Indahnya Silaturahmi | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Indahnya Silaturahmi

Indahnya Silaturahmi
Foto Indahnya Silaturahmi

Oleh Abdul Gani Isa

SETELAH satu bulan penuh umat Islam larut dalam suasana nikmat, karena begitu syahdu dengan perasaan khusyu’ untuk meraih barakah Allah –berupa rahmat, maghfirah, itqun minannar dan lailatul qadar– kini memasuki Syawal, dan Idul Fitri. Syawal dimaknai dengan irtifa’, yaitu meningkat. Artinya meningkatnya amal pascaramadhan, baik kualitas maupun kuantitasnya.

Sementara Idul Fitri, dimaknai kembali kepada fitrah. Artinya pascaramadhan setiap mukmin diibaratkan seperti baru lahir dari rahim ibunya masing-masing, dalam keadaan bersih, fitrah tanpa dosa. Demikian pula halnya selesai Ramadhan dosa-dosanya terampuni dengan ibadah puasa yang dilakukan dengan iman dan ihtisaban.

Idul Fitri satu syawal, merupakan hari kemenangan. Menang menundukkan hawa nafsu, menang melawan bisikan setan la’natillah, hari melahirkan kasih sayang kepada sesama –termasuk fakir miskin, anak yatim– lewat jalur zakat dan sedekah. Idul Fitri juga merupakan “reuni keluarga” dalam suasana gembira dan penuh persaudaraan.

Lebih dari itu, Idul Fitri merupakan hari ta’aruf dan saling bermaafan satu sama lain, memupuskan semua dosa dan kesalahan, menggeser semua sekat yang selama ini menghijab disebabkan hati yang membenci, dendam dan permusuhan.

Gema takbir yang dikumandangkan sejak malam 1 Syawal setidaknya telah menggugah hati setiap insan akan kebesaran Allah Tuhan-Nya, sekaligus sebagai rasa syukur atas lulusnya melawan berbagai syahwat selama Ramadhan. Melalui gema takbir juga kita telah memproklamirkan ke tengah umat betapa mutlaknya kekuasaan Allah swt di seantero alam yang fana ini.

Takbir telah menggugah hati insan yang bertakwa, takbir juga telah menimbulkan keberanian moril untuk senantiasa berpihak pada yang benar, berani menempuh risiko dalam perjuangan sekalipun pahit dan getir, sesuai ikrar yang selalu diucapkan dalam shalat, inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil ‘alamin (sesungguhya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam).

Beberapa amaliah
Untuk itu, di bulan Syawal ini ada beberapa amaliah yang dianjurkan syariat untuk dikerjakan, antara lain: Pertama, awshilulrahmi, yaitu menyambung silaturrahmi. Awshilulrahmi merupakan satu di antara tiga hal lainnya sebagai “pembuka anak kunci surga”, yaitu: (a) menyembunyikan musibah; (b) menyembunyikan sadaqah, dan; (c) sering mengucapkan, la hawla wala quwwata illa billahil `aliyil `azhim.

Islam memandang silaturahmi sebagai sesuatu yang sangat penting, karena silaturahmi termasuk akhlak mulia. Islam mengingatkan pemeluknya untuk tidak memutuskannya, sesuai sabda Rasulullah saw, “Tidak akan masuk surga seorang pemutus, yakni pemutus rahim.” (Muttafaq `Alaih).

Allah Swt juga menyeru hamba-Nya menyambung silaturahmi, dalam 19 ayat Alquran antara lain, “Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. ar-Ra’d: 21).

Hal yang sama ditegaskan dalam hadis Rasulullah saw, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari Muslim). Dalam Hadis riwayat Abu Daud, Rasulullah juga menegaskan, “Tidak halal bagi seorang muslim untuk memisahkan diri dengan muslim lainnya, melebihi tiga hari.”

Idul Fitri sebagai hari raya yang disyariatkan telah melahirkan seperangkat nilai dan tradisi agamis yang terpelihara dengan baik dalam komunitas muslim di seluruh penjuru Tanah Air ini. Tradisi saling kunjung, bersalaman antar sesamanya telah begitu melekat dalam jiwanya, seolah-olah kurang afdhal bila kondisi ini ditinggalkan. Inilah silaturahmi, yang juga dikenal di Tanah Air kita dengan halal bihalal, di mana setiap yang bertemu terucap kalimat, Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal ‘aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir batin, karena semua kita merasa bahagia kembali kepada fitrah (kesucian), meraih kemenangan dan keampunan dari Ilahi Rabbi.

