Tarim, Kota Alquran | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tarim, Kota Alquran

  • Reporter:
  • Jumat, Juni 30, 2017
Tarim, Kota Alquran
Foto Tarim, Kota Alquran

OLEH AIDIL RIDHWAN, mahasiswa asal Garot, Pidie, alumnus Dayah Ummul Ayman, Samalanga, melaporkan dari Tarim, Yaman

TARIM merupakan kota kecil di Provinsi Hadhramaut, Republik Yaman. Dari ibu kota Sana’a, Tarim berjarak sekitar 1.500 km. Meski mungil, namun Tarim memiliki peran besar dalam penyebaran agama Islam ke seluruh dunia, tak terkecuali ke Aceh, tanoh lon cinta.

Ada banyak julukan untuk kota ini. Di antaranya adalah “Kota Alquran”. Bagi saya, julukan Tarim sebagai Kota Alquran tidaklah hiperbola. Kenyataan memang demikian. Di Tarim, Quran yang merupakan pedoman utama umat Islam, sangat dijunjung tinggi. Warga setempat sangat besar perhatiannya kepada kalam Allah tersebut.

Kedekatan mereka dengan Alquran sangat patut untuk diteladani. Terlebih lagi pad bulan Ramadhan yang lalu. Setelah shalat Subuh, mereka habiskan waktu dengan beriktikaf di masjid dengan membaca Quran hingga matahari terbit. Bukan hanya orang-orang tua, anak-anak muda pun ikut membaca kalam suci itu. Saya tak pernah melihat anak-anak muda setempat menghabiskan waktu pagi mereka dengan melakukan balapan motor atau berjalan ke sana-kemari tanpa makna. Teladan yang sangat patut untuk ditiru.

Sementara itu, masjid-masjid di Tarim kerap menggelar acara khataman Alquran, terutama pada 15 hari menjelang Ramadhan berakhir. Khataman tersebut dilaksanakan bergiliran, dari satu masjid ke masjid yang lain hingga malam terakhir Ramadhan. Khataman dimulai di Pondok Pesantren Darul Musthafa.

Setelahnya disusul di Masjid As-Surur. Berlanjut ke Masjid Wa’al, Masjid Hashah, Masjid Ba ‘Alawi, Masjid Sakran, Masjid Alaydrus, dan Masjid Syeikh Ali. Sedangkan pada malam ke-29 Ramadhan, khataman digelar di Masjid Almuhdhar dan Masjid Alfath.

Kecintaan warga Tarim kepada Quran juga terpatri dalam kehidupan mereka di pasar. Memasuki toko-toko di kota tua ini, telinga saya sudah sangat lumrah mendengarkan bacaan-bacaan Quran, baik secara lisan maupun melalui putaran murattal mp3.

Para pedagang, di sela-sela menunggu pembeli, mereka mengisi waktu kosong tersebut dengan membaca Alquran. Tidak suka bacaan lain.

Memang, sudah menjadi pegangan orang-orang tua di Tarim mendidik anak-anak mereka dengan Alquran agar mereka menjadi generasi qurani. Bahkan, sejak kecil, mereka sudah dianjurkan untuk menghafal kalam agung tersebut. Hal itu juga didukung dengan adanya tempat khusus untuk menghafal Quran. Namanya Qubah Murayyim. Itulah tempat pencetak para huffadh (para penghafal Alquran). Bahkan, disebutkan bahwa tidak ada ulama di Tarim yang tak pernah menghafal Quran di tempat itu.

Saya sangat takjub pada anak-anak kecil di sini, karena mayoritas mereka sudah hafal Quran. Bahkan tak jarang juga di masjid-masjid terlihat anak-anak kecil menyetor hafalan Alquran dan disimak langsung oleh ayahnya.

Keakraban masyarakat di sini dengan Alquran juga terlihat dari kebiasaan mereka sehari-hari. Setelah shalat Magrib, misalnya, sudah menjadi tradisi di masjid-masjid mengisi waktu tersebut dengan membaca Quran menggunakan sistem halakah. Metode ini dikenal dengan sebutan Hiziban Alquran. Setiap halakah yang berjumlah beberapa orang, membaca Quran secara bergiliran. Aktivitas tersebut berakhir ketika azan Isya dikumandangkan.

Saking cintanya warga Tarim kepada Quran, tak sedikit dari mereka yang mampu mengkhatamkan bacaan kalam suci tersebut hanya dalam tempo beberapa hari saja, karena terlalu sering membacanya. Bahkan yang ajaibnya, almarhum Syeikh Al Habib Al-Imam Abdurrahman Assegaf (Faqih Al Muqaddam Al Tsani, wafat 819 H), semasa hidupnya mampu mengkhatamkan bacaan Quran sebanyak delapan kali, dengan rincian empat kali pada siang hari dan empat kali pada waktu malam.

Mungkin Anda bertanya-tanya, kok bisa seperti itu? Jawabannya, itu bukanlah hal mustahil. Realitas seperti itu dikarenakan keberkahan waktu yang diberikan Allah bagi mereka yang senang dan cinta mati kepada kalam-kalam-Nya tersebut. Sehingga, satu malam satu hari bisa mengkhatamkan Alquran sebanyak delapan kali.

Begitulah kisah keakraban warga Tarim dengan Alquran. Semoga bermanfaat dan menginspirasi syedara-syedara lon bandum di tanoh Aceh.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: [email protected] (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id