MPU Diminta Keluarkan Fatwa Garam Tradisional | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

MPU Diminta Keluarkan Fatwa Garam Tradisional

MPU Diminta Keluarkan Fatwa Garam Tradisional
Foto MPU Diminta Keluarkan Fatwa Garam Tradisional

SIGLI – Petani garam tradisional di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie meminta Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh mengeluarkan fatwa halal atau haram terhadap garam yang diolah secara tradisional.

Permintaan fatwa itu seiring adanya pernyataan Kepala Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MPU Aceh, drh Fakhrurrazi MP yang menyebutkan sebagian garam tradisional yang diproduksi di Aceh belum tentu halal karena proses produksinya belum higienis dan tak 100 persen bebas najis.

Akibatnya, kata Fakhrurrazi, pelaku usaha yang memproduksi garam tradisional di Aceh belum seluruhnya mendapat sertifikat halal dari LPPOM MPU Aceh.

Tgk Fauzi (58) didampingi Bahuddin (52), petani garam tradisional di Gampong Blang Paseh, Kota Sigli kepada Serambi, Sabtu (8/7) mengatakan, pembuatan garam tradisional tidak bernajis. Sebab, tanah yang mengandung garam itu dijemur tiga hari dan dicuci dengan 400 liter air.

Kecuali itu, lanjutnya, proses penyaringan air garam itu sangat khusus menggunakan lapisan goni yang dialiri melalui pipa ke tempat penampungan. Saat air garam telah terkumpul kemudian dituangkan dalam tempat atau wadah memasak. Air garam yang dimasak itu berjumlah 40 jeriken.

“Kita mohon MPU Aceh untuk meneliti ulang proses produksi garam tradisional khususnya di tempat kami. MPU juga harus mengajari kami bagaimana memproduksi garam tradisional supaya tidak dinilai bernajis tidak dan higienis,” ujarnya.

Menurutnya, MPU Aceh harus mengeluarkan fatwa terhadap produksi garam yang dilakukan secara tradisional, apakah halal atau haram. Sebab, pernyataan Kepala LPPOM MPU Aceh, Fakhrurrazi sangat mengusik pelaku usaha garam tradisional. Petani siap mengurus sertifikat halal.

“Kami dari pelaku usaha garam tradisional akan mengirim surat kepada MPU Aceh dan MPU Pidie. Surat tersebut akan ditandatangani pelaku usaha garam di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli serta Peukan Sot dan Cebrek, Kecamatan Simpang Tiga supaya MPU turun ke tempat pengolahan garam tradisional,” demikian Tgk Fauzi.

Entah tak terpengaruh dengan pernyataan yang dikeluarkan Kepala LPPOM MPU Aceh atau karena konsumen yakin garam tradisional tak masalah, faktanya, menurut Tgk Fauzi permintaan garam tradisional masih tetap tinggi. Petani garam mampu menjual tujuh ton sehari dari 105 tempat prosuksi garam tradisional.

Garam dari wilayah Blang Paseh dan sekitarnya dijual ke Takengon, Langsa, Aceh utara, Bireuen, Meulaboh, dan Aceh Besar. “Hingga kini stok garam di gudang masih kosong akibat tingginya permintaan. Produksi garam dilakukan setiap hari. Harga dijual Rp 3.800 hingga Rp 4.000/kg,” sebut Tgk Fauzi.

Menghadapi bulan Desember yang diperkirakan akan turun hujan, petani garam telah menyiapkan bahan baku untuk diolah menjadi garam sehingga saat musim hujan produksi garam tetap tidak terhenti.(naz) (uri/aradhia/ayanti/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id