Sekalipun halal bihalal ini tidak secara tegas disyariatkan, tapi telah memberikan arti dan makna yang sangat urgen dalam kehidupan manusia, khususnya umat Islam di hari Lebaran. Sebuah atsar menyebutkan, al-halalu bi al-halali fal badi-u bihi a’dham (orang yang meminta dimaafkan kesalahannya, seyogianya diampuni kesalahannya itu), maka barang siapa yang lebih duluan mempelopori untuk saling maaf-memaafkan kesalahan itu, dia sebenarnya orang yang paling hebat (berjiwa besar).

Karena biasanya orang yang bersalah enggan mengakui dan meminta maaf, demikian sebaliknya. Tujuannya tidak lain adalah untuk membulatkan tekad membangun diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa menuju kondisi hidup yang lebih baik, lebih terhormat dalam pandangan akhlak terpuji.

Lazimnya saling berkunjung di hari Lebaran, dari rumah ke rumah (silaturahmi), diikuti dengan berjabat tangan (musafahah) mengandung makna persamaan, persaudaraan dan perdamaian yang sangat besar hikmah, manfaat dan indahnya silaturahmi dalam Islam, karena mengandung nilai-nilai, antara lain: a. Menjaga stabilitas iman, seperti sabda Raslullah saw; man kana yu’minu billahi wa al-yaumil akhiri fal yashil rahimahu (barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia suka bersilaturahmi) (HR.Bukhari Muslim);

b. Mudah rezeki dan panjang umurnya, seperti sabda Rasulullah saw, Man ahabba an yubshata lahu fi rizkihi wa an yun sa ahu fi atsarihi fal yashil rahimahu (Barangsiapa yang ingin rezekinya banyak dan dikenang jasanya, maka hendaklah suka bersilaturrahim) (HR. Bukhari Muslim);

c. Selalu mendapat kemenangan dari Allah, Rasulullah bersabda, Inna li qarabatun ashiluhum wa yaqta’uni wa uhshinu ilaihim wayasi uni wa ahluhum alaihim wayajhaluna ‘alayya, faqala in kunta kana qulta fa kaanama tunfikuhumu al-mala wa yazalu ma’aka minallahi dhahirun ‘alaihim dumta ala zalika (seorang berkata ya Rasulullah saya mempunyai keluarga yang aku menyambungnya namun mereka memutuskan diriku, saya berbuat baik kepada mereka namun sebaliknya berbuat jahat kepadaku, saya ramah kepada mereka, mereka membodohkan ku, Rasulullah bersabda, apabila benar apa yang kamu katakan, seakan-akan kamu telah bersedekah kepada mereka dan kamu selalu mendapat kemenangan dari Allah swt) (HR. Abu Daud).

Saling memaafkan
Dalam melakukan silaturahmi, dan halal bihalal, di samping saling memaafkan kesalahan juga saling mendoakan dan menasihati agar kehidupan kita –agama, bangsa dan negara– di masa mendatang lebih baik lagi dari hari sebelumnya (aman, damai, dan tenteram). Juga perlu diingat, sebaiknya berjabat tangan secara sopan dan tertib sesuai tuntunan Rasulullah saw, anak kepada orang tuanya, isteri dengan suami, murid kepada gurunya, karyawan kepada atasannya, tetangga dengan jirannya dan seterusnya.

Kedua, puasa sunat Syawal. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa puasa Ramadhan, kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, seolah-olah ia sudah berpuasa setahun.” Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt, “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya…” (QS. al-An’am: 160).

Sesuai maksud firman Allah tersebut, bila satu hari puasa Ramadhan diberi pahala 10 kebajikan, maka 30 hari menjadi 300 kebajikan. Selanjutnya, ditambah dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka pahala kebajikannya menjadi 360 hari. Inilah yang dijelaskan Rasulullah saw seperti puasa setahun. Wallahu a’lamu bish shawab.

* Dr. H. Abdul Gani Isa, SH, M.Ag., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum/Ketua Prodi Ilmu Agama Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry, dan anggota MPU Aceh. Email: [email protected] (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id