Puasa Menyinergikan Kekuatan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Puasa Menyinergikan Kekuatan

Puasa Menyinergikan Kekuatan
Foto Puasa Menyinergikan Kekuatan

Oleh Nuruzzahri (Waled Samalanga)

SETIAP ajaran yang dibebankan Allah Swt kepada umat manusia terdapat hikmah atau filosofi di dalamnya. Islam menganjurkan kepada penganutnya untuk menguak rahasia tersebut agar tersingkap, sehingga jiwa menjadi puas dalam menjalankan perintah Tuhannya. Karena apabila seseorang yang melakukan ajaran Tuhan tanpa mengetahui filosofi dari diperintahkan-Nya ajaran dimaksud, pada suatu saat akan membawa dia pada titik jenuh dan tak mustahil apabila datang orang yang meragukan, maka dia akan menjadi ragu terhadap apa yang telah ia lakukan.

Maka hampir setiap perintah dalam kitab suci Alquran, Allah Swt selalu membarengi dengan hikmah atau filosofi di akhir ayat. Misalnya perintah Allah kepada kita untuk pulang apabila dilarang masuk dalam rumah seseorang, di mana Allah menyebutkan hikmahnya dengan, “Itu lebih bersih bagimu” (QS. An-Nur: 30).

Allah Swt memerintahkan kita untuk menjaga pandangan (ghazzul bashar), di mana Allah langsung menyebut hikmah di akhir ayat dengan, “Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka” (QS. An-Nur: 30). Begitu juga dengan puasa Ramadhan, Allah Swt memerintahkan umat Islam semuanya untuk menahan diri dari makan minum, di mana Allah Swt menyebutkan hikmahnya di akhir ayat dengan, “Mudah-mudahan kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183).

Hikmah dari puasa yaitu sebuah jembatan menuju dermaga takwa dapat diketahui semua orang, karena disebutkan secara eksplisit dalam Alquran. Namun di sana ada beberap filosofi lain dari ibadah puasa Ramadhan yang tidak mudah diketahui banyak orang, karena disebutkan secara implisit, yaitu dapat menyinergikan kekuatan.

Tulisan ini mencoba untuk mengupas ibadah puasa Ramadhan yang dapat melahirkan dua kekuatan (fisik dan spiritual), dan sekaligus mengokohkan dua kekuatan itu secara integral dalam jiwa orang berpuasa.

Kekuatan timbal balik
Hidup ini pergulatan, tidak akan menang kecuali orang-orang yang kuat, orang-orang yang lebih akan terinjak-injak, tidak dihargai, dilecehkan atau dikucilkan. Kekuatan dapat membuat orang bodoh dianggap hebat, pencuri dipandang pahlawan, perambok menjadi pembuat regulasi undang-undang.

Kekuatan terbagi dua, kekuatan fisik dan kekuatan spiritual (psike). Sebagai Muslim dianjurkan untuk memupuk dua kekuatan tersebut akan hidup dalam jiwa secara integral. Tidak sepantasnya seorang Muslim hanya memiliki salah satu dari kekuatan itu, apalagi tidak mengandrungi salah satu dari keduanya. Mengapa?

Kekuatan fisik memang dapat diandalkan untuk sebuah pertolongan, dapat dijadikan sebagai alat untuk meraih kemenangan, dapat diperhitungkan sebagai jembatan menuju tirai kekayaan. Tapi hasil yang dimuntahkan dari kekuatan model ini tida bertahan lama, bersifat temporal. Kita tentu masih tergiang dengan kisah kaum ‘Ad yang oleh Allah Swt diberikan kepada mereka tempat tinggal di bawah tenda-tenda besar yang dikelilingi oleh bukit-bukit dari pasir, tenda-tenda itu dibangun di atas tiang besar dan tinggi. Mereka sanggup mendirikan tempat tinggal semewah ini karena mereka dianugerahi postur tubuh yang tinggi, keras, dan power yang kuat. Namun akhirnya mereka ditenggelamkan akibat tidak mau beriman kepada Nabi Hud as. Mereka hanya memiliki kekuatan fisik, tapi tidak punya kekuatan spiritual. Begitu pula dengan kaum Tsamut yang kepada mereka diutuskan Nabi Shaleh as.

