Membumikan Iktikaf di Nanggroe Aceh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Membumikan Iktikaf di Nanggroe Aceh

Foto Membumikan Iktikaf di Nanggroe Aceh

Oleh Farid Nyak Umar

AGENDA menjadikan Aceh sebagai provinsi yang bersyariat adalah sebuah cita-cita yang mulia. Dalam menyongsong agenda ini, mau tidak mau semua hal yang bisa membantu mewujudkan Aceh sebagai provinsi bersyariat niscaya mestilah dimaksimalkan. Di bulan Ramadhan, satu ibadah yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw kepada umatnya adalah iktikaf di masjid-masjid pada 10 terakhir Ramadhan.

Hal ini karena Nabi Muhammad saw senantiasa melakukan iktikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beriktikaf setelah kepergian beliau berdasarkan hadis yang diriwatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Ini menandakan bahwa iktikaf adalah ibadah yang meskipun sifatnya sunat, namun sangat dianjurkan untuk dilaksanan umat Islam. Bukankah seluruh peri kehidupan Nabi Muhammad saw dan praktik ibadah beliau adalah pelajaran bagi kita untuk diikuti?

Pada dasarnya, iktikaf sudah mulai popular di beberapa kota di Aceh, khususnya di kota-kota. Di Banda Aceh, misalnya, pelaksanaan iktikaf sudah berlangsung sejak lama. Di Masjid Al-Furqan Gampong Beurawee, sebagai contoh, seingat saya, sejak saya masih mahasiswa pada 1999, ibadah iktikaf ini sudah dilaksanakan rutin setiap Ramadhan di masjid tersebut dan dihadiri oleh masyarakat umum, aktivis-aktivis hingga sejumlah politisi. Di Banda Aceh, iktikaf juga diselenggarakan di beberapa masjid lainnya.

Beberapa tahun belakangan, alhamdulillah pelaksanaan iktikaf di Banda Aceh semakin popular, di gelar di banyak tempat dan semakin banyak yang hadir. Selain di Masjid Beurawe, di Masjid Oman Lamprit misalnya, 10 akhir Ramadhan sejak beberapa tahun terakhir semakin banyak disesaki jamaah. Jumlah jamaah shalat Tahajjud di mesjid ini hampir setara jumlah jamaah shalat Jumat. Dengan kondisi mesjid yang begitu nyaman, para jamaah bisa begitu khusyu’ beribadah, plus suara imam hafiz yang syahdu.

Sebelum masuk waktu Tahajjud, para jamaah juga begitu khusyu’ tilawah Alquran, dari anak kecil, perempuan, remaja, hingga orang tua. Sungguh ini pemandangan yang menakjubkan, sebuah kekuatan dan energi besar menuju kebangkitan dan kejayaan Aceh, insya Allah. Kita tidak ragu bahwa dengan kondisi masyarakat Aceh yang religius seperti ini, bukanlah sebuah utopia belaka akan harapan kita menyaksikan Aceh yang baldatun thaibatun wa Rabbun ghafur, negeri yang baik dan mendapat keampunan dari Allah Swt.

Memahami iktikaf
Secara terminologi, menurut kitab Lisanul Arab, iktikaf bermakna merutinkan (menjaga) sesuatu. Sehingga orang yang mengharuskan dirinya untuk berdiam di masjid dan mengerjakan ibadah di dalamya disebut mu’takifun atau ‘akifun (Fiqh Sunnah, II/150). Sementara secara istilah yang masyhur di kalangan ulama fiqh dan umat Islam, iktikaf adalah berdiam di masjid dengan niat khusus, untuk beribadah kepada Allah Swt. Jadi, iktikaf termasuk ibadah utama di bulan Ramadhan yang memiliki banyak sekali keutamaan yang dilakukan khusus di masjid.

Adanya ibadah iktikaf dan keutamaannya di bulan Ramadhan, semakin melengkapi kesempurnaan ajaran Islam dan keagungan Ramadhan, di mana kita diberikan kesempatan untuk meraih rahmat, maghfirah secara maksimal agar kita terbebas dari api neraka (‘itqum minannar). Melaksanakan iktikaf di 10 akhir Ramadhan insya Allah akan membantu kita untuk lepas dari api neraka.

Dengan iktikaf, seseorang akan terjaga dari perbuatan maksiat, karena baik disengaja atau tidak, terkadang seseorang terjerumus ke dalam dosa. Sedangkan pada bulan yang penuh berkah ini, kemaksiatan adalah kezaliman yang tidak terkira besarnya. Dengan beriktikaf, seseorang dapat terhindar dari segala godaan untuk berbuat dosa.

