaksudkan, menampik atas anggapan bahwa organisasi itu hanya sebagai corong rezim berkuasa, alat mobilitas vertikal untuk jabatan politik atau menjadi lahan penghidupan yang mengatasnamakan kaum muda. Dikuatkan lagi berafiliasinya KNPI dengan parpol yang pada akhirnya membuat KNPI mulai kehilangan independensinya, serta terkebirinya nilai kejuangan kaum muda. Setidaknya KNPI harus menunjukan dan membuktikan eksistensi dan perannya, bukan hanya pada kegiatan berupa lips service, tetapi sesuatu yang memang menjadi harapan yang ditumpukan pada KNPI.

Satu catatan penting buat siapa yang terpilih sebagai Ketua DPD KNPI Aceh, adalah harus menitik-beratkan perhatiannya pada pengentasan pengangguran yang notabene didominasi kaum muda. Sebagai ketua yang disematkan harapan para pemuda, memiliki tanggung jawab moral dan tanggung jawab sosial untuk memperjuangkan nasib para pemuda Aceh.

Sebagai referensi, bahwa hasil BPS Aceh menunjukkan angka penganguran saat ini di Aceh sangat besar yang didominasi kaum muda. Tercatat, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Aceh pada 2016 mencapai 7,57% dari jumlah angkatan kerja. Angka tersebut dapat dimaknai 75 dari seribu orang angkatan kerja di Aceh masih menganggur. Pemuda sebagai elemen masyarakat dengan kebutuhan sangat tingi harus diimbangi tingkat pendapatan yang sesuai. Di sinilah pentingnya pemuda mempunyai lapangan kerja yang layak, yaitu pendapatannya sesuai upah minimum provinsi (UMP).

KNPI Aceh harus mampu menjadi konsultan dan mitra strategis bagi Pemerintah Aceh dalam mengembang dan membina potensi kepemudaan dan kebijakan kebijakan terkait kepemudaan lainya. Karenanya kompetensi pengurus menjadi sangat menentukan. Kecuali itu, sebagai orang yang diberi amanah, harus totalitas dan “mewakafkan” dirinya untuk organisasi untuk menjalankan program dan misi KNPI.

Menjadi pengurus KNPI bukan untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas pemerintah. Atau sekadar gagah-gagahan, jadi pendamping pejabat pada acara serimoni, atau jadi teman ngopi orang-orang terkenal, lalu berfoto ria untuk disebar di media sosial. Ada banyak tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan. Selain ikut membangun dan mengembangkan potensi pemuda Aceh, satu peran yang sangat mendesak adalah ikut mencegah “penyakit sosial” yang saat ini sedang menjangkiti kaum muda Aceh, yaitu narkoba dan pengangguran.

Semangat wirausaha
Saatnya program-program KNPI ke depan diarahkan untuk menumbuhkan dan membina semangat wirausaha bagi pemuda-pemudi Aceh. Tidak salah kalau kita menyebut contoh pemuda yang sukses sepertii Edi Fadhil, seorang anak muda Aceh yang menginspirasi melalui gerakan Cet Langet-nya, telah berhasil membangun ratusan unit rumah untuk kaum dhuafa. Atau sosok Jamaludin M Jamil ST (Ketua KNPI Aceh saat ini) dengan program wirausaha yang digagasnya.

Selama ini, minat para pemuda di duania usaha sangat sedikit. Mereka lebih memilih menjadi perkerja dan menunggu pekerjaan menghampirinya. bahkan hanya mengharap menjadi PNS. Padahal menjadi PNS di era sekarang semakin sulit dengan persaingan dan kuota yang terbatas. Karenanya, mindset dan mental pekerja ini harus diubah melalui training-training kewirausahaan. Inilah alasan penting sebaiknya kepengurusan ke depan diisi oleh mereka yang telah berhasil di dunia usaha.

Melalui perhelatan Musda XIII KNPI Aceh menjadi momentum untuk membangun kemandirian pemuda dan tidak terkooptasi oleh kepentingan manapun. Keberadaan KNPI harus dapat menjadi pusat informasi kepemudaan dan wadah tukar gagasan pemuda dalam dalam ikut memberi solusi kebangsaan. Harus mampu menjadi mediator dan fasilitator pengembangan kreatifitas kaum muda.

Kita saat ini sangat mendambakan generasi baru yang memiliki kualitas dan moralitas yang dapat mengembalikan kejayaan daerah dan bangsa kita. Di pundak KNPI sekarang memanggul amanat besar tersebut. Jangan sampai kaum muda Aceh seperti dikatakan Pramoedya Ananta Toer. “Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak, karena fungsi hidupnya hanya beternak diri”. Selamat bermusyawarah!

* Mustafa Ibrahim, pegawai BPS Pidie, pengkhidmat sosial dan kemasyarakatan. Email: [email protected] (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id