Mahasiswa Pertanian Unsyiah Kembangkan Jamur Pengendali Penyakit Kakao | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mahasiswa Pertanian Unsyiah Kembangkan Jamur Pengendali Penyakit Kakao

Mahasiswa Pertanian Unsyiah Kembangkan Jamur Pengendali Penyakit Kakao
Foto Mahasiswa Pertanian Unsyiah Kembangkan Jamur Pengendali Penyakit Kakao

URI.co.id, BANDA ACEH — Mahasiswa Fakultas Pertanian (FP), Universitas Syiah Kuala mengembangkan terobosan terbaru dalam bidang pertanian yakni pengembangan jamur antagonis yang dapat digunakan dalam mengendalikan penyakit tanaman.

Jamur tersebut dinamakan Pelet Trichoderma (PETRI) yang merupakan cendawan antagonis sebagai agen pengendalian hayati dalam mengatasi penyakit hawar daun pada bibit kakao.

Program itu digagas oleh tim program kreativitas mahasiswa (PKM) 2017 yang terdiri dari empat mahasiswa Fakultas Pertanian Unsyiah.

Mereka diketuai Yulfa Sari Tarigan dan beranggotakan Cut Diah Permata Syibrah Noera, Ilham Syahputra, dan Ayu Sahfitri di bawah bimbingan Dr Ir Rina Sriwati MSi.

Yulfa mengatakan, penemuan tersebut sangat efektif dan aplikatif untuk petani, karena megandung komposisi yang tepat.

“Ini yang menjadi landasan dalam pengembangan Trichoderma sehingga dibentuk menjadi pelet guna memudahkan pengaplikasiaannya di lapangan,” kata Yulfa kepada URI.co.id, Senin (26/6/2017).

Yulfa mengatakan, kakao merupakan tanaman yang menjadi salah satu komoditi andalan petani Aceh dengan luas lahan kakao mencapai 102.034 hektare. 

Akan tetapi, kata dia, data dari International Cocoa Organization (ICCO) menunjukkan bahwa kerugian yang dialami petani kakao mencapai 20–30% dengan kematian tanaman 10% per tahunnya yang disebabkan oleh patogen Phytopthora Palmivora penyebab penyakit hawar daun pada bibit kakao.

“Sehingga penggunaan PETRI menjadi salah satu solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan ini,” kata mahasiswa pertanian ini.

Penelitian yang digagasan oleh Yulfa dan kawan–kawan dilaksanakan di Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala terhadap bibit kakao yang telah terinfeksi penyakit hawar  daun.

Bahan dasar dalam pembuatan PETRI memanfaatkan limbah pertanian yaitu dedak, daun katuk, molase dan aquades dengan komposisi tertentu sesuai dengan kebutuhan.

Trichoderma kemudian dikemas menjadi pelet.

Pengaplikasian PETRI yang menjadi biofungsida ini cukup sederhana, yaitu dengan cara disemprotkan kebagian tanaman yang terkena penyakit.

“Harapannya dari saya, PETRI ini mampu memecahkan masalah  penyakit yang menyerang tanaman terutama bibit kakao, dan PETRI ini nantinya bisa digunakan oleh petani dalam penanganan penyakit hawar daun,“ ujar Yulfa.

Selain itu, dia juga mengharapkan dukungan dari semua pihak dalam pengembangan PETRI ke depannya, agar mampu menjadi biofungsida yang dapat di produksi secara massal.

Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian sebelumnya.

Dimana penelitian sebelumnya bertujuan untuk menemukan komposisi yang tepat dan efektif dalam pembuatan pelet sebagai media perkembangbiakan Trichorderma. (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id