Secara lahiriah, orang yang beriktikaf terlihat rugi karena tidak dapat mengerjakan amal lainnya seperti mengantar jenazah, menjenguk orang sakit, dan sebagainya. Oleh sebab itu, hadis di atas menyatakan bahwa kebaikan yang biasa dilakukan dan terhalang karena iktikaf, maka pahala amalan tersebut akan terus diperolehnya.

Dalam ibadah iktikaf, kita diminta untuk menggalakkan berbagai jenis ibadah yang muaranya adalah agar tercapainya berbagai agenda perubahan bangsa dan negara ke arah yang diridhai oleh Allah Swt.

Kita yakin, dengan intensitas interaksi manusia dengan Tuhannya, maka saat itu akan melahirkan berbagai perubahan ke arah yang positif. Dalam kontek Aceh, khususnya Banda Aceh, kita yakin peserta iktikaf ini nanti akan sangat mampu berperan dalam mewujudkan kota Banda Aceh yang madani, karena memang kemadanian Banda Aceh sangat erat kaitannya dengan aspek religiusitas.

Ibadah saat iktikaf
Ada beberapa ibadah yang sangat penting dikerjakan saat iktikaf, yaitu shalat. Memperbanyak shalat saat iktikaf amat dianjurkan. Sebab, shalat merupakan seutama-utamanya ibadah dan paling besar pahalanya. Shalat merupakan hubungan langsung antar dua pihak, yakni seorang hamba dengan Khaliknya. Terlebih, shalat adalah tiang agama dan Rukun Islam yang paling utama.

Selain itu, kita juga diminta untuk memperbanyak membaca Alquran. Dengan membaca Alquran hati akan menjadi tenang dan jiwa menjadi tenteram. Terlebih, pahala membaca Alquran juga amat besar. Orang banyak membaca Alquran mandapat jaminan untuk mendapatkan syafaat di hari akhir kelak. Rasulullah saw bersabda: “Bacalah oleh kalian Alquran. Karena sesungguhnya Alquran itu akan datang menghampiri kalian di hari kiamat sebagai syafaat.” (HR. Muslim).

Dalam iktikaf, kita juga diminta untuk memperbanyak zikir. Orang yang iktikaf dianjurkan untuk memperbanyak zikir. Tentu saja, yang diutamakan adalah amalan-amalan yang disyariatkan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw, seperti: bertasbih, tahmid, tahlil,istighfar, dan sebagainya. Menurut para ulama, zikir merupakan salah satu ibadah khusus untuk bertaqarub kepada Allah Swt. Sesungguhnya, menyibukkan diri saat iktikaf dengan berzikir akan mendapat pahala yang besar. Allah Swt berfirman: “Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku akan ingat kepadamu; bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (QS Al-Baqarah: 152).

Selain itu, kita juga diminta untuk senantiasa bershalawat kepada Rasulullah saw. Allah Swt telah memerintahkan kepada kita untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad saw. Bershalawat menjadi salah satu sebab turunnya rahmat Allah Swt. Rasulullah saw bersabda: “Siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah memberinya rahmat sepuluh.” (HR Muslim). Dan yang lebih penting adalah, kita juga hendaknya mengurangi hubungan dengan orang banyak. Pada saat iktikaf dianjurkan untuk mengurangi hubungan dengan orang banyak.

Dengan memaksimalkan ibadah 10 akhir Ramadhan dengan ibadah iktikaf di masjid, kita yakin usaha kita meraih gelar takwa agar lebih mudah tercapai. Dengan takwa, setiap pribadi akan mengalami perubahan positif yang sangat luar biasa. Ia akan menjadi seorang yang jujur, sabar, pemaaf, membayar zakat, senantiasa beribadah dan meluruskan, mengajak kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran, menyantuni anak yatim dan fakir miskin. Spirit takwa ini yang kemudian kita terjemahkan dalam realitas kehidupan menuju Aceh yang berjaya dalam syariat dan peradaban mulia.

Untuk itu, mari kita budayakan dan bumikan iktikaf di seluruh Aceh agar Allah Swt membantu menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan kita sebagai pribadi dan sebagai sebuah bangsa. Para pengurus masjid di seluruh Aceh sudah saatnya membuat program iktikaf di masjid-masjid agar keberkahan Allah Swt senantiasa menghampiri negeri ini. Apalagi, dengan iktikaf, peluang meraih lailatul qadar di 10 akhir Ramadhan juga semakin memungkinkan. Insya Allah!

* Farid Nyak Umar, ST., Ketua Komisi D DPRK Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/aradhia/ayanti/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id