Meraih Fitrah di Hari Fitri | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Meraih Fitrah di Hari Fitri

Meraih Fitrah di Hari Fitri
Foto Meraih Fitrah di Hari Fitri

Oleh A. Wahab Abdi

HAMPIR tidak terasa, Ramadhan 1438 akan segera berakhir, berlalu meninggalkan kita. Suasana Ramadhan yang disemaraki dengan kesyahduan dan kekhusyukan beribadah akan segera berlalu. Tidak ada yang tau apakah kita akan berjumpa lagi dengan Ramadhan 1439, kecuali Allah Swt.

Selama Ramadhan, berbagai aktivitas syariat telah kita laksanakan. Berpuasa, berbuka bersama, menunaikan shalat wajib dan tarawih secara berjamaah dan qiyamul lail, tadarus Alquran, mengikuti ceramah agama, bersedekah, beriktikaf, bermunajat, serta amalan-amalan lainnya.

Bagi ahli ibadah, berjumpa dengan Ramadhan merupakan kebahagian yang tiada tara. Sebaliknya, ketika ditinggalan oleh Ramadhan menimbulkan kesedihan yang mendalam. Rasa senang dan sedih ini bergayut dihati orang-orang yang paham betul akan makna keagungan Ramadhan.

Rasa bahagia bertemu dengan Ramadhan dilandasi oleh kenyataan bahwa tidak semua orang diberi umur panjang hingga bertemu lagi dengan bulan yang mulia ini. Sebaliknya, rasa sedih ditinggalkan oleh Ramadhan dipengaruhi oleh ketidakpastian apakah akan bertemu kembali dengan Ramadhan berikutnya.

Menuju fitrah
Ramadhan dikenal sebagai bulan umat. Bulan agung ini memiliki sejumlah kelebihan dan keistimewaan yang diperuntukan bagi umat. Umat Islam diberi peluang dan kemudahan yang begitu banyak dan manakjubkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dalam bulan Ramadhan diperintahkan oleh Allah Swt untuk berpuasa bagi hamba-hamba yang beriman. Puasa dikenal sebagai ibadah untuk melatih seseorang menjadi pribadi yang memiliki sensitivitas sosial, dan memperkuat spirit spiritualitas dan ketauhidan. Dalam bahasa Alquran dikenal dengan istilah membentuk hamba-hamba yang bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183).

Dalam bulan Ramadhan juga terdapat satu malam yang disebut dengan malam Lailatul Qadar. Lailatul Qadar sangat istimewa karena lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr: 1-3). Karenanya Ramadhan juga disebut bulan seribu bulan. Jika kita dapat bertemu dengan malam Lailatul Qadar ini dalam keadaan beribadah, maka nilai ibadah itu secara kuantitas sama dengan ibadah seribu bulan di bulan yang lain.

Keistimewaan lain adalah dalam bulan Ramadhan semua ibadah dilipatgadakan pahalanya. Ibadah wajib dilipatgandakan menjadi 70 kali pahala ibadah yang dilakukan di bulan lain, dan ibadah sunah pahalanya sama dengan ibadah wajib. Begitu pula dengan sedekah, bahwa keutamakan sedekah adalah di bulan Ramadhan (HR. Bukhari-Muslim).

Ramadhan juga dikenal dengan bulan yang membawa misi maghfirah, barakah, dan pembebasan dari siksaan api neraka. Barang siapa yang beribadah secara totalitas karena Allah SWT semata, akan mendapatkan maghfirah, barakah dan keampunan di akhir Ramadhan nanti. Tidak mudah mendapatkan tiga anugerah Allah Swt tersebut di bulan-bulan lain.

Penunaian semua ibadah ini adalah suatu proses pembersihan diri. Membersihkan diri dari maksiat dan dosa kepada Allah Swt, dan juga membersihkan diri dari dosa-dosa sesama makhluk, khususnya sesama manusia. Proses pembersihan diri ini bertujuan untuk kembali ke fitrah.

Sejauh mana seseorang dapat memberi makna pembersihan diri selama Ramadhan untuk dirinya, tentu sangat tergantung kepada kualitas dan kuantitas ibadah yang ditunaikannya. Semakin tinggi kualitas dan kuantitas ibadah yang ditunaikan, maka semakin bermakna proses pembersihan diri dimaksud bagi dirinya. Sebaliknya, proses ini tidak bermakna apapun jika Ramadhan dilewati tanpa disertai dengan ibadah kepada Allah sesuai tuntunan-Nya.

Esensi fitrah
Berakhirnya bulan Ramadhan ditandai dengan datangnya Idul Fitri. Perayaan Idul Fitri pada hakekatnya adalah untuk menyambut kemenangan atas perjuangan pengendalian hawa nafsu selama Ramadhan. Karena pengendalian hawa nafsu selama Ramadham merupakan suatu perjuangan yang cukup melelahkan dan butuh kesabaran.

Makna Idul Fitri bisa beragam. Ada yang mendefinisikan Idul Fitri berarti kembali kepada fitrah karena telah ditempa melalui proses tarbiyah dengan berbagai ibadah di bulan Ramadhan. Seseorang yang telah berpuasa dan melaksanakan berbagai ibadah selama Ramadhan akan mendapatkan barakah, maghfirah dan ampunan dari Allah Swt.

Idul Fitri juga diartikan sebagai hari raya berbuka. Setelah sebulan penuh seseorang berpuasa, pada hari Idul Fitri orang tersebut berbuka sebagai ucapan tanda syukur kepada-Nya. “Idul Fitri adalah hari di mana kalian berbuka, dan Idul Adha adalah hari dimana kalian berkurban.” (HR. Ibnu Majah).

Esensi Idul Fitri secara lebih mendalam dapat diartikan sebagai hari di mana umat Islam yang telah menunaikan puasa, mudah-mudahan telah memperoleh derajat takwa (QS. Al-Baqarah: 183). Derajat takwa ini merupakan satu derajat yang sangat dimuliakan oleh Allah Swt.

Allah Swt berfirman, “Jika penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96). Di dalam Surah Al Jasiyah Allah juga berfirman, “Dan sungguh orang-orang yang zalim itu sebagian menjadi pelindung atas sebagian yang lainnya, sedangkan Allah menjadi pelindung bagi orang-orang yang bertakwa.”

Mengacu kepada bebarapa ayat Alquran ini, maka esensi Idul Fitri adalah manusia kembali ke fitrah. Kondisi fitrah ini harus dijaga dan dipelihara dengan semangat takwa, yaitu suatu sikap hidup yang selalu berada dalam koridor yang telah ditentukan oleh syariat sehingga tidak terjebak ke dalam jurang maksiat. Karena, kalau setelah Ramadhan kemudian kembali berbuat maksiat, maka derajat taqwa tidak mampu mengawal sifat kefitrahannya.

Hari-hari ini, kita dapat menyaksikan sendiri bahwa berbagai murka Allah ditimpakan kepada umat Islam di hampir seluruh pelosok dunia. Kemiskinan, kelaparan, perang sesama Islam dan berbagai bencana lainnya terus melanda umat Islam di mana-mana. Hal ini terjadi antara lain, karena umat Islam secara komunal gagal meraih fitrah di Hari Fitri yang dilalui setiap tahun, yakni derajat takwa yang dijanjikan Allah Swt.

* A. Wahab Abdi, Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id