Awal hingga Akhir Ramadhan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Awal hingga Akhir Ramadhan

Awal hingga Akhir Ramadhan
Foto Awal hingga Akhir Ramadhan

Oleh Sri Rahmi

MENGAPA selalu saja setiap tahunnya mendekati bulan Ramadhan semua bahan kebutuhan pokok melonjak harganya tanpa mampu dibendung oleh siapapun, termasuk pemerintah? Mengapa setiap pasar dan objek wisata menjadi penuh dengan orang-orang yang akan menghabiskan waktu pada minggu terakhir sebelum Ramadhan? Ada apa dengan penyambutan Ramadhan, yang saat ini sudah menjadi tradisi yang sulit ditiadakan?

Belum lagi keanehan dalam menjalani Ramadhan. Menunggu waktu berbuka yang dengan bahasa anak zaman sekarang ngabuburit di tempat dan dengan kondisi yang kadangkala melanggar syariat. Sampai pada penyambutan hari kemenangan Idul Fitri yang kadang kala di luar batas kewajaran dan amat sangat berlebih-lebihan. Di mana letak kekeliruan yang terjadi? Ada apa dengan masyarakat muslim kita dewasa ini? Serentetan kebiasaan yang telah lazim terjadi di Indonesia.

Saat ini seluruh umat muslim di seantero dunia sedang menjalani hari-hari terakhir ibadah Ramadhan. Seperti terlihat di awal Ramadhan tahun ini, ada banyak cara yang dilakukan oleh setiap individu maupun daerah dalam menyambut kedatangan Ramadhan. Begitu juga dengan aktivitas dalam mengisi Ramadhan serta kebiasaan kita menghabiskan waktu puasa kita sehari-hari. Begitupun saat kita bersuka cita menyambut datangnya hari kemenangan yang juga sudah di depan mata kita.

Tidak ada yang melarang apapun aktivitas yang kita lakukan dalam menyambut Ramadhan, asalkan apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam yang terkandung dalam Alquran dan hadis serta fatwa para ulama. Agar segala rutinitas menyambut Ramadhan, menjalankan hari-hari Ramadhan sampai bergembira di hari kemenangan tidak salah kaprah, maka ilmulah yang dapat mengendalikan segala ibadah itu, guna mencapai kebenaran dan kesempurnaan yang hakiki.

Membutuhkan ilmu
Ilmu merupakan hal yang sangat penting dalam hidup ini, setiap saat manusia membutuhkan ilmu untuk menjalani kehidupannya. Imam Ahmad Bin Hambal berkata bahwasannya “Manusia sangat berhajat pada ilmu lebih daripada hajat mereka pada makanan dan minuman, karena manusia berhajat pada makanan dan minuman sehari sekali atau dua kali akan tetapi manusia berhajat pada ilmu sebanyak bilangan napasnya.”

Ibadah puasa memakan banyak biaya dan tenaga, sehingga sangat disayangkan ketika ibadah yang sangat mahal nilainya ini, tidak menghasilkan sesuatu apapun bagi diri kita. Pernahkah hadir dalam fikiran dan diri kita ketika melaksanakan ibadah puasa, atau bahkan dalam setiap amal perbuatan lainnya apa yang kita peroleh dari ibadah kita?

Ataukah sebaliknya, justru kita begitu menganggap gampang setiap amal ibadah, sehingga tidak mempedulikan fondasi ilmunya. Inilah yang penting untuk direnungkan. Semangat untuk mendasari setiap amal dengan ilmu merupakan cerminan perhatian seseorang terhadap kesempurnaannya dalam beribadah.

Dengan ilmu, maka kebiasaan yang telah dijadikan budaya oleh sebagian masyarakat kita saat menyambut Ramadhan sedikit demi sedikit dapat diganti, bahkan dihilangkan dengan rutinitas yang lebih bermanfaat dan memiliki nilai-nilai sosial yang lebih baik.

Alangkah ruginya manusia jika berlalu Ramadhan ini dengan aktivitas yang sia-sia. Karena tidak ada satu pun di antara kita yang bisa meyakini bahwa akan kembali dipertemukan dengan Ramadhan yang akan datang. Maka, isilah Ramadhan dengan amalan-amalan yang bermanfaat. Meningkatkan ibadah-ibadah wajib maupun sunnah yang mungkin di bulan lainnya kita lalai.

Ada perbedaan yang sangat signifikan antara orang yang mengisi hari-hari ramadhan berdasarkan ilmu dengan yang tidak. Mereka yang memahami ilmu agama akan menghabiskan hari-harinya sesuai dengan tuntunan yang termaktub dalam Alquran dan hadis Nabi. Mereka akan menjadikan Ramadhan sebagai sekolah yang hasilnya nanti akan diterapkan dalam sebelas bulan selain Ramadhan. Sedangkan siapa saja yang menjalani Ramadhan tanpa ilmu, maka aktivitas yang dilakukan merupakan sesuatu yang sia-sia.

Berapa banyak orang-orang di sekitar kita yang menjalani kesalahan pola hidup selama Ramadhan. Makan sahur dan berbuka secara berlebihan, sehingga tidak mampu menjalankan ibadah secara maksimal karena kesehatan terganggu. Belum lagi ketidakmampuan untuk menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang merusak nilai ibadah puasa seperti mengambil yang bukan miliknya, ghibah, menzalimi orang lain dan lain sebagainya.

Mengakhiri Ramadhan
Siapa saja yang memiliki ilmu tentang manfaat besar yang diperoleh di pengujung Ramadhan, maka orang tersebut akan meningkatkan ibadahnya. Malah jika bisa, akan dihabiskan hidupnya di masjid-masjid. Karena ada banyak keistimewaan yang telah dijanjikan Allah bagi siapa saja yang mampu bertahan dan menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan. Allah akan membebaskan dari siksa api neraka dan menyediakan satu malam yang disebut sebagai malam Lailatul Qadar, di mana malam tersebut lebih baik dari seribu bulan jika kita mampu memperolehnya.

Namun apa yang tampak pada masyarakat kita di akhir Ramadhan? Masjid-masjid mulai sepi dan kehilangan jamaah. Pusat perbelanjaan mulai disesaki oleh masyarakat yang ingin membeli kebutuhan lebaran. Bahkan yang lebih disayangkan adalah meninggalkan shalat Tarawih dan qiyamul lail lainnya disebabkan aktivitas membuat kue lebaran.

Oleh sebab itu, maka marilah kita awali setiap amalan ibadah dengan ilmu agar niat kita menjadi lurus dan tidak terjerumus dalam ibadah yang tidak ada tuntunan yang berujung bid’ah. Ingatlah bahwa amal ibadah yang dibangun tanpa dasar ilmu akan mendatangkan kerusakan dan bukan kebaikan. Akhirnya, mari menjalankan ibadah puasa Ramadhan yang tinggal beberapa lagi dan menyongsong Idul Fitri dengan ilmu. Wallahu’alam bissawab.

* Dr. Sri Rahmi, MA., Dosen Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar Raniry Darussalam, Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id