Cincin Emas Putih di Jari Manis Tangan Kiri | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Cincin Emas Putih di Jari Manis Tangan Kiri

Cincin Emas Putih di Jari Manis Tangan Kiri
Foto Cincin Emas Putih di Jari Manis Tangan Kiri

Karya SulaimanTripa

BULAN sudah tua. Sinar matahari tampak puncak hari itu. Namun panasnya luar biasa. Apalagi sejak pohon asam peninggalan Belanda yang berjejer di pinggir jalan sudah ditebang oleh pembangun jalan aspal. Menurut mereka, untuk memperlebar jalan tidak ada cara lain, selain menebang pohon-pohon tua itu.

Kampung seperti tandus. Menambah panas berlipat-lipat. Dengan suasana panas begini, banyak orang menghabiskan siang di luar tenda. Hanya duduk mengipas diri di beranda depan. Bahkan ada yang dengan pakaian seadanya.

Sepulang dari tempat mereka bekerja masing-masing, tidak ada lagi yang berani mengurung diri di dalam rumah. Seperti sebelumnya. Tidak ada yang menyalakan mesin pendingin ruangan, karena semua orang sudah takut dengan rumahnya sendiri. Rumah beton. Hanya mereka yang memiliki rumah kayu berbentuk panggung, yang berani berdiam diri di dalam rumah. Selebihnya tidak.

Semua bisa melihat dengan terang. Menjelang senja, orang-orang sudah mengatur lapak masing-masing di depan rumah mereka. Ada tenda kecil yang sudah dirangkai seadanya di jalan depan rumah mereka.Badan jalan kampung ini sudah dibersihkan dari berbagai kotoran, yang sebelumnya bertindih dengan berbagai macam kotoran hewan. Pun tidak ada protes yang pemakai jalan. Ketika gelap datang, sudah tidak ada yang menghidupkan motornya.

Di dalam tenda kecil itulah orang-orang menghabiskan malam. Tidak ada rasa kantuk. Mereka berdiam di dalamnya sambil menunggu untuk hanya menghitung berapa ronde mereka merasakannya malam ini.

Setiap hari begitu. Ketika fajar datang, semua bantal yang sudah dikeluarkan ditaruh kembali di pinggir rumah. Tikar seadanya dibalut dengan tali rafia, lalu ditindih di tempat bantal.

Semua orang merasakannya pada hari-hari ini. Termasuk Maman. Seperti orang yang menghitung hari, untuk mendapatkan hari selanjutnya. Lalu ketika hari selanjutnya datang, menunggu dan berhitung lagi untuk hari-hari yang akan datang.

Tapi menghitung itu juga berbeda. Bagi Maman, menghitung itu harus dilakukan dengan nafas berat dan sesak. Tidak sekadar berhitung. Ia ingin melipat waktu, sesuatu yang sungguh tidak mungkin dilakukan. Itulah yang ia rasakan.

Ia ingat persis, setelah mandi sore 14 hari yang lalu, istrinya kembali memakai cincin emas putih di jari manis tangan sebelah kiri. Sebuah cincin yang ia juga hafal betul bentuk dan ukirannya. Cincin itu akan dilepas ketika mau mandi atau mengambil wudu. Ditaruh sebentar di luar kamar mandi. Setelah selesai, lalu diambil dan dipakai kembali.

Bila ia melihat tangan dengan cincin emas putih yang dipakai di jari manis tangan sebelah kiri itu, ia bisa pastikan bahwa itu adalah tubuh istrinya. Sambil menghitung hari dengan berat, ia tiada henti berusaha.

Berulangkali ia bolak-balik reruntuhan dari satu sudut ke sudut lain. Rumahnya hancur sudah. Setengah berkeping. Tetapi ia masih bisa memetakan letak semua ruangan yang berjumlah lima kamar. Ada dua kamar tidur, satu kamar mandi, satu ruang makan, dan satu ruang keluarga. Rumah yang sederhana, tentu saja.

