Warga Desak Penuntasan Proyek Jembatan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Warga Desak Penuntasan Proyek Jembatan

Foto Warga Desak Penuntasan Proyek Jembatan

* Pulo Bungong-Geunteng

SIGLI – Proyek pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulo Bungong dengan Geunteng, Kecamatan Batee, Pidie terhenti total sejak tahun 2012 lalu. Imbasnya, sekitar 5.000 penduduk di tiga gampong di daerah pesisir itu terpaksa menggunakan jembatan darurat.

Akibat konstruksi jemabatan yang tidak layak, jembatan ini juga sering memakan korban, di antaranya anak-anak sekolah yang terperosok akibat jebolnya lantai jembatan. Hal ini sudah sering dilaporkan ke pemerintah, namun upaya perbaikan tidak juga dilakukan dalam empat tahun terakhir.

Amatan Serambi, proyek pembangunan jembatan itu baru sebatas membangun abutmen (kepala jembatan) saja, dengan anggaran sebesar Rp 998.367.000 bersumber dari APBA.

Imum Mukim Bintang Hu, Razali Leube Cut, Senin (14/3) mengatakan, ia dan ribuan warga lainnya sangat kecewa terhadap kinerja Pemerintah Aceh yang menelantarkan pembangunan jembatan penghubung Pulo Bungong-Geunteng ini. “Dengan dana hampir satu miliar, yang dibangun hanya abutmen-nya saja, dan kemudian ditelantarkan selama bertahun-tahun,” keluhnya.

Padahal, korban yang jatuh terperosok saat melintasi jembatan terus bertambah, dan hal ini sudah sering dilaporkan. Namun pemerintah mengabaikannya. Selama ini, mayoritas warga yang berprofesi nelayan juga tidak bisa membawa hasil tangkapan, karena jembatan darurat ini hanya berlantai papan yang mudah lapuk dan sering ambruk. “Pemerintah jangan membiarkan kami terus menggunakan jembatan darurat. Padahal, dana Otsus jumlahnya triliunan yang mengalir ke Aceh. Kenapa jembatan Geunteng ini tak juga selesai,” ujarnya.

Keuchik Geunteng Timu, Bukhari, menambahkan, awalnya warga cukup bahagia saat mendengar berita bahwa proyek pembangunan jembatan Geunteng akan diselesaikan pada tahun 2015. “Tapi, warga kemudian harus menelan kekecewaan, karena proyek tersebut tidak juga dilanjutkan. Mahal, terkesan ditelantarkan,” ujarnya.

Padahal, jembatan ini sarana penyeberangan satu-satunya bagi masyarakat Gampong Pulo Bungong, Geunteng Timu, dan Geunteng Barat. Jumlah penduduk di tiga gampong itu mencapai 5.000 jiwa, dan kebanyakan berprofesi sebagai nelayan tradisional, yang setiap hari harus melintasi jembatan darurat ini untuk beraktivitas. Kondisi ini terpaksa dijalani ribuan masyarakat sejak empat tahun lalu.

Jembatan darurat ini, kata Bukhari, sudah berulang-ulang direhab oleh warga secara swadaya, karena kondisinya lapuk, sementara pemerintah tak kunjung melanjutkan pembangunannya. “Kami memperkirakan, konstruksi jembatan ini tak mampu bertahan dalam setengah tahun ke depan, karena tiang jembatan yang dibuat dari batang kelapa, sebagian telah patah.

“Kami khawatir warga yang jatuh saat melintasi jembatan ini akan terus bertambah. Dan pemerintah adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas jatuhnya korban, karena membiarkan warga menggunakan jembatan darurat selama bertahun-tahun,” tukas Bukhari.

Kepala Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK) Pidie, Muhammad Nazar MT, yang dihubungi Serambi, Senin (14/3) mengatakan, kelanjutan proyek pembangunan jembatan di Kecamatan Batee ini telah diusul Bappeda Pidie ke Pemerintah Aceh.

“Proyek jembatan ini diusulkan oleh Bappeda Pidie. Kelanjutannya pembangunannya juga mereka yang usulkan. Untuk lebih jelas silakan tanya langsung pada Kepala Bappeda Pidie,” sarannya.

Sementara itu, Kepala Bappeda Pidie, M Adam MM tidak berhasil dikonfirmasi, karena saat dihubungi yang bersangkutan sedang memimpin rapat. “Maaf, saya lagi memimpin rapat,” kata M Adam yang kemudian mematikan ponselnya.(naz) (uri/aufik/arahdiba/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id