Tawadhu’ Perisai Diri | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tawadhu’ Perisai Diri

Tawadhu’ Perisai Diri
Foto Tawadhu’ Perisai Diri

Oleh Halim Mubary

ALLAH Swt sangat suka kepada orang yang rendah hati (tawadhu’), dan sebaliknya sangat benci terhadap orang yang sombong (QS. al-Isra: 7). Ramadhan sebenarnya telah mengajarkan manusia untuk tidak sombong. Ciri-ciri orang tawadhu’ di antaranya, jujur, amanah, suka bersedekah, peka terhadap lingkungan, dan rajin beribadah. Semua ciri-ciri ini melekat pada sifat Nabi dan Rasul.

Sedangkan ciri-ciri orang sombong, seperti orang sesat di jalan tapi malas bertanya; punya obor tapi tidak digunakan di waktu gelap; dan punya pena tapi malas menulis. Artinya, mereka sangat yakin pada diri sendiri; mereka punya harta, akan tetapi tidak mau berbagi; punya jabatan, tapi disalahgunakan. Karena mereka lebih memikirkan diri sendiri, keluarga, dan kelompoknya, serta tidak peduli pada orang lain.

Sebagian para ulama salaf menjelaskan bahwa dosa pertama kali terjadi kepada Allah adalah adanya sifat sombong dari makhluk, sebagaimana firman-Nya, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong) dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. al-Baqarah: 34).

Betapa iblis yang awalnya Allah ciptakan untuk mengemban tugas sebagai malaikat, ternyata enggan mematuhi perintah Allah tersebut. Karena Iblis menganggap derajatnya lebih tinggi dan hebat dibandingkan Adam yang Allah ciptakan dari tanah. Iblis hasad kepada Adam dengan kemuliaan yang Allah berikan kepadanya. Iblis dengan sombong mengatakan, “Saya diciptakan dari api, sementara Adam diciptakan dari tanah, maka saya tidak berhak menyembah Adam.” Kesombongan inilah sebagai dosa pertama kali terjadi pada diri makhluk bernama Iblis, yang tidak mau sujud kepada Adam.

Sebagai ganjarannya, Allah mengusir Iblis keluar dari surga. Sebab surga tidak punya tempat bagi sebuah kesombongan. Maka sejak saat itu pula, Iblis merasa dendam kepada Adam dan keturunannya, sehingga bersumpah untuk menggoda Adam dan keturunannya kelak agar juga berlumur dosa sehingga sama-sama dicampakkan ke dunia. Dan hal itu dibuktikan Iblis dengan mendatangi Siti Hawa, istri Adam, untuk mau makan buah kuldi, sebagai buah terlarang untuk dimakan di dalam surga. Sebab, sebelum menggoda Hawa, Iblis sebelumnya gagal menggoda Adam untuk hal yang sama. Adam yang imannya lebih teguh, tidak termakan dengan rayuan Iblis kala itu.

Hakikat kesombongan
Ada dua macam bentuk kesombongan, yaitu sombong terhadap al haq (kebenaran) dan sombong terhadap makhluk. Rasulullah bersabda, “sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain.” Menolak kebenaran adalah dengan berpaling dari kebenarannya serta tidak mau menerima atau mengakuinya. Sedangkan meremehkan manusia yakni dengan merendahkan dan memandang orang lain tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya. Karena jabatan, kekayaan, pendidikan, dan status sosial yang disandangnya, maka orang yang berada di bawahnya dianggap lebih rendah.

Sombong terhadap al-haq adalah sombong terhadap kebenaran, yakni dengan tidak menerima dan mengakuinya terhadap kebenaran yang ada, meski perintah Allah sekalipun. Setiap orang yang menolak kebenaran maka dia telah sombong disebabkan penolakannya tersebut. Misalnya meninggalkan shalat, puasa, zakat, dan perintah Allah lainnya. Oleh karena itu wajib bagi setiap hamba untuk menerima kebenaran yang ada dalam Alquran dan kitabullah, serta ajaran para Rasul.

Orang yang sombong terhadap perintah Allah dan ajaran Rasul, maka dia telah kafir dan akan kekal di neraka. Ketika datang kebenaran yang dibawa oleh Rasul dan dikuatkan dengan ayat dan hadis, dia bersikap sombong dan hatinya menentang sehingga dia menolak kebenaran tersebut. Seperti Allah terangkan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai pada mereka tidak ada dalam dada mereka, melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Ghafir: 56).

Adapun orang yang sombong dengan menolak sebagian al-haq yang tidak sesuai dengan pemikirannya dan akalnya, maka dia berhak mendapat hukuman dan azab dari Allah karena sifat sombongnya tersebut. Maka wajib bagi manusia untuk memiliki tekad yang kuat mendahulukan perkataan para Rasul di atas perkataan siapa pun. Karena pokok kebenaran adalah kembali kepada ajaran Alquran dan hadis sebagai pondasi kebenaran yang hakiki. Bentuk kesombongan yang kedua adalah sombong terhadap makhluk, yakni dengan meremehkan dan merendahkannya.

Lihatlah berapa banyak orang sombong dan angkuh dengan kedudukannya, akhirnya memperoleh azab dan hukuman dari Allah. Sebut saja Fir’aun, Namrud, Karun, Abu Lahab, dan Abu Jahal, mereka semua adalah contoh dari manusia yang sombong dan tamak. Rasulullah bersabda, “Cukuplah seseorang dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim).