Rumah itu dibangun dengan menabung dari honor yang diperolehnya dari menulis dan dimuat di suratkabar dan memberi ceramah tentang tulis-menulis di sejumlah tempat. Ia menulis di berbagai koran. Bahkan dalam satu minggu bisa dua atau tiga tulisan. Bekal honor itulah yang dikumpulkan hingga bisa membangun rumah. Tak lupa, di pintu rumah ia perintahkan tukang untuk mengukir kata, alhamdulillah, di bawah kata assalamu’alaikum.

Rumah itu kini reruntuhan yang setengah menunduk. Di hari ke-12 setelah gempa, ada bantuan buldozer. Mereka ingin membersihkan sisa-sisa reruntuhan. Sudah semua dibersihkan, kecuali rumah ini. Ia tidak izinkan. Dengan tangan sendiri ia kumpulkan sisa puing itu ke sudut pagar. Tidak ada yang boleh membawanya ke luar pagar, barang sekeping. Matanya selalu awas.

Sisa-sisa puing itu diletakkan di tempat yang semula kosong. Ketika rumahnya masih tegak, tempat kosong itu ditanam penuh bunga -tapi setelah gempa, bunga-bunga itu juga berdebu dan bersujud.

Ia sengaja tidak mengizinkan puing itu dibawa pergi. Ia kumpulkan sendiri di tempat kosong itu. Ia berharap segera menemukan tangan dengan cincin emas putih yang dipakai di jari manis tangan sebelah kiri. Mungkin ada di bawah reruntuhan, begitu selalu pikirnya.

Bila ia tidak larang, tentu puing itu akan diangkut dengan truk. Lalu diangkut entah kemana. Ada 12 truk pengangkut material bekas reruntuhan yang sengaja didatangkan untuk membersihkan kampung ini dengan segera.

Bahkan sebelum hari 10, kampung harus sudah tuntas dibersihkan. Rupanya ada kunjungan pejabat kota. Begitu pejabat berkunjung, tidak boleh ada sisa puing yang belum diangkat dan diangkut. Tapi puing rumah ini jadi pengecualian. Ia berdiri di depan pagar dan menghalau setiap truk begitu mendekat.

Ia sudah sangat ingin mendekap istrinya. Dengan menggunakan tangan sendiri, ia mengangkat puing itu satu-satu. Tapi tangan dengan cincin emas putih yang dipakai di jari manis tangan sebelah kiri itu tak juga ditemukan. Berulang-ulang ia mengangkatnya. Bahkan untuk beton besar yang agak berat dan tak sanggup diangkatnya sendiri, ia minta bantu pada orang lain yang lewat di jalan depan rumahnya -maksudnya bekas rumahnya. Hingga beton itu semuanya bisa diangkat. Ia bahkan memberi upah untuk mereka yang menolong itu.

Berulangkali ia melakukannya. Bahkan tak terhitung berapa puing yang sudah ia angkat. Sudah berapa pusingan itu bolak-balik. Puing yang itu-itu juga. Dari sudut sini ke sudut sana, dari sudut sana ke sudut sini. Tapi tak ia jumpai jari manis tangan kiri yang memakai cincin emas putih.

Menjelang 12 hari ia melakukan itu, ia sudah tidak sempat tidur dengan sempurna, sebarang merebahkan tubuh barang sebentar di tikar yang digelar begitu saja. Ia hanya mengikat kain kecil pengganti tenda, sebagai tempatnya menarik nafas. Tidak ada rasa kantuk selama itu.

Orang-orang tidak lagi menghiraukannya seperti pada hari ke satu atau ke sepuluh. Orang-orang sudah pula mengatakan bahwa di sana memang tidak ditemukan apa-apa. Toh, puing juga sudah diangkat semuanya, digeser ke tempat kosong lainnya, setelah dipastikan bahwa di sana juga tidak ada tangan dengan cincin emas putih yang dipakai di jari manis tangan sebelah kiri yang tertindih. Tapi ia tetap tak percaya.

