Puasa dan Kesehatan Anak | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Puasa dan Kesehatan Anak

Puasa dan Kesehatan Anak
Foto Puasa dan Kesehatan Anak

Oleh Aslinar

IBADAH puasa bulan Ramadhan merupakan satu rukun Islam yang perintah pelaksanaannya sebagaimana firman Allah Swt dalam Alquran, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183).

Sebagai muslim, kita menyadari dan meyakini puasa sebagai salah satu ibadah utama yang kedatangannya selalu kita nantikan. Adapun syarat wajib yang harus dipenuhi bila seseorang yang akan berpuasa adalah Islam, baligh (cukup umur), berakal, suci dari haid dan nifas bagi perempuan, berada di kampungnya (tidak wajib bagi musafir), dan sanggup berpuasa (tidak wajib atas orang yang lemah dan sakit). Bagaimana dengan anak-anak?

Setiap orang tua tentu sangat menginginkan anaknya menjadi anak yang saleh dan salehah. Sehingga mengenalkan sedini mungkin berbagai ibadah termasuk ibadah puasa. Karena semakin dini kita mengenalkan ibadah kepada mereka diharapkan akan menjadi kebiasaan dan tertanam dalam jiwa anak mengenai ibadah tersebut. Ada sebagian orang tua yang sudah mengajak anaknya berpuasa sejak usia 5 atau 6 tahun meskipun hanya beberapa jam dan atau setengah hari. Si anak juga ikut dibangunkan untuk makan sahur bersama keluarga. Tujuan latihan ini untuk membiasakan diri, tentunya selama mereka mampu dan kuat melaksanakannya.

Hal demikian sudah dilakukan oleh sahabat Nabi Muhammad saw. Mereka selalu melatih anak-anaknya berpuasa dan memberikan hiburan untuk melalaikan mereka dari rasa lapar. Menurut Al Rubai’ binti Muawwiz, dalam riwayat Bukhari dan Muslim, “Kami sering melatih anak anak kami yang masih kecil untuk berpuasa. Kami membawa mereka ke masjid. Kemudian kami buatkan permainan dari bulu. Apabila mereka menangis karena lapar, maka kami berikan mainan itu, hingga waktu berbuka puasa.”

Anak kecil tidak diwajibkan berpuasa. Ini berdasarkan hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ashhabus Sunan dan Al Hakim, dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda, “diangkat kalam dari tiga orang yaitu anak kecil sehingga ia sampai umur, orang gila sehingga ia sembuh, dan orang yang tidur sehingga ia bangun.” Puasa yang dilakukan oleh anak kecil yang telah berakal, maka puasa yang dilakukannya hukumnya sah walaupun belum diwajibkan.

Tidak dipaksakan
Menurut Islam, bila ibadah yang tidak wajib boleh dilakukan asalkan mampu dan tidak dipaksakan, sedangkan menurut tinjauan kesehatan puasa bisa dilakukan oleh anak kecil, tetapi harus cermat mempertimbangkan kondisi dan kemampuan anak. Sejauh ini belum pernah dilaporkan seorang anak mengalami gangguan yang berat karena puasa.

Pengertian baligh adalah anak sudah mencapai masa pubertas. Pada anak perempuan ditandai dengan menstruasi dan perkembangan payudara sedangkan pada anak laki laki memperlihatkan perubahan pada suara, otot, bentuk fisik yang berubah dan sudah mengalami mimpi basah. Sejak saat tersebut, anak sudah diwajibkan berpuasa.

Selain hikmah ibadah, puasa juga terbukti memiliki berbagai manfaat ilmiah, manfaat medis bagi tubuh orang yang menjalaninya. Secara umum, organ-organ tubuh butuh istirahat. Maka puasa sangatlah bermanfaat untuk memberi waktu istirahat bagi organ metabolisme tubuh dan sistem pencernaanya. Sebuah mesin yang bekerja aktif siang malam juga butuh waktu istirahat, demikian juga dengan tubuh manusia.

Pada saat puasa pembentukan sel-sel dilakukan kembali setelah proses pencernaan, kemudian didistribusikan sesuai dengan kebutuhan sel sel tubuh. Dengan demikian terbentuk sel baru yang merenovasi strukturnya dan meningkatkan kemampuan fungsionalnya yang berguna untuk kesehatan dan kebugaran tubuh. Allah Swt berfirman, “Dan berpuasa itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 184).