Di antara bentuk kesombongan terhadap manusia di antaranya adalah sombong dengan pangkat dan kedudukannya, sombong dengan harta, sombong dengan kekuatan dan kesehatan, sombong dengan ilmu dan kecerdasan, sombong dengan bentuk tubuh, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Dia merasa lebih dibandingkan orang lain, padahal kalau kita renungkan, siapa yang memberikan harta, kecerdasan, pangkat, kesehatan, bentuk tubuh yang indah? Semua murni hanyalah nikmat dari Allah. Jika Allah berkehendak, sangat mudah bagi Allah untuk mencabut kelebihan-kelebihan tersebut. Pada hakikatnya manusia tidak memiliki apa-apa, lantas mengapa sombong terhadap orang lain?

Bersikap tawadhu’
Kebalikan dari sikap sombong adalah sikap tawadhu’ (rendah hati). Sikap inilah yang merupakan sikap paling terpuji, yang merupakan salah satu sifat ‘ibaadur Rahman yang Allah terangkan dalam firman-Nya, “Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati (tawadhu’) dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. al-Furqaan: 63).

Dengan memelihara sikap tawadhu’ berarti kita telah memelihara lisan dan tulisan kita. Sehingga tidak mudah mengumbar aib dan kejelekan orang lain. Apalagi melakukan ghibah dan menebarkan berita bohong dan fitnah di media sosial. Media sosial memang memudahkan orang untuk berinteraksi satu sama lain, seperti menyampaikan komentar dan pendapat.

Akan tetapi sosial media juga punya sisi negatifnya, karena setiap orang merasa bebas menulis apa saja sesuka hatinya tanpa melihat efek yang ditimbulkannya. Terkadang ada yang mencaci dan mencela orang lain, bahkan dengan menyebarkan gambar dan video yang mengandung unsur pornografi atau menyinggung tentang suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Mereka lebih berani dan bebas melakukannya dibandingkan di dunia nyata, karena ia bisa bersembunyi di balik akun media sosialnya.

Pada momentum Ramadhan inilah, sebenarnya manusia bisa belajar menjadi manusia yang tawadhu’, sehingga menjadi perisai diri dan membuang jauh sifat-sifat sombong. Karena ada banyak sekali edukasi pada ibadah puasa yang menjauhkan manusia dari kesombongannya. Jika pada hari-hari biasa, manusia bisa makan dan minum apa saja pada siang hari, maka begitu Ramadhan tiba, semua kebiasaan tersebut harus dihentikan. Dengan sendirinya mereka yang kaya, juga merasakan kelaparan yang sama dengan orang miskin.

Pada bulan Ramadhan juga, manusia diajak untuk bangun tengah malam untuk bersahur. Yang biasanya malas bangun tengah malam, sekarang terpaksa melakukannya. Biasanya, pada jam-jam seperti itu hanya dilakukan oleh orang-orang kecil, seperti mempersiapkan dagangan jualannya untuk dijual esok pagi. Di sinilah sifat-sifat sombong pada manusia dengan sendirinya tereduksi menjadi sifat kesetikawanan dan sosial yang tinggi. Tidak ada lagi sekat-sekat antara si kaya dan si miskin, semua sama di depan Allah, tidak ada yang lebih tinggi atau yang lebih rendah.

Maka pada bulan Ramadhan, paling tidak kita bisa menyisihkan sebagian dari waktu kita yang 24 jam sehari semalam, untuk berinteraksi dengan instensitas yang tinggi kepada Allah. Maka pada fase berinteraksi dengan Allah (hablum minallah) di bulan Ramadhan ini, paling tidak kita bisa menelusuri relung dan ceruk kehidupan kita yang mana, yang selama ini tidak berjalan sebagaimana mestinya (seperti yang diperintahkan Allah).

Konsep apa yang kita terapkan selama ini sehingga mungkin ada bagian dari sendi-sendi kehidupan yang berjalan pincang dan berat sebelah. Juga saat kita berinteraksi dengan sesama manusia (hablum minannas). Jika kita memimpin, baik dalam rumah tangga maupun di tempat kerja, kesombongan seperti apa yang pernah kita lakukan terhadap istri dan anak, atau kepada bawahan di kantor. Inilah yang perlu kita perbaiki, agar kita sampai pada la’allakum tattaqun (menjadi orang bertakwa).

Jika Allah saja sudah memberikan harapan besar kepada hamba-Nya agar menjadi orang yang bertakwa, masihkah kita menyia-nyiakan kesempatan istimewa ini? Rasulullah saw bersabda, “Seorang manusia jika ia berbuat dosa, akan ditorehkan titik hitam di hatinya. Namun jika ia bertobat dan mohon ampun dari Allah, maka ia akan diampuni dan titik hitam di hatinya akan dihapuskan.” (HR. Muslim).

Maka jika Ramadhan dimaksudkan sebagai media untuk mencari pemutihan (pengampunan) dosa dari Allah, sudah selayaknya kita sebagai menusia yang berlumpur dosa dan salah ini, segera mohon ampunan-Nya. Sebab, jika pemutihan pada Ramadhan ini tetap juga kita sia-siakan, maka manusia itu akan dicap sombong oleh Allah Swt. Wallahu’alam bissawab.

* Halim Mubary M.Kom.I., Dosen STAI Al-Aziziyah Samalanga dan bekerja pada Kankemenag Bireuen. Email: [email protected] (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id