Kita Tunggu Sikap Jaksa Usai Periksa Daud Pakeh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kita Tunggu Sikap Jaksa Usai Periksa Daud Pakeh

Kita Tunggu Sikap Jaksa Usai Periksa Daud Pakeh
Foto Kita Tunggu Sikap Jaksa Usai Periksa Daud Pakeh

Penyidik dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh dua hari lalu memeriksa Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Aceh, Drs Daud Pakeh, sebagai saksi utama terkait dugaan korupsi perencanaan pembangunan Kantor Kemenag Aceh senilai Rp 1,16 dari pagu Rp 1,2 miliar.

Seusai diperiksa selama empat jam, Daud Pakeh diperbolehkan pulang. Kepada wartawan ia tidak banyak bicara tentang pemeriksaannya. “Saya selaku warga negara hari ini hadir untuk memenuhi panggilan jaksa. Kedua, saya selaku pimpinan lembaga berkewajiban memberikan keterangan,” katanya singkat tanpa mau menjelaskan lebih lanjut keterangan apa saja yang diberikannya kepada penyidik.

Kajari Banda Aceh, Husni Thamrin SH mengatakan, ini pemanggilan ketiga terhadap Daud Pakeh. Dua panggilan sebelumnya tidak dipenuhi dengan beberapa alasan. Seandainya Daud Pakeh juga tidak hadir pada panggilan ketiga, kata Husni, maka jaksa akan menjemput paksa untuk dimintai keterangan sebagai saksi.

Husni mengaku geram dengan sikap tidak kooperatif Daud Pakeh. “Saya tidak mau tahu bekingnya siapa. Kalau dia tidak datang pada panggilan ketiga, saya jemput dia,” tegasnya.

Penyidik memintai keterangan Daud Pakeh seputar anggaran, prosedur, perencanaan, pelaksanaan, sampai pertanggungjawaban proyek. Sebab, banyak persoalan yang ditemukan dalam proyek senilai Rp 1,16 miliar itu. Sudah 31 saksi diperiksa sejak kasus. Ada dua bagian penting yang ditemukan penyidik. Pertama, ditemukan pekerjaan fiktif berupa tidak dikerjakannya soldier atau pengukuran kedalaman tanah. Kedua, terjadinya penggunaan surat keterangan ahli (SKA) palsu untuk perencanaan, seolah-olah dilakukan tenaga ahli berkompeten. Sebagian nama ahli yang dicatut tersebar di Banda Aceh, Medan, Jakarta, Bandung, dan Jambi.

Karena itulah, dua orang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Yaitu Yuliardi selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Kemenag Aceh dan Hendra Saputra selaku Direktur Utama PT Supernova Jaya Mandiri sebagai pihak pelaksana. Keduanya belum ditahan karena dinilai masih kooperatif. Husni juga menyatakan, pihaknya saat ini masih terus mendalami kasus ini dengan memeriksa saksi-saksi lain.

Ya, terhadap penyidikan dugaan korupsi itu, kita pastilah sangat mengapresiasi pihak kejaksaan. Akan tetapi, jika menoleh ke banyak kasus yang masih menunggak di kejaksaan-kejaksaan negeri maupun di kejaksaan tinggi, kita tentu agak kecewa, bahkan pesimis.

Apalagi, nun di luar Aceh, ada sejumlah oknum jaksa yang ditangkap karena menerima suap dan memeras. KOndisi itu menunjukkan banyak oknum aparat kejaksaan kita telah mengalami demoralisasi, bermental buruk dan bermoral rendah. Meski demikian, kita percaya masih banyak jaksa bermoral bagus.

Namun, satu hal yang paling penting dalam setiap pengusutan kasus, terutama kasus dugaan korupsi, adalah pengawasan. Makanya, agar penyidikan kasus dugaan korupsi di Kankemenag Aceh ini tidak “mangkrak”, masyarakat, pers, mahasiswa, dan LSM perlu secara bersama-sama mengawasi secara jeli. Bukan sekadar curiga, tapi ini sekaligus sebagai upaya mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada penegak hukum. (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id