Berkah Ramadhan di Thailand | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Berkah Ramadhan di Thailand

Berkah Ramadhan di Thailand
Foto Berkah Ramadhan di Thailand

OLEH HAJRIANI APRILLIA, mahasiswi Universitas Almuslim Bireuen, peserta PPL-KKM di Thailand, melaporkan dari Bangkok

RAMADHAN ini merupakan Ramadhan yang tak bisa saya lupakan karena saya menjalaninya di negara orang yang mayoritas penduduknya non-Islam.

Seperti diketahui, Thailand adalah sebuah negara di Asia Tenggara dengan jumlah penduduk muslimnya tak lebih dari 10 persen. Sedangkan pemeluk agama yang mayoritas di Negeri Gajah Putih ini adalah Budha, sedangkan pemeluk Islam nomor dua terbanyak jumlahnya di Thailand.

Melaksanakan berbagai ibadah sesuai perintah agama tentunya menjadi suatu problema tersendiri bagi saya selama berada di sini. Apalagi saya berasal dari Aceh (Indonesia), bukan dari penduduk asli. Tapi alhamdulillah, hal itu tidak menjadi halangan bagi saya dalam menunaikan ibadah puasa pada Ramadhan ini.

Saya adalah mahasiswi Universitas Almuslim Peusangan Bireuen yang dikirim untuk melaksanakan Program Praktik Lapangan-Kuliah Kerja Mahasiswa (PPL-KKM). Jumlah kami dari Kampus Umuslim sebanyak lima orang. Kami melaksanakan pengabdian di sejumlah sekolah dan pesantren di Thailand Selatan selama lima bulan.

Peserta PPL-KKM ini semuanya 72 orang, berasal dari 12 perguruan tinggi se-Indonesia. Di Thailand, kami ditempatkan tersebar di sejumlah lokasi. Saya kebetulan ditempatkan di salah satu provinsi di Thailand Selatan, yaitu Provinsi Songkhla. Provinsi ini mayoritas penduduknya Budha dan merupakan provinsi yang terbanyak penganut Budhanya dibanding provinsi lain di Thailand Selatan.

Saya ditempatkan di Miftahuddeen School, Nathawee, Songkhla, Thailand. Saya mengajar di sini pelajaran bahasa Inggris dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Sekolah ini aktif hanya hari Senin sampai Jumat, sedangkan hari Sabtu dan Minggu libur. Jadwal masuknya dimulai pukul 07.30 sampai 16.30 WIB.

Di Miftahuddeen School hanya ada tiga guru yang bisa berbahasa Inggris dan Melayu, yaitu poo (kepala sekolah), kemudian guru pembimbing saya, dan satu lagi guru lulusan sebuah universitas di Malaysia. Jadi, selama saya melaksanakan pengabdian saya tidak begitu susah dengan bahasa karena saya bisa berkomunikasi dengan tiga guru tersebut. Sedangkan dengan guru lain saya hanya melempar senyum saja ketika berjumpa, karena mereka rata-rata tak paham bahasa Inggris dan bahasa Melayu. Dalam interaksi sehari-hari mereka menggunakan bahasa Thai (Siam).

Di daerah saya tinggal selama Ramadhan, warung atau kedai penjual makanan, tetap terbuka seperti hari biasa. Tidak ada tanda-tanda bahwa sekarang sedang memasuki bulan Ramadhan. Hanya ketika agak sore mulai muncul warga yang jualan takjil Ramadhan.

Jumlah masjid di Provinsi Songkhla juga sangat sedikit. Bahasa yang digunakan masyarakat di provinsi ini hanya bahasa Thai, tidak seperti Provinsi Narathiwat, Yala, Pattani, mereka bisa bahasa Melayu, bahkan bisa berbahasa Inggris.

Letak geografis Songkhla sangat jauh dari ibu kota Thailand (Bangkok). Jika kita ingin pergi dari Songkhla ke Bangkok naik kereta api, maka butuh waktu sekitar sepuluh jam lebih. Tapi di Songkhla juga terdapat Kantor Konsulat Republik Indonesia atau KRI. Saat pertama tiba di Thailand, kepada kami telah diperkenalkan kantor tersebut. Di sinilah tempat berkumpulnya orang Indonesia di Thailand Selatan.

Sebagai kegiatan rutin di kantor itu diadakan berbagai kegiatan yang merupakan kebiasaan masyarakat di Tanah Air, seperti buka puasa bersama, shalat Idul Fitri, dan memperingati hari-hari besar seperti hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Meskipun di provinsi ini mayoritas Budha, namun jika kita ingin mencari makanan halal, baik yang siap saji maupun bahan mentah, itu sangatlah mudah. Saya setiap sore menjelang buka puasa, sering membeli makanan di kedai muslim di pinggir jalan. Setiap kali saya ingin membeli, saya perhatikan dulu penjual dan pelanggan lain yang membeli tersebut memakai jilbab. Setelah itu baru saya sapa dengan ucapan Assalamualaikum. Ini saya lakukan untuk menghindari keraguan saya terhadap penjual makanan tersebut.

Kemudian, tantangan selama menjalankan puasa di negeri orang tersebut merupakan pengalaman pertama bagi saya menjalankan ibadah puasa di tengah masyarakat nonmuslim. Tantangan kedua adalah terjadinya perubahan cuaca yang sering berubah drastis, pagi sampai sore cuaca biasanya sangat panas, namun tiba-tiba malam hari bisa hujan deras dan dingin sekali. Ini menjadi tantangan, karena saya menjalaninya jauh dari orang tua dan saudara lain.

Selain itu, pengalaman lain yang saya perhatikan terhadap budaya yang ada di daerah Songkla Thailand ini. Yaitu budaya mengaji sebelum berbuka puasa, setiap masjid memiliki jadwal pengajian tersendiri dengan kitab-kitab yang berbeda. Selain itu, selama saya berada di Thailand pada Ramadhan ini tidak ada budaya tadarus pascashalat Tarawih dan Witir ataupun setelah shalat Subuh di masjid dengan menggunakan alat pengeras suara. Itulah hal-hal beda yang saya rasakan saat puasa di sini. ([email protected])

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: [email protected] (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id