Idul Fitri Momentum Transformasi Sosial | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Idul Fitri Momentum Transformasi Sosial

  • Reporter:
  • Sabtu, Juni 24, 2017
Idul Fitri Momentum Transformasi Sosial
Foto Idul Fitri Momentum Transformasi Sosial

Oleh Adnan

PUASA merupakan sebuah ibadah yang kompleks, komplit, dan multidimensi. Hampir seluruh tujuan (maqashid) ibadah-ibadah yang lain melekat pada ibadah puasa. Artinya, puasa melatih dan mendidik manusia untuk terjaga dari perbuatan hina dan keji, medium pembersihan dan penyucian jiwa, juga saluran untuk membebaskan ketergantungan kepada materi (hawa nafsu), dan serta untuk menyucikan dan membeningkan hati. Karena itu, kehadiran Idul Fitri hendaknya dapat memberikan transformasi (perubahan) dalam pergulatan kehidupan sosial.

Sebab itu, karakter yang telah dibentuk Ramadhan sebulan penuh hendaknya dapat diinternalisasikan dalam kehidupan pribadi dan sosial. Karean realitas sosial menunjukkan bahwa masih banyak persoalan sosial yang belum terselesaikan, baik masalah pengangguran, kebodohan, ketimpangan sosial, kemiskinan, dan lainnya. Sejumlah masalah tersebut dapat diselesaikan ketika seseorang mampu menginternalisasikan karakter yang telah dibentuk Ramadhan pascaibadah puasa berlangsung, sejak Idul Fitri tiba hingga Ramadhan selanjutnya.

Membawa perubahan
Berikut beberapa karakter yang telah dibentuk Ramadhan, hendaknya dapat diinternalisasikan dalam kehidupan pribadi dan sosial. Sehingga kehadiran Idul Fitri diharapkan benar-benar membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan masyarakat. Dengan itu akan lahir masyarakat yang ghuyub, toleran, peka, dan bersatu.

Pertama, komunkatif. Kemampuan menjaga lisan merupakan aspek dari keterampilan berinteraksi dan berkomunikasi secara baik (ma’ruf). Bukankah hampir setiap ketegangan dan konflik yang terjadi lebih banyak disebabkan oleh kesalahan dalam berkomunikasi? dan kesalahan dalam menyikapi setiap komunikasi (misscommucation)? Konon, banyak keluarga berantakan (broken home) juga disebabkan oleh ketidakmampuan dalam berkomunikasi secara ma’ruf antarpasangan. Artinya, ketrampilan dalam berkomunikasi merupakan aspek yang sangat penting dalam merawat keharmonisan keluarga dan sosial.

Puasa telah mendidik dan melatih seseorang sebulan penuh agar komunikatif dalam berkomunikasi. Sebab, lisan tak bertulang telah banyak mengantarkan seseorang menuju kebahagiaan dan kesengsaraan. Lisan banyak menyebabkan terjadinya perpecahan, permusuhan, pembodohan, dan pengkhianatan dalam pergulatan kehidupan sosial. Sebaliknya, lisan pun telah menyebabkan terjadinya persatuan, kebersamaan, pencerdasan, dan pencerahan dalam pergulatan sosial. Sebab itu, berbahasalah dengan komunikatif sejak Idul Fitri tiba hingga Ramadhan selanjutnya.

Kedua, cerdas emosional. Kecerdasan emosional merupakan aspek penting dalam meraih kesuksesan di lingkungan sosial. Tanpa kecerdasan emosional yang baik, manusia akan sulit berkomunikasi dan berinteraksi dalam kehidupan sosial. Bahkan, 80 persen kesuksesan seseorang ditentukan oleh kecerdasan emosional, hanya 20 persen kesuksesan disumbangkan dari kecerdasan intelektual (Abuddin Nata, 2016). Ini menunjukkan kecerdasan emosional merupakan kecerdasan dominan yang harus dimiliki seseorang untuk menggapai kesuksesan.

Puasa telah membentuk manusia-manusia yang cerdas secara emosional. Sehingga memiliki kemampuan menjaga dan mengontrol emosi (marah) dalam pergulatan kehidupan sosial. Sebab, setiap manusia pasti memiliki sifat marah. Sifat marah ini muncul ketika seseorang melihat sesuatu yang tidak disukainya. Artinya, memiliki sifat marah merupakan suatu yang normal dan manusiawi. Tapi, apabila seseorang hanya suka marah-marah, atau hanya terjebak pada rutinitas marah tanpa sebab dan tidak penting, ini sesuatu yang abnormal dan tidak manusiawi.

