Tadarus Alquran | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tadarus Alquran

Tadarus Alquran
Foto Tadarus Alquran

Oleh Zarkasyi Yusuf

GEMA ayat suci Alquran terdengar di seluruh pelosok negeri, lantunannya serasa sambung-menyambung menembus keheningan malam, menembus kebisingan kota serta hiruk-pikuk warung kopi, demikian suasana malam malam Ramadhan di Aceh. Suasana ini akan dijumpai saban tahun jika masuk bulan Ramadhan. Tradisi ini sudah diwariskan turun-temurun, baik di kota maupun pelosok desa. Bahkan, menjadi aib besar jika ada meunasah atau masjid yang sepi dari bacaan ayat-ayat Alquran.

Tadarus Alquran pada malam-malam Ramadhan menjadi sebuah keharusan di setiap meunasah atau masjid, sehingga generasi tempo doeloe semua telaten membaca Alquran. Sungguh aib jika ada linto baro yang tidak ikut bergabung untuk melaksanakan tadarus pada malam-malam Ramadhan di meunasah.

Namun, seiring perkembangan zaman, kondisi ini semakin berubah, meskipun tradisi tadarus Alquran masih tetap bertahan di setiap meunasah atau masjid. Perubahannya terletak pada kemampuan membaca Alquran dengan baik dan benar. Bisa kita dengar sendiri, bagaimana kualitas bacaan mereka yang bertadarus, bukan berarti semuanya lemah pada sisi bacaan, tetapi ada sebahagian yang belum memenuhi standar.

Lebih runyam lagi, ketika tes baca Alquran para kandidat pemimpin (gubernur dan bupati/wali kota) serta anggota dewan, kualitas bacaan yang dianggap memenuhi syarat (lulus) mungkin setara dengan bacaan metode pembelajaran Iqra 4. Ini sungguh menjadi ironi di bumi syariat Islam.

Jika bacaan Alquran yang dilantukan di negeri syariat masih belum mengikuti kaidah-kaidah tajwid merupakan pertanda kegagalan dalam penerapan syariat Islam. Sebab, Alquran adalah pandangan hidup yang sejatinya setiap hari dibaca, dihayati, direnungkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebuah dilema
Jika kualitas baca Alquran masih sangat rendah, bagaimana dengan kualitas bacaan shalat kita? Ini tentu menjadi sebuah dilema dalam kehidupan ini. Membaca Alquran sesuai dengan kaidah-kaidah tajwid menjadi kewajiban bagi kita semua, serta berkewajiban pula mengajari anak-anak kita, sehingga bacaan mereka benar dan fasih.

Dulu, kesempatan membaguskan bacaan Alquran sangat terbuka. Selesai shalat Maghrib, Imum Meunasah mengajarkan anak membaca Alquran dan kitab jawoe. Saat itu, hampir setiap anak di kampung mampu membaca Alquran dengan baik, meskipun mereka tidak menguasai ilmu tajwid, tetapi bacaan mereka mengikuti kaidah-kaidah tajwid. Lambat laun, tradisi Maghrib Mengaji mulai ditinggalkan, apalagi di setiap rumah telah memiliki televisi. Ba’da Maghrib tidak lagi dipergunakan untuk membaca Alquran, tetapi untuk menonton kisah-kisah dalam sinetron.

Tradisi tadarus pada malam malam Ramadhan adalah tradisi yang perlu dipertahankan serta diwariskan kepada anak cucu kita, sebagai satu cara beramal kebajikan. Namun, akan lebih indah lagi, jika anak-anak kita mampu membaca Alquran dengan baik dan benar sesuai ketentuan ilmu tajwid.

Mewujudkan hal tersebut, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bersama, baik masyarakat, lembaga pendidikan dan pemerintah. Pertama, membaguskan baca Alquran melalui tahsin al-qiraat hendaknya menjadi bagian dari kurikulum pembelajaran. Bagi yang belum mahir membaca Alquran, hendaknya mendapatkan perhatian serius dari guru/teungku/dosen, sehingga mereka mampu mengejar ketertinggalan mereka dalam membaca Alquran dengan baik dan benar.

Kedua, kelancaran membaca Alquran sangat tergantung dari pembiasaan, untuk itu marilah menjadikan rumah kita “bising” dengan lantunan kalam kalam Ilahi, mari menghiasi rumah kita dengan bacaan Alquran. Mari membiaskan seisi rumah kita “ramah” dengan Alquran, jangan jadikan rumah bagai kuburan.

Ketiga, Pemerintah Aceh hendaknya memberikan perhatian serius pada persoalan ini, program Maghrib Mengaji telah dicanangkan oleh pemerintah pusat serta diikuti oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota, sejatinya program tersebut terus berkelanjutan dan berkesinambungan dan didukung dengan sepenuhnya.

Sangat miris
Sungguh sangat miris jika penduduk Serambi Mekkah tidak telaten membaca padangan hidupnya (Alquran). Sungguh miris jika anak cucu kita tidak lagi telaten membaca Alquran, tetapi malah telaten membaca koran. Bagaimana kita membaca dengan penuh hikmah kalam Ilahi serta mengambil hikmah dan pelajaran yang terkandung di dalamnya, sementara membacanya saja belum sesuai ketentuan?

Aceh sudah mengumandangkan syariat Islam dengan sumber utama Alquran, tentu akan sangat disayangkan jika untuk membacanya saja kita belum paham. Harian ini pernah merilis bahwa 82% mahasiswa baru yang mendaftar di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) tidak mampu membaca Alquran (Serambi, 28/7/2015). Ini sungguh sangat menyedihkan.

Jangan biarkan hari-hari berlalu tanpa terdengar lantunan Alquran. Bacalah Alquran selagi mata kita masih terang, pelajarilah ilmu untuk membaguskan bacaan selagi gigi masih utuh. Membaguskan membaca Alquran adalah upaya meningkatkan kualitas bacaan shalat, bisa jadi shalat kita belum berdampak dalam kehidupan karena kualitas bacaan yang masih sangat rendah.

Oleh sebab itu, marilah belajar membaca Alquran dengan baik dan benar, tidak hanya untuk melanggengkan tradisi tadarus dalam malam Ramadhan, tetapi untuk mengisi hari hari kita dengan lantunan kalam ilahi, sehingga hati kita tidak mati. Mari belajar membaguskan bacaan!

* Zarkasyi Yusuf, Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh. Email: [email protected] (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id