Tak Semua Muslim Puasa di Tiongkok | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tak Semua Muslim Puasa di Tiongkok

Tak Semua Muslim Puasa di Tiongkok
Foto Tak Semua Muslim Puasa di Tiongkok

Oleh Ainul Fitri, mahasiswi asal Aceh yang sedang mengambil program master di Huazhong University of Science and Technology (HUST), melaporkan dari Tiongkok.

MENJALANI ibadah puasa di negara yang menganut ideologi komunis tidaklah mudah, namun berpuasa wajib untuk setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan yang sudah berusia baligh.

Ini merupakan tahun ketiga saya menjalani ibadah puasa di negeri yang tidak bertuhan, tapi masih banyak saja teman-teman di Indonesia yang menanyakan bagaimana saya menjalani ibadah puasa di sini. Apakah kampus melarang saya untuk tidak berpuasa? Apakah aman berpuasa di negara komunis? Bagaimana dengan isu Cina melarang murid sekolah dan mahasiswa di kawasan berpenduduk mayoritas Muslim, Xinjiang untuk berpuasa?

Xinjiang merupakan rumah bagi suku bangsa minoritas Muslim Uighur. Dari Kota Wuhan menuju Xinjiang butuh waktu lebih kurang lima jam dengan kereta cepat.

Rencana mengunjungi Kota Xinjiang dalam Ramadhan ini batal dikarenakan beberapa mata kuliah yang belum selesai. Jadi, isu mengenai larangan berpuasa yang belum jelas kebenarannya masih tetap sebatas isu.

Wuhan sebagai tempat saya kuliah aman untuk menjalankan ibadah puasa. Bukan larangan berpuasa yang ditakuti namun godaan saat melakukan puasa yang harus dihindari, sperti melihat orang-orang menikmati scream di siang hari dengan cuaca panas yang kadang mencapai 34 derajat Celcius.

Sebagai negara yang tidak menganut agama apapun, sudah pasti rumah makan tetap beroperasi seperti biasa selama Ramadhan. Begitu juga tempat hiburan.

Saat ke pasar tradisional mencari bahan makanan untuk berbuka, ada penjual melon yang menawarkan melon untuk saya cicipi. Dia tentu saja tak mengerti bahwa saya sedang puasa.

Menjalankan ibadah puasa di musim panas di Tiongkok bukan hanya ditantang godaan makanan namun juga dibutuhkan kekuatan fisik yang untuk bangun sahur pukul tiga pagi dan berbuka pukul 17.22.

Sebagai insan yang percaya dan taat akan perintah Tuhan, semua mahasiswa Indonesia beragama Islam yang kuliah di Wuhan menjalankan ibadah puasa dengan suka cita.

Pemandangan yang agak kontras adalah saat jam makan siang di kantin yang berlabelkan halal ternyata ada mahasiswa dari negara mayoritas Islam dan mengaku muslim tidak sungkan menyantap makan siang bersama mereka yang tidak berpuasa. Ada beberapa mahasiswa luar negeri atau sering disebut mahasiswa internasional yang sedang mengambil program studinya di Tiongkok, tepatnya di Kota Wuhan mereka tidak berpuasa dengan alasan yang berbeda-beda.

Seorang mahasiswa dari Pakistan mengaku tidak sanggup berpuasa karena lagi musim panas, waktu yang dibutuhkan untuk berpuasa selama 16 jam 22 menit dijadikan sebagai salah satu alasan.

Di Tiongkok memang dilarang keras melakukan ibadah di tempat umum, tidak hanya umat muslim, agama Budha pun yang pernah dianut oleh masyarat Tiongkok juga dilarang melakukan aktivitas ibadah. Negara ini memang sudah menghapus semua jenis agama bagi penduduknya, tapi yang perlu kita tahu Islam masih hidup di setiap kota di negeri ini.

Di Wuhan saja terdapat beberapa masjid di antaranya ada masjid Hankou dan Masjid Guanggu yang sering didatangi mahasiswa muslim untuk melaksanakan ibadah shalat Jumat.

Selama Ramadhan ada juga masjid yang menyediakan makanan untuk berbuka puasa secara gratis, sama seperti masjid-masjid di Aceh. Masjid di sini juga membagikan jadwal imsakiah dan berbuka puasa yang sudah dicetak kepada setiap jamaahnya, walaupun azan yang dikumandangkan tidak boleh terdengar suaranya ke luar pekarangan masjid.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: [email protected] (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id