“Kami sudah 12 kali mengangkat, tapi bukankah tidak ada,” kata Toke Bahri, kepala lorong, menyampaikannya ke Maman. Toke Bahri hanya menyampaikan keluhan orang-orang yang sering melewati tanah berpuing itu. Selama ini, orang-orang yang lewat selalu diminta bantu, hingga mereka sudah merasa terganggu.

Lalu setelah ia merasa sudah banyak orang tidak ingin bantu mengangkat, walau diberi upah, mulailah ia mengangkat sendiri. Dengan tangan sendiri, ia pindahkan puing itu satu demi satu. Mula-mula puing itu ada di sudut timur, satu per satu ia bawa ke sudut barat. Namun tangan dengan cincin emas putih yang dipakai di jari manis tangan sebelah kiri tetap tak ada. Lalu setelah memastikan betul, ia bawa lagi puing itu satu persatu dari sudut barat ke sudut timur yang kosong.

Begitulah berulang-ulang. Ia lakukan hingga hari ini. Setiap orang yang lewat, selalu ia katakan bahwa tangan dengan cincin emas putih yang dipakai di jari manis tangan sebelah kiri masih di dalam sini.

Tapi banyak orang memiliki kesibukannya sendiri. Orang-orang juga sedang sibuk mengurus keluarganya di rumah sakit, atau sejumlah saudaranya yang masih belum ketemu.

Ia tak peduli. Ia melakukannya tak kenal lelah. Anak kecilnya sudah dijemput kakeknya. Semula, anak kecil itu juga berdiam menemani bapaknya. Tapi ketika sudah berulang-ulang, kakeknya datang dan memintanya untuk tidak melibatkan anaknya. Ia masih juga belum menyerah.

Setelah hari ke 12, ia mulai meletakkan bambu mengukur masing-masing bekas kamar. Lalu ia membayangkan bagaimana ia dan anaknya berhasil meloncat lewat celah jendela untuk keluar dari dalam rumah. Setelah gempa mengguncang, hanya anak yang ada di sampingnya. Ia tak bisa masuk lagi karena tiba-tiba rumahnya runtuh.

Sejak kejadian itu ia mencoba membongkar puing. Ia sudah sering merasakan gempa, namun tidak gempa yang dirasakannya saat itu. Ia bahkan merasakan gempa tsunami. Dulu ketika tsunami, ia mendaftar menjadi sukarelawan. Ia ingin membantu. Hanya tenaga yang ia punya. Ia datang ke sana -setelah meminta izin istrinya. Sesampai di sana, ia angkat banyak mayat. Hingga berbulan-bulan ia merasakan gempa berulang-ulang, bahkan sampai ia hafal betul bentuk-bentuk gempa yang ia rasakan itu. Ia hafal irama gempa yang mengharuskan ia keluar dari rumah, dan gempa yang bisa diam saja di dalam rumah.

Ketika hari itu, pukul 17.18 wib, pengalamannya diuji. Iramanya gawat, pikirnya. Sehingga dalam sekejap, ia segera meraih tangan anaknya untuk membawa keluar. Hanya anak yang ada di sampingnya.

Tapi kini, ia menyesal, karena tak menemukan tangan dengan cincin emas putih yang dipakai di jari manis tangan sebelah kiri. Berhari-hari ia ingin menebus kesalahan. Ia ingin sekali meminta maaf. Makanya berhari-hari ia mencari tangan dengan cincin emas putih yang dipakai di jari manis tangan sebelah kiri di celah-celah puing itu. Walau pun sudah lewat 12 hari, ia tetap akan memeluknya bila ditemukan.

Ia belum berhenti mencari, walau sudah datang mimpi yang meminta dirinya untuk tidak mencari lagi tangan dengan cincin emas putih yang dipakai di jari manis tangan sebelah kiri. “Uda Maman, Diak Khaisah sudah tenang”.

Tapi ia tetap tak berhenti.

* Sulaiman Tripa, sastrawan. Sedang menyelesaikan pendidikan doktoral. Tinggal di Banda Aceh. (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id