Pertamina Jangan Memaksa Orang Miskin Beli BBM Mahal | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pertamina Jangan Memaksa Orang Miskin Beli BBM Mahal

Pertamina Jangan Memaksa Orang Miskin Beli BBM Mahal
Foto Pertamina Jangan Memaksa Orang Miskin Beli BBM Mahal

Fadhlullah, anggota Komisi VI DPR RI asal Aceh mengatakan, kelangkaan premium dan solar tak sepantasnya terjadi di Aceh. Apalagi, pembatasan BBM bersubsidi oleh Pertamina itu hanya terjadi di Aceh, bukan kebijakan nasional. “Tidak ada instruksi begitu dari pusat, tapi pembatasan itu dilakukan mereka sendiri. Saya tidak setuju itu. “

Menurut pihak Pertamina di Aceh, saat ini kondisi di lapangan, masyarakat mulai banyak menggunakan pertalite, sehingga berdasarkan fakta itu Pertamina mulai mengurangi pasokan BBM jenis premium dan solar ke Aceh. “Itu alasan mereka. Katanya itu kemauan masyarakat. Kalau menurut saya itu tidak benar, tidak ada kemauan masyarakat begitu. Saya sudah ingatkan Pertamina supaya jangan memaksa masyarakat untuk beli pertalite yang harganya mahal,” ujar wakil rakyat akrab disapa Dek Fad.

Menurutnya, saat ini premium dan solar masih sangat diminati masyarakat, mengingat jenis premium ini masih berharga murah. Oleh sebab itu, katanya, belum saatnya premium dan solar dikurangi pasokannya ke Aceh. “Tidak boleh memaksakan orang membeli pertalite. Premium dan solar harus tetap tersedia sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Dek Fad berjanji mengupayakan pasokan premium dan solar untuk SPBU-SPBU di Aceh tidak dibatasi hanya 8 ton sehari setiap SPBU. Tapi harus normal kembali seperti dulu, premium bisa 24 ton perhari setiap SPBU, terlebih menghadapi Idul Fitri. Sebab, jika hanya delapan ton sehari, maka 2 sampai 4 jam sudah habis.

“Kita pertegas, tidak boleh ada pemaksaan untuk beralih ke pertalite, itu harus diingat betul. Pertalite ya pertalite, tapi premium dan solar harus tetap ada, tidak boleh langka. Ini dibutuhkan masyarakat. Tidak boleh membatasi secara sepihak,” tegas Dek Fad.

Sejak pembatasan premium dari 24 ton perhari menjadi hanya delapan ton, para pengelola SPBU mengaku sangat sering menerima protes dari masyarakat. “Bahkan, petugas kami sering dimaki-maki. Kami dianggap memaksa orang miskin membeli BBM orang kaya,” kata seorang pemilik SPBU.

Ya, pembatasan premium dan solar bersubsidi ini memang masalah bagi orang kecil. Para sopir angkot, abang becak, dan semacamnya. Demikian pula kelangkaan solar, yang terpukul juga kalangan bawah. Yakni, para sopir truk, nelayan, dan lain-lain.

Sebagai contoh, nelayan di Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, dalam sepekan terakhir sebagian nelayan tak bisa melaut karena kesulitan memperoleh solar. Di kecamatan itu tidak tersedia tempat penjualan solar khusus untuk nelayan. Padahal, Panglima Laot setempat mengatakan, jumlah nelayan di Dewantara mencapai 1.200 orang. “Menurut saya sudah layak dibangun galon khusus untuk BBM nelayan,” kata Panglima Laot.

Ya, kita berharap selain menyediakan kembali premium sesuai kebutuhan konsumen di Aceh, Pertamina juga perlu memikirkan penyediaan tampat-tenmpat resmi untuk penjualan BBM kebutuhan nelayan. Dengan demikian, tak perlu lagi kucing-kucingan dengan pihak SPBU seperti selama ini. (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id