Upaya Suku Siam Pertahankan Islam | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Upaya Suku Siam Pertahankan Islam

Upaya Suku Siam Pertahankan Islam
Foto Upaya Suku Siam Pertahankan Islam

OLEH ARIEF SAPUTRA, Mahasiswa Universitas Almuslim, Bireuen, peserta PPL-KKM di Thailand, melaporkan dari Bangkok

SAYA merupakan salah seorang mahasiswa yang dikirim kampus untuk mengikuti program PPL-KKM di Thailand Selatan. Program ini merupakan KKM Internasional, hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dengan Badan Alumni Internasional Thailand Selatan.

Kegiatan ini bertujuan untuk pengabdian dalam usaha mengembangkan wawasan, baik wawasan keislaman maupun sosial budaya mahasiswa Indonesia dengan masyarakat, khususnya masyarakat muslim di kawasan Thailand Selatan.

Dalam kegiatan ini Indonesia diwakili oleh 12 perguruan tinggi dengan jumlah peserta 72 mahasiswa. Bagi Universitas Almuslim, Bireuen, merupakan angkatan kedua mengikuti program ini, setelah angkatan pertama dengan jumlah tujuh orang dianggap sukses dalam pengabdiannya. Pada angkatan kedua ini, kami dari Umuslim hanya lima orang. Saya sangat bersyukur bisa mengikuti program ini dan melaksanakan pengabdian selama lima bulan, terhitung Mei hingga Oktober 2017.

Saya kebetulan ditempatkan di Songkla bersama kawan dari Tengareng dan Banten. Saya kagum pada masyarakat Thailand Selatan, khususnya suku Siam, karena mereka sangat kuat dalam mempertahankan keislaman walaupun Islam merupakan agama minoritas di sini. Ketika pertama sekali saya shalat berjamaah di Thailand, saya terkejut melihat jamaah shalat Subuh di masjidnya seperti jamaah shalat Jumat di Aceh. Cuma bedanya shalat Subuh di saf belakang dipenuhi oleh kaum hawa.

Ketika saya ke luar mesjid saya lihat tidak ada satu pun kendaraan roda dua yang terkunci, saya sangat terkejut dan bertanya kepada seorang ustaz yang kebetulan beliau bisa berbahasa Inggris, kenapa kendaraan di sini dibiarkan tidak terkunci. Tidakkah mereka khawatir akan kehilangan kendaraannya?

Dengan tersenyum ustaz itu menjawab, sudah 65 tahun saya di sini, tapi belum sekalipun kendaraan jamaah masjid hilang. Saya terkejut begitu ikhlasnya mereka melaksanakan dan mengamalkan ajaran Islam. Selama di Thailand saya ditempatkan di Songkla, Hatyai, tepatnya di sekolah Songserm Witaya School. Saya tinggal di sebuah rumah yang diberikan oleh pihak sekolah. Letaknya hanya 50 meter dari sekolah. Sekolah islam ini memiliki 800 siswa-siswi dengan tenaga pengajar sebanyak 50 orang. Sekolah ini benar-benar menerapkan sistem syariat Islam walau letaknya di tengah-tengah umat Budha. Peraturannya sangat ketat, semua siswa dan siswi diwajibkan berdisiplin tinggi. Terbukti, saya tak sekali pun menemukan siswa yang datang terlambat, meski sekolah dimulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 16.00.

Saya mengajar dua mata pelajaran, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Melayu. Saya temukan beberapa perbedaan antara sekolah Thailand dengan sekolah di Indonesia. Di sekolah sini setiap paginya siswa-siswi diharuskan shalat duha dua rakaat, mengaji bersama sampai pukul 10 pagi. Setelah itu, barulah proses belajar-mengajar dimulai.

Selain itu, semua guru di sini harus bisa baca Quran dan harus mampu mengajari siswa membaca Alquran. Alhamdulillah, saya tak mengalami kesulitan karena sebelum berangkat salah satu syarat untuk dikirim ke Thailand ini adalah bisa membaca Quran. Bukan itu saja, sekolah juga mengharuskan pelajar untuk shalat berjamaah pada waktu Zuhur dan Asar. Setelah itu baru siswa diperbolehkan pulang ke rumahnya.

Selain beberapa hal di atas ada hal yang membuat saya kagum yakni siswa dan siswi sangat sopan dalam berpakaian. Semua siswa memakai jubah setiap hari dan juga memakai peci, sedangkan siswi memakai pakaian syar’i dengan jilbab yang panjangnya sampai ke lutut. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa, karena para wanita muslim bukan hanya sekadar memakai jelbab tapi juga menutup aurat.

Pihak sekolah di sini juga memisahkan kantin untuk siswa dan siswi. Jadi, saya tidak sekalipun menemukan siswa dan siswi duduk nongkrong seperti lazimnya di Indonesia, Aceh khususnya, dalam alasan apa pun, baik saat mengerjakan tugas, makan bareng, atau hanya duduk bertukar cerita. Mereka hanya bersama ketika di dalam kelas, itu pun karena ketatnya pengawasan dari para guru.

Selain itu pihak sekolah juga melarang keras siswa dan sisiwinya menggunakan hp selama proses belajar-mengajar berlangsung. Jika kedapatan mereka akan dihukum dengan tegas oleh pihak sekolah,

Dalam pandangan saya ini merupakan sesuatu yang sangat mulia, karna guru guru disini telah menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini kepada siswa dan siswinya, karena para guru sadar bahwa siswa dan siswi yang sedang menuntut ilmu di bangku SMP dan SMA adalah pemimpin umat Islam di masa mendatang. Mereka adalah generasi penerus umat Islam, khsususnya di Thailand Selatan dan umumnya di seluruh dunia. Jadi, jangan sampai jiwa mereka dirasuki dan dipengaruhi oleh hal-hal negatif, apalagi sampai terpengaruh gaya hidup westernisasi. Andai saja siswa dan siswi di sini hidup dalam gaya kebarat-baratan, sungguh Islam di Thailand Selatan tinggal cerita saja, seperti halnya Oslam di Spanyol yang hancur tahun 1429, namun bedanya kehancuran Islam pada zaman dulu diperangi dengan senjata, sedangankan kita yang hidup di akhir zaman kini berperang melawan majunya gaya hidup kebarat-baratan.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: [email protected] (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id