Korban Meninggal Akibat Laka Lantas 58 Orang | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Korban Meninggal Akibat Laka Lantas 58 Orang

Korban Meninggal Akibat Laka Lantas 58 Orang
Foto Korban Meninggal Akibat Laka Lantas 58 Orang

* Sejak 1-22 Juni 2017

BANDA ACEH – Jumlah korban yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di Aceh selama bulan Ramadhan, dari tanggal 1 hingga 22 Juni 2017, sudah mencapai 58 orang. Angka itu memang masih di bawah jumlah korban meninggal pada bulan Juni tahun lalu yang mencapai 84 orang. Tapi melihat tren kasus kecelakaan yang terus meningkat, jumlah itu pun sangat berpeluang bertambah.

Hal itu diungkapkan Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Aceh, Kombes Pol Guritno Wibowo melalui Wadir Lantasnya, Ery Apryono kepada Serambi, Jumat (22/6), seusai meninjau Pos Pelayanan Mudik 2017 di Indrapuri, Aceh Besar. Dalam peninjaun itu, hadir Ketua DPRA, Tgk Muharuddin dan dua wakilnya, Sulaiman Abda dan Dalimi.

Menurut Ery Apryono, korban meninggal yang 58 orang itu, berasal dari 154 peristiwa laka lantas. Kasus terbanyak masih dominan terjadi di lintas utara-timur Aceh. Misalnya, di wilayah Polres Lhokseumawe tercatat 21 kasus dengan jumlah korban meninggal 13 orang, disusul Bireuen 20 kejadian dengan jumlah yang meninggal tiga orang.

Selanjutnya, di Aceh Utara 17 kejadian, korban meninggal lima orang, Aceh Timur enam kejadian, korban meninggal empat orang, dan Langsa tujuh kejadian dengan korban meninggal empat orang.

Selanjutnya di Banda Aceh tercatat 19 kejadian dengan korban meninggal tiga orang, di Aceh Besar 18 kejadian, korban yang meninggal enam orang, di Pidie 13 kejadian, korban meninggal enam orang.

Untuk wilayah pantai barat-selatan Aceh, seperti di Aceh Barat, jumlah laka lantasnya minim, baru tiga kejadian, dengan korban meninggal dua orang. Di Aceh Selatan terdapat tiga laka lanyas dengan korban meninggal satu orang, di Aceh Jaya tiga kasus, korban meninggal dua orang.

Di lintas tengah (Aceh Tengah) tercatat tiga laka lantas dengan korban meninggal satu orang, Bener Meriah tiga kejadian, korban meninggal satu orang, Aceh Singkil lima kejadian, korban meninggal dua orang. Di daerah kepulaun, seperti Simeulue dan Sabang, kasus laka kosong atau belum ada laporan.

Dalam pengamanan mudik 2017 ini, kata Ery, ada beberapa upaya yang dilakukan. Antara lain, menambah rambu jalan dan peringatan tanda bahaya di lintasan jalan yang sering atau rawan terjadi laka lantas. Misalnya, di jalan lurus yang di lokasi itu sering melintas sapi, kerbau, kambing, dan ternak unggas.

Ery Apryono meminta polres setempat memasang rambu-rambu tanda peringatan di pinggir jalan nasional supaya terbaca oleh pemudik yang melintas di jalan tersebut agar ia lebih berhati-hati.

Kedua, di lokasi tanjakan dan tikungan tajam, juga dipasang tanda-tanda bahaya dan peringatan kepada pengendara supaya lebih berhati-hati saat melintas di tanjakan dan tikungan tajam tersebut. Misalnya, tanjakan dan tikungan tajam Seunapet di Aceh Besar.

Ketiga, memasang sejumlah sepanduk di lintasan jalan rawan kecelakaan dan longsor, terutama jalan lurus yang kendaraan bermotornya sangat padat, maupun daerah pegunungan, seperti Gunung Paro, Kulu, Geurutee di Aceh Jaya. Di lintasan ini janganlah ngebut atau menyalip laju kendaraan yang di depannya, jika peluang untuk memotong belum cukup aman dan nyaman bagi pengendara.

Keempat, sopir angkutan barang dan mudik, maupun mobil pribadi, diimbau jika sudah mengantuk jangan paksakan diri melanjutkan perjalanan. Tapi carilah tempat yang aman dan nyaman untuk beristirahat. Berhentilah 30-60 menit, untuk menghilangkan rasa kantuk. Berhentinya bisa di Pos Pelayanan dan Pengamanan Mudik 2017, di SPBU, masjid, dan tempat lainnya.

Kelima, lanjut Ery Apryono, warga yang mudik naik sepeda motor (sepmor), gunakan jalur di pinggiran berem jalan, yang sudah ada tanda marka jalannya. Jangan mengambil jalan mobil yang berada di jalur tengah atau paling kanan badan jalan, karena ini sangat berbahaya. Jika ada mobil yang ingin memotong mobil lainnya yang berada di depannya, bisa tersenggol.

Kemudian, gunakan sepmor sesuai peruntukan dan kapasitasnya. Misal, sepmor hanya dibolehkan untuk mengangkut dua orang, jangan dipaksa angkut tiga-empat orang. Ini bisa menyebabkan keseimbangan kendaraan saat melaju tak lagi normal. Jika ada yang menyenggol sedikit saja, sepmornya bisa jatuh.

Keenam, pemudik yang menggunakan sepmor dan membawa bayi berusia 3-12 bulan, harus lebih hati-hati. Kurangi kecepatan sepmor dan harus sering berhenti di jalan, untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada bayi untuk bernapas.

Ada sejumlah kasus yang terjadi beberapa tahun sebelumnya, kata Ery Apryono, anak bayi di bawah 12 bulan, dibawa mudik oleh kedua orang tuanya menggunakan sepmor. Tapi belum tiba di kampung orang tuanya, bayi itu meninggal akibat sesak napas karena kepanasan dan tekanan udara yang cukup kencang saat menumpangi sepmor. “Ini perlu menjadi perhatian orang tua, khususnya yang mudik menggunakan sepmor,” ujar Ery Apryono. (her) (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id