Puasa Mewujudkan Kesantunan Politik | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Puasa Mewujudkan Kesantunan Politik

Puasa Mewujudkan Kesantunan Politik
Foto Puasa Mewujudkan Kesantunan Politik

Iskandar Usman Al-Farlaky, SHI
Ketua Fraksi Partai Aceh DPRA
Email: [email protected]

RAMADHAN dan politik memiliki korelasi yang filosofis, karena sesunguhnya satu output-nya adalah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Spirit dari ketakwaan dapat diterjemahkan sebagai bagian dari bentuk kejujuran, ketulusan, rendah hati dan saling peduli (care). Spirit ini, kemudian melahirkan seseorang bertindak dan bertingkahlaku yang santun, sebagai jalan menuntun seseorang muslim untuk meningkatkan hubungan antarmanusia dan dengan Allah. Begitu juga dengan politik, satu ouput-nya adalah melahirkan sikap yang jujur dan saling peduli. Maka jadilah puasa dan politik adalah satu jalan menuju kedamaian.

Bagi publik, dan politisi sudah seharusnya ramadan ini menjadi pembuka sekat-sekat perbedaan antarkader partai politik atau perbedaan antarumat beragama yang tergabung dalam berbargai organisasi kemasyarakatan (ormas), organisasi kemanusian dan organisasi pendidikan. Perbedaan sikap dan aliran politik terlihat cair dalam bulan suci Ramadhan. Ini bukan hanya terlihat di Aceh, tapi juga di seluruh daerah yang mayoritas muslim. Karena esensi Ramadhan sebagai mementum menuju kesantunan politik dapat dilihat dari kebaikan dan perilaku politisi itu sendiri.

Imam Asy-Syatibi dalam kitab al-Muwafaqat mengatakan bahwa seseorang yang bekerja dalam kancah politik, maka setidaknya harus memiliki lima hal yang wajib dipelihara atau dijaga, yaitu: (1) Menjaga adama (hifdzu ad-din); (2) Menjaga jiwa (hifdzu an-nafs); (3) Menjaga nasab (hifdzu an-nasl); (4) Menjaga akal (hifdzu aql); (5) Menjaga harta (hifdzu al-mal).

Sebagai seorang muslim, seseorang politisi jika merujuk pada pendapat Imam Asy-Syatibi jelas disebutkan pada level pertama bahwa walau seorang politisi berbeda partai, berbeda dapil dan berbeda latar belakang tetap harus menjaga agama sebagai prisip utama dalam kehidupan berpolitik. Jadi tidak ada alasan yang dapat diketengahkan bahwa Ramadhan tidak ada hubungan dengan perilaku politisi itu sendiri.

Menjaga lisan
Secara umum relevansi Ramadhan dengan kesantunan politik sekarang ini dapat dilihat dari saling menjaga lisan para politisi dalam menjaga ketentraman dalam kehidupan sosial masyarakat sehari-hari. Artinya, terlihat bahwa selama Ramadhan semua politisi dan masyarakat umum tidak melanggar norma agama, atau sengaja mengeluarkan “jurus mabuk” untuk membuat publik heboh, yang pada akhirnya dapat mengganggu ketentraman masyarakat. Perilaku-perilaku elite di Aceh yang menjurus kepada Machiavellianisme alias politik menghalalkan segala cara tidak terjadi selama Ramadhan.

Perilaku machiavellianisme yang dilakukan dalam Ramadhan seperti berburuk sangka kepada sahabat, berbohong kepada konstituen dan lainnya akan mengurangi kualitas ibadah puasa kita. Bisa juga dengan sengaja menjadi “provokator demonstrasi” juga akan mengurangi kualitas dan kesempurnaan ibadah puasa tentunya.

Politisi yang taat beribah dan menjadikan agama sebagai azas dalam berpolitik, maka harus menjauhi sikap-sikap yang kontraproduktif. Meminjam pendapat Syeikh Ahmad Muhammad Az-Zarqo, dalam kitab kaidah fikihnya yang menyebutkan, daf ‘u al-mafasid aula min jalbi al-mashalich (menjauhi sesuatu yang berakibat kerusakan itu lebih didahulukan, dari pada melakukan sesuatu yang akan mengakibatkan kebaikan).

Seorang muslim dalam berpuasa harus siap lahir dan batin. Semua muslim harus mengerti makna atau tujuan utama puasa. Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin membagi tiga tingkatan (level) puasa, yaitu: (1) Puasa umum, (2) Puasa khusus, dan (3) Puasa paling khusus. Yang dimaksud puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Puasa khusus ialah menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sementara puasa paling khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah Swt. Untuk puasa yang ketiga ini (shaumu khususil khusus) disebut batal bila terlintas dalam hati pikiran selain Allah Swt dan hari akhir.

Abu Hamid bin Muhammad al-Ghazali dalam kitabnya Al-Arba’in fii Ushuul al-Diin lebih detil menjelaskan bahwa keistimewaan puasa terdapat dua hal: Pertama, puasa merupakan ibadah yang bersifat individual untuk menjaga diri dari perbuatan maksiat. Puasa juga merupakan sebuah amal ibadah yang bersifat rahasia, tidak dapat diketahui kecuali hanya Allah dan orang yang melakukan puasa, tidak seperti shalat, zakat dan lain sebagainya, dan; Kedua, puasa merupakan cara mencegah dan melemahkan musuh Allah, dan seburuk-buruk musuh Allah adalah setan. Sesungguhnya setan tidak akan menjadi kuat, kecuali hanya dengan perantara syahwat hawa nafsu yang mengalahkan manusia.

Ibadah sensitif
Sudah seharusnya pada bulan Ramadhan ini, frekuensi ibadah harus lebih banyak dibandingkan urusan lainnya. Bekerja untuk kepentingan publik yang dalam kajian maqashid syariah-nya disebut al-maslahath al-ammah (kepentingan publik) juga bagian dari mengisi ibadah puasa. Dan yang lebih penting, selama Ramadhan kita terhindari dari manuver politik yang dapat mengganggu ketentraman berpuasa. Karena puasa adalah ibadah yang sangat sensitif, gampang rusak hanya karena kita memusihi seseorang, misalnya.

Mari kita tingkatkan dan membumikan nilai-nilai religiusitas yang kita miliki untuk membawa kehidupan yang lebih bermakna bukan saja untuk diri kita, tapi untuk umat muslim seluruhnya. Untuk itu, diperlukan juga adanya kontrol diri dan kontrol sosial sebagai basis untuk menghindari munculnya tindakan yang didasari oleh keserakahan hawa nafsu.

Puasa dalam bulan suci Ramadhan bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan hawa nafsu. Puasa juga dapat dimaknai sebagai proses dalam rangka membawa keberkahan bagi umat manusia. Begitu juga dengan politik, sejatinya politik menurut Bapak Ilmu Politik, Aristoteles (384 SM – 322 SM) bertujuan untuk kebaikan hidup manusia, politics is a good life. Semoga Ramadhan ini benar-benar cerminan menuju kesantunan politik kita, sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat Aceh. Insya Allah! (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id