Manfaatkan Momentum Program Listrik Nasional | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Manfaatkan Momentum Program Listrik Nasional

Foto Manfaatkan Momentum Program Listrik Nasional

BANDA ACEH – Pengamat ekonomi dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Rustam Effendi MEcon mengakui, krisis energi, termasuk energi listrik, merupakan persoalan nasional. Itu sebab, keputusan-keputusan yang diambil di tingkat nasional punya dampak terhadap Aceh, khususnya terkait dengan ketersediaan energi listrik.

Untuk mengatasi krisis listrik, saat ini Pemerintah Joko Widodo sedang menggarap proyek penyediaan listrik nasional 35.000 Megawatt dalam jangka waktu lima tahun (2014-2019). Dalam rentang waktu tersebut, kata Rustam, pemerintah bersama swasta akan membangun 109 pembangkit.

“Nah, Pemerintah Aceh bisa memanfaatkan momentum ini dengan mempertanyakan sejauh mana realisasi proyek-proyek tersebut yang ada hubungannya dengan pasokan listrik untuk Aceh. Apakah ada hambatan atau lancar-lancar saja,” kata Rustam kepada Serambi, Jumat (18/3), menanggapi liputan eksklusif koran ini berjudul “Menyoal Janji PLN” yang dipublikasi kemarin.

Matinya listrik, lanjut Rustam, sangat mengganggu aktivitas rumah tangga, dunia usaha skala kecil, perhotelan, hingga investor besar.   Tidak terhitung pula berapa uang yang ke luar Aceh, termasuk untuk membeli genset di Medan, Sumatera Utara.

Dia berharap, Pemerintah Aceh tidak berdiam diri, seolah-olah hal ini hanya urusan PLN semata. “Selama ini kan kita diam saja. Semuanya berjalan autopilot. Komunikasi dan lobi kurang dengan pemerintah pusat. Pusat pun mungkin jadi kurang peduli karenanya,” kata mantan tenaga ahli Bappeda Aceh ini.

Sebagai perusahaan yang memonopoli suplai arus listrik ke masyarakat sejak tahun 1945, kata Rustam, masuk akal kalau perusahaan pelat merah ini rugi triliunan rupiah setiap tahun. Kelemahan dari pasar monopoli adalah ketiadaan efisiensi. Semangat kompetisi tidak muncul jika tak ada saingan. Itu sebab Rustam tidak heran jika mendengar PT PLN menderita kerugian bertriliun-triliun rupiah. Termasuk kerugian sebesar Rp 3,5 triliun di Aceh.

Menurut Rustam, yang kurang dilakukan adalah komunikasi dan sinergitas. Semua berjalan sendiri-sendiri dengan agenda masing-masing. Dia mencontohkan PT Lafarge Cement Indonesia (LCI) yang daya listriknya surplus. Perusahaan semen yang berbasis di Lhoknga, Aceh Besar, itu hendak menjual kelebihan suplai dayanya kepada PT PLN, mengingat perusahaan negara itu kerap kekurangan arus.

Namun, hingga kini negosiasi antara PLN dan PT Lafarge macet, sebagaimana diakui PLN sendiri. “Masyarakat tentu ingin tahu, sejauh mana peran Pemerintah Aceh, katakanlah untuk memediasi mereka, sehingga tercapai kesepakatan. Jangan-jangan tidak ada peran sama sekali,” reka Rustam.

Potensi lain yang bisa mengatasi krisis energi listrik dalam jangka panjang, kata Rustam, adalah dengan mengeksploitasi proyek geotermal Seulawah. Panas bumi Seulawah ini diperkirakan bisa menghasilkan energi hingga 152 MW, lebih dari cukup untuk membuat Aceh terang-benderang.  

Dengan bantuan hibah dari Kfw Jerman bernilai trilunan rupiah, Pemerintah Aceh bahkan telah menunjuk Pertamina sebagai pihak yang mengelola panas bumi tersebut. Namun, lagi-lagi, hingga kini  proyek tersebut juga macet.

“Syukur alhamdulillah, kita dikaruniai potensi alam yang luar biasa. Uang, kita juga punya. Apalagi untuk geotermal Seulawah yang katanya dapat hibah untuk eksploitasi. Nah, kalau proyek ini pun tidak jalan, lalu apa kerja kita dengan segenap tim ahli yang juga dibayar dengan uang rakyat Aceh itu?” tanya ekonom kritis ini.

Serambi sudah berusaha menghubungi Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Aceh, Ir Teuku Syakur, untuk menanyakan kelanjutan proyek geotermal Seulawah, namun tidak berhasil dihubungi hingga berita ini diturunkan. Beberapa kali dihubungi ke hp-nya, Kamis, tapi  tidak diangkat. (sak) (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id