Malam-malam Mulia | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Malam-malam Mulia

Malam-malam Mulia
Foto Malam-malam Mulia

Oleh Adnan

BANYAK orang ingin memperoleh kemuliaan. Tapi, sedikit orang yang tahu tentang waktu-waktu yang dimuliakan. Banyak orang berharap mendapatkan kemuliaan. Namun, sedikit orang yang mau menghidupkan malam-malam kemuliaan. Padahal, untuk memperoleh kemuliaan harus komplementer dengan waktu-waktu yang dimuliakan. Artinya, satu cara untuk memperoleh kemuliaan yakni dengan menghidupkan malam-malam yang telah dimuliakan. Sebab, ketika Allah Swt telah memuliakan malam-malam tertentu menunjukkan bahwa pada malam tersebut Allah Swt turunkan kemuliaan.

Memperoleh kemuliaan
Dalam berbagai petunjuk, ada beberapa malam yang dimuliakan oleh Allah Swt. Itu artinya pada malam-malam tersebut Allah Swt menurunkan kemuliaan bagi orang-orang yang berharap memperoleh kemuliaan. Di antaranya: Pertama, malam Jumat. Malam Jumat merupakan malam yang dimuliakan oleh Allah Swt. Sebab, Jumat merupakan sayyidul ayyam (penghulu hari). Sehingga pada malam Jumat disunnahkan untuk menghidupkan amalan-amalan kebaikan, semisal memperbanyak shalat sunnah, membaca Alquran, bersedekah, dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Rasulullah saw berpesan, “Hari terbaik di mana pada hari itu matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan surga serta dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat”. Sebab itu, memuliakan malam Jumat merupakan bagian dari memuliakan hari Jumat. Rasulullah saw menganjurkan agar memperbanyak doa pada malam Jumat, karena pada malam ini merupakan malam diijabahkan doa. Semisal sabdanya, “Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya. Rasululllah mengisyaratkan dengan tangan beliau sebagai gambaran akan sedikitnya waktu itu.” (HR. Muttafaqun Alaih).

Selain itu, pada malam Jumat juga dianjurkan untuk memperbanyak bacaan Alquran, semisal surat Al-Kahfi dan Yasin. Sebagaimana sabdanya, “Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan untuknya, maka Allah Swt akan menyinarinya dengan cahaya antara dia dan Baitul `atiq.” (HR. Al-Nasai dan Al-Hakim). Di samping itu, juga dianjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi saw pada malam Jumat. Semisal sabdanya, “Perbanyaklah shalawat untukku pada hari jum’ah dan malam jumah, karena barangsiapa yang bershalawat untukku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.” (HR. Baihaqi).

Sebab itu, orang-orang yang berharap kemuliaan dapat memuliakan malam Jumat. Karena, pada malam Jumat Allah Swt menurunkan kemuliaan bagi orang-orang yang berharap kemuliaan. Cara memuliakan malam Jumat yakni dengan membiasakan dan memperbanyak membaca Alquran, bershalawat, shalat sunnah, maupun ibadah-ibadah sunnah lain. Sehingga ketika kita memuliakan malam ini, maka Allah Swt akan memuliakan kita.

Kedua, malam Nisfu syakban. Malam nisfu syakban juga dianggap malam mulia yang harus dimuliakan, agar memperoleh kemuliaan. Sebab, pada mala mini seluruh amalan hamba dalam setahun akan dilaporkan kepada Allah Swt. Sungguh beruntung orang-orang yang menutup amalannya dengan amalan kemuliaan. Dan, sungguh merugi orang-orang yang menutup amalannya dengan amalan kehinaan. Karena itu, sebelum buku laporan tahunan ini ditutup, hendaknya kita tutup dengan kebaikan untuk menutupi kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat.

Bahkan, bukan hanya sekadar malam Nisfu Syakban secara khusus. Bulan syakban termasuk bulan yang dimuliakan. Semisal sabdanya: “Bulan Syakban –bulan antara Rajab dan Ramadhan– adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i).

Sebab itu, Rasulullah saw selalu mengisi bulan syakban dengan puasa-puasa sunnah. Ini menunjukkan kemuliaan yang dimiliki oleh bulan syakban, termasuk pada malam Nisfu Syakban. Seperti sabdanya, “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah saw berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Syakban.” (HR. Bukhari).

Ketiga, malam hari raya. Malam hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) juga merupakan malam yang dimuliakan dan diturunkan kemuliaan oleh Allah Swt. Banyak petunjuk dari Alquran dan hadis, yang memberikan informasi tentang kemuliaan malam hari raya. Sehingga pada malam tersebut dianjurkan untuk mengisi dengan memperbanyak zikir, membaca Alquran, dan amalan-amalan sunnah lainnya. Sebagaimana firman Allah Swt, “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Rasulullah saw juga menganjurkan umatnya agar mengisi malam hari raya dengan ibadah untuk mengharap keridhaan Allah Swt. Sebagaimana pesannya, “Barang siapa menghayati malam Hari Raya Idul Fitri dan malam Hari Raya Idul Adha dengan amal ibadah sedang dia mengharapkan keredaan Allah semata-mata hatinya tidak akan mati seperti hati orang-orang kafir”. Dalam hadist lain Rasulullah saw juga berpesan, “Hiasilah kedua-dua Hari Raya kamu iaitu Hari Raya Puasa dan juga Hari Raya Korban dengan takbir, tahmid dan taqdis”.

Keempat, Malam Qadar (Lailatul Qadar). Lailatul Qadar merupakan malam kemuliaan. Dalam kitab Sabilal Muhtadin, diungkapkan bahwa Malam Qadar merupakan malam terbaik dari seluruh malam yang diciptakan Allah Swt. Sebab, pada malam ini Allah Swt menurunkan Alquran dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia) (QS. Ad-Dukhan: 3, Al-Qadr: 1, dan Al-Baqarah: 185).

Semisal firman Allah Swt, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alquran pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 1-5).

Malam-malam ganjil
Dalam banyak petunjuk dijelaskan, bahwa Lailatul Qadar berada pada malam-malam ganjil dari malam-malam sepuluh akhir di bulan Ramadhan (antara 21, 23, 35, 27, dan 29). Sebab itu, hendaknya orang-orang yang berpuasa tidak menyia-nyiakan malam kemuliaan ini. Bahkan, Rasulullah saw pada sepuluh akhir dari malam Ramadhan mulai mengencangkan ikat pinggangnya, membangunkan keluarganya, untuk beriktikaf pada malam tersebut. Yakni untuk memperoleh malam kemuliaan; Lailatul Qadar.

Maka pesan profetik; sungguh merugi orang-orang yang hidup dalam bulan Ramadhan, tapi ketika Ramadhan berlalu dan pergi, dosa-dosanya belum terampuni. Sebab itu, Malam Qadar merupakan malam pengampunan dosa dan penyucian jiwa, serta malam pelipatgandakan pahala di sisi Allah Swt. Yakni satu malam beribadah laksana telah beribadah 83 tahun 4 bulan.

* Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: [email protected] (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id