Seriusnya Brunei Membina Para Mualaf | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Seriusnya Brunei Membina Para Mualaf

Seriusnya Brunei Membina Para Mualaf
Foto Seriusnya Brunei Membina Para Mualaf

OLEH FAISAL MA, Dosen Tetap Non-PNS pada STIT Al-Hilal Sigli, melaporkan dari Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam

KETIKA saya lulus di Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry, saya bercita-cita ingin melanjutkan studi doktoral (S3) ke luar negeri. Salah satu negara impian saya adalah Brunei Darussalam. Kenapa memilih Brunei, karena rumpun keilmuan pendidikan agama Islam yang ada di sana sesuai dengan perkembangan keilmuan pendidikan Islam yang ada di Aceh.

Memang ada beberapa lembaga pendidikan Islam di dunia yang bergengsi, tapi saya lebih memilih ke Brunei, karena saya yakin ada beberapa kampus yang menarik di sana. Di antaranya: Universiti Bandar Seri Begawan, Universiti Perguruan Ugama Seri Begawan (KUPU SB), Universitas Sultan Syarif Ali (Unissa), dan Insitut Teknologi Brunei Darussalam.

Saya dan kawan-kawan dari Aceh lebih memilih mendaftar di KUPU SB, karena lebih banyak program studi keilmuan agama Islam yang ditawarkan. KUPU SB merupakan salah satu kolej (college) yang didirikan tahun 2007. Kolej ini dikhususkan untuk mencetak tenaga pengajar di bidang agama Islam.

Sejauh yang saya amati, masyarakat Brunei rajin memberikan sedekah, baik untuk kemakmuran masjid maupun kepada para musafir yang mengunjungi negeri ini.

Selama sepekan di Brunei saya beserta sejumlah jamaah zikir dari Kota Langsa Aceh (Mazka) juga berkunjung/bersilaturahmi ke Pusat Dakwah Islamiah Brunei Darussalam. Kalau di Aceh, lembaga ini hampir sama tupoksinya dengan Dinas Syariat Islam. Sesuai penjelasan dari petugas Pusat Dakwah Islamiah Brunei, berdasarkan data setiap tahunnya, yang baru masuk Islam (mualaf) di Brunei rata-rata 500 orang. Berdasarkan data sepuluh tahun terakhir, ada sekitar 12.000 lebih orang yang menjadi mualaf di Brunei.

Saat kami berkunjung kebetulan sedang berlangsung bimbingan pemantapan materi keislaman terhadap para mualaf. Para mualaf setelah memeluk Islam, didata secara akurat dan berkala, untuk memudahkan pihak Pusat Dakwah Islamiah (PDI) dalam membimbing dan memantau mualaf setiap tahunnya.

Setelah menjadi mualaf, pihak kerajaan melalui PDI selalu memberikan perhatian penuh terhadap mualaf. Selain diajarkan pemantapan hidup dalam beragama Islam, kerajaan juga memberikan uang makan dan uang harian kepada para mualaf, baik itu untuk si mualaf maupun keluarga yang menjadi tanggungan/asuhannya di rumah.

Pihak kerajaan juga membina peningkatan kapasitas para mualaf di bidang life skill/keterampilan/keahlian, melalui peningkatan kapasitas para mualaf lebih mandiri dan terberdayakan. Selesai mengikuti peningkatan kapasitas dalam berbagai macam keahlian yang dimiliki, PDI juga memberikan modal usaha kepada para mualaf, agar mereka bisa menghidupkan usaha untuk pengembangan ekonomi keluarganya.

Selanjutnya pihak kerajaan juga menampung hasil usaha/kerajinan tangan para mualaf untuk dipasarkan oleh PDI Brunei Darussalam. Modal dan provit setelah pemasaran diberikan kembali kepada mualaf untuk mengembangkan usahanya yang lebih luas.

PDI Brunei juga selalu memantau kehidupan para mualaf, terutama untuk pemantapan kesehatan mental/jiwa mereka. Lembaga tersebut juga merekomendasikan kepada para mualaf, jika ada ajaran Islam yang kurang atau belum dipahami mohon selalu berkonsultasi dengan ustaz atau para dai yang sudah direkomendasikan oleh PDI sesuai mandat resmi.

Jadi, tidak hanya kesehatan spritual yang dijaga oleh kerajaan terhadap mualaf, tetapi juga dijaga aspek kesehatan fisik/badannya. PDI juga merekomendasikan petugas kesehatan dan hospital berizin yang akan menangani kesehatan fisik mualaf. Hal ini agar para mualaf selalu sehat wal afiat, baik untuk beribadah kepada Allah, maupun dalam melaksanakan aktivitasnya sehari-hari.

Program terpadu yang dilakukan secara sistematis dan sungguh-sungguh inilah yang membuat para mualaf merasa sangat nyaman dan diperhatikan di Brunei Darussalam. Itu pula sebab, di sini tidak pernah kita dengar ada mualaf yang setelah masuk Islam jadi melarat, papa, dan telantar, akhirnya kembali ke agama asalnya.

Apa yang dilakoni pihak Kerajaan Brunei Darussalam terhadap para mualaf ini tentunya layak menjadi iktibar (teladan) bagi kita di “Bumi Syariat”, Nanggroe Aceh Darussalam, dalam menangani dan memberdayakan para mualaf. Semoga.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: [email protected] (uri/aufik/arahdiba/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id