Karena itu, momentum Idul Fitri hendaknya menjadi manusia pemarah pada tempat-tempat yang layak marah, semisal marah ketika agamanya dihina, marah ketika kitab suci dilecehkan, dan marah ketika isterinya bermaksiat, serta marah ketika anaknya tidak shalat. Pun, marah pada tempat-tempat yang layak dan dianjurkan harus dilakukan dengan cara-cara yang ma’ruf. Marah dengan brutal dan merusak meskipun pada tempat-tempat yang layak dan patut, termasuk perilaku yang tidak layak dan tidak patut.

Ketiga, berintegritas. Integritas merupakan aspek penting dalam menjalani kehidupan. Manusia tanpa integritas akan mudah terjerumus pada perilaku nista, semisal penipuan, pembodohan, dan korupsi. Berapa banyak para pejabat yang memiliki intelektual tinggi tapi terjerumus dalam kasus korupsi? Berapa banyak agamawan yang mendekam dipenjara akibat korupsi? Berapa banyak akademisi yang terjerat kasus narkoba, perselingkuhan, dan lainnya? Sejumlah persoalan tersebut terjadi karena tidak memiliki integritas, baik integritas dalam bekerja, ilmu pengetahuan, dan integritas dalam beramal sosial.

Satu aspek integritas yaitu kejujuran. Kini kejujuran menjadi barang langka dalam segala bidang kehidupan, baik dalam dunia pendidikan maupun politik. Dibentuknya Tim Saber Pungli (Sapu Bersih Pungutan Liar) oleh pemerintah merupakan satu indikasi bahwa kejujuran sudah mulai sirna di negeri ini. Karena itu, hendaknya dengan ibadah puasa akan melahirkan manusia-manusia yang memiliki integritas pada saat Idul Fitri tiba.

Kejujuran akan mengantarkan si pelakunya menuju pintu kebaikan dan kebahagiaan. Sedangkan kebohongan, kedustaan, dan kemunafikan akan mengantarkan si pelakunya menuju gerbang kehancuran dan kebinasaan. Artinya, tidak ada ketenangan hidup dari kebohongan, kedustaan, dan kemunafikan. Ketenagan hidup hanya diperoleh dari kejujuran. Sebab itu, hidup dalam lingkungan sosial hendaknya memiliki sifat jujur. Orang-orang jujur akan disayang masyarakat, sedangkan orang-orang dusta akan menjadi objek kebencian masyarakat.

Keempat, peka dan peduli persoalan kemasyarakatan. Satu cara menumbuhkan kepekaan dan kepedulian sosial yaitu dengan merasakan langsung penderitaan orang lain. Sulit muncul kepekaan dan kepedulian, tanpa merasakan penderitaan seperti yang dirasakan oleh orang lain. Lihatlah para pejabat yang pernah ditempa dengan kemiskinan, mereka sangat mudah peduli dan peka terhadap rakyat miskin. Bandingkan dengan para pemimpin yang tidak pernah merasakan pahitnya hidup miskin, mereka hanya memikirkan kepentingan pribadi dan golongan semata.

Sebab itu, puasa telah mendidik seseorang untuk merasakan pahitnya hidup dalam kefakiran dan kemiskinan. Maka dengan puasa kita dapat merasakan langsung apa yang dialami oleh orang-orang fakir dan miskin, semisal rasa haus dan lapar. Sebab itu, dengan ibadah puasa diharapkan kita lebih peduli dan peka kepada mereka saat Idul Fitri tiba. Sebab, Islam bukan hanya mengajarkan manusia untuk memiliki kesalehan pribadi, tapi juga memiliki kesalehan sosial. Manusia yang memiliki kesalehan pribadi dan sosial akan disayang penduduk langit dan dicintai oleh penduduk bumi.

Dengan demikian, ketika karakter mulia yang telah dibentuk puasa Ramadhan tersebut dapat diinternalisasikan dalam kehidupan sosial pascaibadah puasa. Maka sejak Idul Fitri tiba akan memberikan perubahan secara massif dalam kehidupan sosial. Sebab, meraih Idul Fitri yang sesungguhnya bukanlah hanya sekadar dapat merayakan Idul Fitri bersama keluarga. Tapi, meraih Idul Fitri juga harus dengan menginternalisasikan karakter yang telah dibentuk puasa Ramadhah di atas. Sehingga Idul Fitri menjadi momentum untuk melakukan berbagai transformasi dalam pergulatan kehidupan sosial. Semoga!

* Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: [email protected] (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id