Terkait Ciherang, BPTP Aceh tak Ingin Petani Merugi | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Terkait Ciherang, BPTP Aceh tak Ingin Petani Merugi

Foto Terkait Ciherang, BPTP Aceh tak Ingin Petani Merugi

aceh.Uri.co.id, BANDA ACEH – Alasan utama Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh tidak lagi menganjurkan para petani di provinsi ini menanam padi varietas Ciherang pada musim tanam gadu mendatang semata-mata karena BPTP tidak ingin petani Aceh menanggung rugi lantaran merosot volume produksinya atau bahkan gagal panen.

“Itu yang menjadi pertimbangan kita. Sebab, kalau petani memaksakan juga menanam varietas Ciherang, maka peluang merugi sudah membayang di depan mata. Soalnya, dalam setahun terakhir, setelah dilepas Menteri Pertanian ke petani tahun 2000, varietas ini sudah terkena serangan kresek atau hawar daun bakteri (HDB) dan blast,” kata Kepala BPTP

Aceh, Ir Basri A Bakar MSi menanggapi pernyataan pakar hama dan penyakit tanaman dari Universitas Teuku Umar, Meulaboh, Dr Ir Alfizar DAA sebagaimana dipublikasi aceh.Uri.co.id, Rabu (16/3/2016) pagi.

Dalam pernyataannya, Dr Alfizar mengingatkan BPTP Aceh agar tidak gegabah menganjurkan petani Aceh jangan lagi menanam padi varietas Ciherang karena rentan terserang HDB. Apalagi belum ada peneliti yang valid dan teruji sebelum anjuran seperti itu dikeluarkan.

Terhadap sanggahan Dr Alfizar itu, Basri A Bakar MSi mengatakan, “Saya tak menyalahkan pendapat Doktor Alfizar itu. Bagi saya, beda pendapat itu adalah rahmat. Cuma perlu saya perjelas bahwa kita tidak melarang tanam varietas Ciherang, tetapi tidak pula merekomendasikannya atau tidak menganjurkan lagi penanamannya.”

Menurut Basri A Bakar, Ciherang yang kini benihnya tidak jelas lagi, sehingga semakin rentan akibat berbagai faktor, sehingga ketika ada penggantinya yang lebih tahan hama dan penyakit, maka varietas yang lebih tahan inilah yang kita rekomendasikan,” kata Basri.
Jadi, menurut dia, adalah kewajiban BPTP mengingatkan kondisi terkini mengenai padi

varietas Ciherang ini. Atas dasar itu pula, Badan Litbang Pertanian sudah menganjurkan bahwa varietas yang tepat menggantikan Ciherang adalah varietas unggul seperti Inpari 13, 16, 31, dan Inpari 32, serta Situ Bagendit.

Ia juga mengomentari budidaya Ciherang yang dilakukan Dr Alfizar di petak sawah yaang terbatas luasnya di Desa Ajee Rayeuk, Aceh Besar.

“Kalau tingkat penelitian dalam luas terbatas 5-10 hektare seperti yang dilakukan Doktor Alfizar, ya mungkin saja sanggup dijaga. Tapi bagaimana dengan petani kita yang rata-rata awam dalam budidaya padi? Mereka tidak memupuk tanaman padinya, tidak disiplin, dan cenderung menyerahkannya pada alam, maka tentunya akan gagal. Jadi, Badan Litbang patut mengingatkan kondisi terkini dengan memberikan solusi dan kita tidak ingin petani menanggung rugi dan gagal panen,” tegas Basri sembari menambahkan, kalangan akademik memang berkewajiban untuk meneliti lebih lanjut seberapa berbahaya serangan bahteri hawar daun ini terhadap penurunan produktivitas varietas Ciherang, terutama di Aceh. (#) (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id