Puasa, Momentum Menjadi Pribadi Antikorupsi | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Puasa, Momentum Menjadi Pribadi Antikorupsi

Puasa, Momentum Menjadi Pribadi Antikorupsi
Foto Puasa, Momentum Menjadi Pribadi Antikorupsi

Oleh Ichsan Fuady, Kepala Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Aceh Email: [email protected]

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183)

INDONESIA darurat korupsi! Pernyataan ini sepertinya memang tepat menggambarkan kondisi Indonesia saat ini. Di tengah upaya pemerintah melakukan pemberantasan korupsi, semakin banyak pula pejabat yang menjadi tersangka pelaku korupsi.

Jika dalam Trias Politika kita mengenal eksekutif, legislatif, dan yudikatif, maka ketiga unsur ini telah menjadi pelaku utama korupsi. Mungkin masih segar dalam ingatan beberapa orang yang menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mulai dari hakim, kepala daerah, anggota dewan, bahkan yang terbaru ini unsur pemeriksa dan pengawas menjadi tersangka operasi tangkap tangan (OTT) KPK.

Semua unsur lembaga Negara telah terjangkit bahaya laten korupsi, indeks persepsi korupsi yang mengalami peningkatan begitu lambat, maka apakah masih tersisa optimisme bahwa Indonesia bisa bebas dari bahaya laten Korupsi?

Upaya pemberantasan korupsi pada dasarnya telah menunjukkan peningkatan, mulai perbaikan sistem tata kelola pemerintahan, pembentukan peraturan yang meminimalisir terjadinya korupsi, dan berbagai upaya lainnya seperti pendidikan anti-korupsi sejak dini. Satu upaya pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik diterbitkan PP No.60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP).

Sistem pengendalian internal adalah proses integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. SPIP merupakan sistem pengendalian internal secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Berdasarkan hasil pengawasan yang telah kami lakukan, dijumpai kondisi bahwa kesalahan-kesalahan yang sering dijumpai disebabkan oleh dua faktor: Pertama, pegawai yang berwenang pada dasarnya tidak tahu, sehingga melakukan kesalahan. Jika demikian, maka rekomendasi yang kami berikan adalah perlunya peningkatan kapabilitas pegawai dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya, sehingga kesalahan serupa tidak terulang kembali.

Kedua, pegawai yang berwenang pada dasarnya sudah tahu bahwa yang dilakukannya salah dan tidak sesuai aturan yang berlaku, tetapi tetap saja dilakukan. Jika pada kondisi ini, tentu pegawai yang bersangkutan harus mempertanggungjawabkannya sesuai aturan hukum yang berlaku.

Pada faktor yang kedua ini, penulis teringat pada Koentjaraningrat yang menggambarkan sifat jelek manusia, yaitu mental terabas. Menurutnya, orang-orang yang bermental terabas suka mengabaikan aturan-aturan yang berlaku untuk mencapai tujuan yang diharapkannya.

Hal tersebut dapat dianalogikan pada seseorang yang ingin cepat kaya, misalnya, maka ia melakukan korupsi. Inilah yang dimaksud orang bermental terabas. Mental seperti ini menjadi masalah utama dalam upaya pemberantasan korupsi, karena sebaik apapun sistem yang dibuat, mereka yang bermental terabas akan mencari celah untuk mencapai tujuannya atau bahkan mengeyampingkan aturan yang ada.

Momentum yang tepat
Puasa sebagaimana firman Allah yang kita kutip di awal tulisan ini, memiliki tujuan akhir agar menjadi orang yang bertakwa. Menahan diri dari makan dan minum, serta menahan hawa nafsu, terutama nafsu duniawi di siang hari menjadi rutinitas yang dilakukan selama Ramadhan. Selain itu masih banyak amalan-amalan yang harus dihindari selama Ramadhan agar hasil akhir yang dicapai benar-benar menjadi pribadi yang bertakwa.

Makan dan minum, serta hubungan suami istri adalah hal yang halal dilakukan, tetapi dalam bulan Ramadhan, Allah Swt mengharamkannya di siang hari. Ramadhan ini menjadi wahana melatih diri untuk meredam dan mengendalikan hawa nafsu, termasuk nafsu mengambil hak orang lain (korupsi). Mendekatkan diri kepada Allah Swt dan berpuasa sebulan penuh, tentu memerlukan komitmen yang kuat, sehingga pada akhirnya kita menjadi pribadi yang bertakwa.

Takwa berarti berhati-hati, waspada, takut. Secara istilah, Thalq bin Habib Al’Anazi mendefinisikan takwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah, mengharap ampunan Allah, meninggalkan maksiat dengan cahaya Allah, dan takut terhadap adzab Allah (Siyar A’lamin Nubala, 8/175).

Jika puasa Ramadhan ini kemudian kita refleksikan dalam kehidupan kerja, maka puasa dapat kita lakukan untuk tidak melakukan korupsi. Makan dan minum yang jelas halal dan menjadi kebutuhan raga manusia, akan menjadi haram dilakukan jika berpuasa sampai waktu berbuka tiba, apalagi untuk perilaku korupsi yang jelas-jelas diharamkan.

Firman Allah Swt, “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari pada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188).

Memakan harta dengan jalan yang bathil inilah merupakan satu perilaku korupsi. Menyalahgunakan kewenangan atas jabatan yang diemban untuk kepentingan pribadi merupakan perbuatan yang bathil. Begitupun dengan mengetahui hal-hal yang sebenarnya tidak boleh dilakukan, tetapi mencari celah untuk melakukannya dengan pembenaran-pembenaran yang lazimnya dilakukan koruptor.

Oleh karena itu, melalui momentum Ramadhan 1438 H ini, oknum atau pihak-pihak yang masih gemar dengan perbuatan korup dan serupanya, sebaiknya berkomitmen untuk menjadi pribadi yang anti-korupsi. Meyakini bahwa rejeki merupakan rahasia Allah Swt, sebagaimana firman-Nya, “…dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud: 6).

Kita juga mengharapkan melalui puasa Ramadhan dan berbagai ibadah lain yang kita kerjakan di bulan suci ini, hendaknya menjadikan kita sebagai pribadi-pribadi yang tidak korup dan tidak bermental terabas. Dengan demikian, optimisme pemberantasan korupsi masih memberikan harapan, guna mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Semoga! (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id