Menyoal Janji PLN | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Menyoal Janji PLN

Foto Menyoal Janji PLN

Warga di berbagai pelosok Aceh mengeluh karena sering mati lampu bukanlah cerita baru. Sudah bukan rahasia pula berbagai usaha terganggu selama ini, mulai dari yang berskala kecil hingga yang berskala besar akibat listrik yang hidup-mati. Investasi pun terkendala karena tak ada jaminan kesanggupan dan kepastian pasokan arus listrik dari PLN. Lalu, solusi apa yang dilakukan PLN dan Pemerintah Aceh? Mengapa pula saat ini PLN berani berjanji untuk memenuhi berapa pun kebutuhan daya yang diminta investor? Serambi mengulasnya dalam laporan eksklusif berikut ini.

PADA 27 Oktober 1945 Presiden Soekarno mendirikan Jawatan Listrik dan Gas. Dia berharap kedua perusahaan yang kemudian dipisah itu bisa maju bersama-sama. Meskipun dengan kapasitas

pembangkit listrik pertama yang terbatas, 157,5 Megawatt, Soekarno yakin secara perlahan-lahan perusahaan listrik ini bisa berkembang dan membuat Republik Indonesia terang-benderang.

Kini, 70 tahun sudah berlalu, harapan Presiden RI pertama itu tak kunjung kesampaian. PLN tetap saja menjadi perusahaan pelat merah. Utangnya menggunung. Indonesia tetap menghadapi krisis energi. Listrik mati berjam-jam sudah lumrah. Meskipun perusahaan ini melakukan monopoli bisnis dalam rentang waktu yang hampir seabad itu, secara umum tetap saja merugi bertahun-tahun. Konon, harga jual yang rendah menjadi salah satu sebabnya.

Menurut Deputi Manager Humas PLN Aceh, Sayed Mukarram, saat ini mereka merugi rata-rata sekitar Rp 3,5 triliun per tahun.

Di Aceh, sebagamana hasil survei Bank Dunia tahun 2008, salah satu hambatan berinvestasi justru karena minimnya ketersediaan arus listrik. Investor ogah masuk jika PLN tak mampu menyuplai arus ke perusahaan mereka. Soalnya, jika menggunakan genset, cost produksi bisa membengkak. Sejumlah investor yang datang ke Aceh juga bertanya-tanya tentang ketersediaan suplai energi listrik.

“Listrik jadi pertanyaan pertama mereka, selain keamanan tentunya. Mereka heran kalau mendengar listrik masih hidup-mati di Aceh,” ungkap Kepala Badan Investasi dan Promosi (Bainprom) Aceh, Ir Anwar Muhammad kepada Serambi.

Sumber Serambi lainnya memastikan bahwa beberapa hotel sempat terancam tutup di Aceh beberapa waktu lalu, yang salah satu sebabnya karena terbebani biaya operasional genset. “Kalau pakai genset, sangat besar biaya operasionalnya,” kata pria yang enggan namanya disebutkan. Ini belum termasuk kerugian-kerugian ekonomi dan sosial lainnya akibat listrik yang hidup-mati alias byar-pet, termasuk terganggunya proses belajar-mengajar.

Namun, hampir selalu ada pihak yang diuntungkan dari sebuah musibah. Salah satunya adalah penjual dan distributor genset. Penjualan mereka naik beberapa kali lipat begitu listrik hidup-mati. Terlepas listrik masih byar-pet, Deputi Manager Humas PLN Aceh, Sayed Mukarram menegaskan bahwa tidak ada krisis listrik di Aceh. “Tidak ada istilah krisis listrik dan penolakan terhadap permintaan investor, karena ini komitmen PLN,” demikian Sayed Mukarram. (sak/gun)


(uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id