Di Indonesia, lamanya kita berpuasa yaitu sekitar 14 jam. Kemudian timbul pertanyaan; bagaimana kita bisa bertahan? Makanan yang kita makan dapat mempertahankan kadar gula dalam darah hingga 4 jam. Setelah itu, tubuh mulai memecah cadangan glukosa yang ada dalam hati dan otot yang disebut glikogen. Dalam waktu 16 jam sejak terakhir kita makan, lemak dan protein akan dipecah oleh tubuh dalam upaya mempertahankan kadar gula darah dan metabolisme tubuh.

Jadi puasa yang lama tersebut, tidak akan mengganggu kesehatan karena tubuh akan melakukan adaptasi dengan baik, yaitu menggunakan cadangan yang ada dalam tubuh dengan memperlambat metabolisme.

Pada kondisi fisiologis tubuh khususnya metabolisme tubuh, fungsi hormonal dan fungsi sistem tubuh anak berbeda dengan usia dewasa. Bila berpuasa menjadi beban yang tidak sesuai dengan kondisi fisiologis anak dapat mengganggu tumbuh dan kembangnya anak.

Demikian juga dalam hal pertahanan tubuh anak dan dewasa berbeda. Ketahanan anak dalam merespon berbagai penyakit yang masuk lebih lemah. Ini harus menjadi perhatian bagi semua orang tua. Sehingga anak yang sedang tidak dalam keadaan sehat janganlah disarankan berpuasa. Anak yang sedang menderita penyakit infeksi akut (batuk, pilek, demam), infeksi kronis (TB dan lain-lain), penyakit bawaan seperti kelainan jantung, kelainan darah juga penyakit keganasan sebaiknya tidak berpuasa.

Aktivitas bertambah
Saat bulan puasa, aktivitas anak bertambah dengan berbagai kegiatan seperti pesantren kilat, shalat Tarawih dan bangun lebih cepat untuk sahur. Pada saat berpuasa, ritme serta kualitas tidur malam, kewaspadaan dan kemampuan psikomotor cenderung berkurang. Hal ini bisa menyebabkan meningkatnya kecelakaan pada anak, seperti terpeleset, terjatuh saat berjalan atau saat mengendarai sepeda. Akan tetapi, hal tersebut bisa disiasati oleh orang tua dengan mengatur atau memodifikasi jam tidur anak dan memantau aktivitas anak selama dia berpuasa.

Orang tua bertanggung jawab sekali akan hal ini, karena si anak belum bisa menakar kemampuan tubuhnya, pikirannya hanya didominasi kesenangan dan keasyikan bermain. Kegiatan bermain perlu dibatasi, terutama bermain di luar rumah, apalagi saat siang dengan terik matahari yang menyengat. Setiap aktivitas fisik yang dilakukan si anak harus menyesuaikan dengan kondisinya saat berpuasa. Si anak juga sebaiknya tidak diajak serta ikut berbelanja di siang hari, karena akan sangat menyita energi.

Memulai puasa pada anak dapat dicoba terlebih dulu dengan puasa tidak penuh (6-8 jam) dan perlahan ditingkatkan menjadi berpuasa penuh hingga azan Magrib. Jenis makanan padat saat sahur dan berbuka tidak perlu dibedakan dengan makanan sehari-hari, namun harus mempertimbangkan kebutuhan zat gizinya secara seimbang dan juga sangat memperhatikan rasa, serta variasi makanan setiap harinya. Saat bulan puasa biasanya variasi makanan yang tersedia lebih banyak.

Pada saat sahur makanan sebaiknya yang mengandung indeks glikemik rendah yaitu jenis makanan yang bisa meningkatkan kadar gula darah dalam tubuh secara lambat namun bisa bertahan lama. Contohnya nasi merah, apel, pisang, kacang hijau. Sedangkan saat berbuka puasa supaya disajikan makanan dengan indeks glikemik tinggi yaitu jenis makanan yang dapat meningkatkan kadar gula darah secara cepat tetapi singkat. Contohnya adalah roti, kue donat, kentang, wortel dan buah semangka.

Pada penderita alergi terhadap jenis makanan tertentu harus lebih waspada. Orang tua harus memperhatikan hal tersebut, sebaiknya menghindari makanan yang mengandung pengawet, beraroma rasa dan penyedap serta warna yang kuat. Minuman bersoda dan makanan pedas juga dihindari dan tentu saja menghindari makanan khusus yang sudah diketahui sebelumnya sebagai penyebab alergi pada anaknya.

Jadi, mari latih anak kita berpuasa sejak kecil, dengan tetap bersikap fleksibel dengan usia anak, kondisi kesehatan dan keadaan psikologisnya. Insya Allah akan memberikan banyak dampak positif.

dr. Aslinar, Sp.A, M.Biomed., Pengurus IDAI Aceh dan IDI Aceh Besar, staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama (Unaya) Aceh. Email: [email protected] (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id