Memiliki kekuatan psike (ruh) saja tanpa dibarengi dengan kekuatan fisik (maddiah) memang mampu membuat cahaya iman seseorang melekat dalam dada, merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap langkahnya, dan menumbuhkan kasih sayang antarsesama. Namun mengandalkan kekuatan ini saja tidak mampu menyangkal segala keburukan yang ditujukan kepada kita, serta tak mampu menolong diri saat disakiti oleh orang lain.

Dengan demikian, sebagai Muslim harus memiliki kedua kekuatan dimaksud. Kekuatan fisik untuk menolong badan di saat ada yang sakiti, sementara kekuatan psike untuk menolong ruh agar penyakit tidak tumbuh dalam hati.

Puasa Ramadhan yang diwajibkan atas umat Islam dapat menumbuhkan dua kekuatan dimaksud (fisik dan ruh) secara integral, yang akan melahirkan efek positif dari keduanya. Di lihat dari kekuatan fisik, puasa dapat menyehatkan badan dan mampu menyembuhkan penyakit-penyakit.

Para ahli medis mengatakan bahwa puasa berfungsi sebagai detoksifikasi untuk menghilangkan kotoran, mengeluarkan racun dalam tubuh, menggantikan sel tubuh yang sudah rusak dengan sel tubuh baru, memperbaiki fungsi hormon, menjadikan kulit jadi sehat, serta meningkatkan daya tahan tubuh, karena menusia mempunyai kemampuan terapi alamiah. Hal ini dikuatkan dengan sebuah hadis masyhur, “Berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat.”

Pentingnya kekuatan psike
Ada tiga faktor penting yang dilahirkan puasa Ramadhan dalam ruh manusia: Pertama, kesabaran. Seseorang yang melakukan ibadah puasa bersabar terhadap lapar dan dahaga yang menderanya. Mereka menahan diri dari makanan dan minuman dengan penuh kesadaran, kemauan sendiri, bukan paksaan dari pihak lain.

Kesabaran yang lahir akibat kemauan sendiri jauh lebih kuat ketimbang kesabaran secara paksaan. Kesabaran yang tumbuh dari melakukan ibadah puasa akan membuat seseorang mampu menahan diri dari makanan dan minuman haram saat dihadapkan padanya, sanggup melakukan perbuatan walaupun dalam keadaan haus dalam lapar. Karena puasa Ramadhan telah mengajarkan mereka arti sebuah kesabaran.

Para tentara yang tidak belajar kesabaran lewat ibadah puasa, mereka akan sangat sulit melakukan aktivitasnya saat dikepung musuh, sementara mereka dalam keadaan lapar dan dahaga. Sementara pasukan yang sudah terbiasa dengan ibadah puasa, mereka sanggup menyerang (ofensif) dan menahan serangan (defensif) walaupun tida diseguh makanan dan minuman. Karena mereka sudah terbiasa lapar dan dahaga di hari-hari puasa.

Kedua, ketaatan. Umat Islam melakukan ibadah puasa sepanjang hari, sanggup menahan lapar dan dahaga karena mereka yakin bahwa yang mereka lakukan itu semata-mata mengharap ridha-Nya. Mereka akan tetap berpuasa meskipun tubuhnya terluka, lemah tak berdaya, kerongkongannya gersang, yang berbayang adalah ridha Tuhan. Sehingga mereka selalu setia membantu agama Allah walaupun dalam keadaan lapar dan dahaga. Rela menahan diri dari makanan haram walaupun kelaparan dan kehausan mencabik-cabik tubuhnya.

Ketiga, terorganisir. Ibadah puasa mengantur kehidupan umat Islam sehingga terdustur dalam sebuah UU yang semua umat Islam melakukan aktifitasnya yang sama dalam waktu yang bersamaan. Mereka menahan lapar dan dahaga secara sama-sama, makan bersama-sama di saat waktu berbuka tiba, dan menghidupkan malam dengan ibadah secara sama-sama. Semoga amal ibadah puasa kita diterima oleh Allah Swt.

* Tgk. H. Nuruzzahri (Waled Samalanga), Pimpinan Dayah Ummul Ayman Samalanga, Ketua Mustasyar Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), dan pendiri STIS Ummul Ayman Pidie Jaya, Aceh. (uri/syrafi/orat/AG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id