Psikologi Puasa | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Psikologi Puasa

Psikologi Puasa
Foto Psikologi Puasa

Oleh Hadini Murdhana

Menjadi tua pasti, menjadi dewasa itu pilihan (Iklan Mild)

SINGKAT tapi padat, itulah yang terkandung dari iklan yang inspiratif di atas. Iklan di atas ingin menegaskan bahwa antara “tua” dan “dewasa” ternyata tidaklah sama. Ini berarti orang yang tua belum tentu ia dewasa, begitupun sebaliknya, orang yang dewasa belum tentu harus tua.

Mungkin ilustrasi berikut ini bisa dikemukakan untuk memudahkan kita memahaminya. Kita barangkali pernah melihat pengalaman sehari-hari ada orang tua yang umurnya di atas 50 tahun, tapi perilakunya sangat egois, tergesa-gesa, suka marah, tidak bertanggung jawab dan suka menyalahkan orang lain, berbicara tanpa pertimbangan, suka cengar cengir dan sebagainya, orang semacam ini kalau kita lihat memang “sudah tua”, akan tetapi sebenarnya ia “belum dewasa”. Sementara kita juga barangkali pernah melihat pengalaman seorang anak tingkat SMA yang kira-kira berumur 17 tahun, tapi ia mempunyai perilaku yang sangat santun, sabar, bertanggung jawab, mandiri, ulet serta penyayang, orang semacam ini kalau kita melihat memang “belum tua”, akan tetapi dalam kacamata psikologi sebenarnya ia “sudah dewasa”.

Dari ilustrasi di atas, tentu semakin jelas bagi kita untuk membedakan antara tua dan dewasa. Setidaknya kita bisa menyimpulkan bahwa: Pertama, kalau tua berorientasi pada fisik, sementara dewasa berorientasi pada mental; Kedua, kalau tua tumbuh dengan sendirinya secara alamiah, sementara dewasa harus dengan belajar, dan; Ketiga, kalau tua sifatnya konkret, sementara dewasa sifatnya abstrak.

Dalam Ilmu Psikologi, kedewasaan inilah yang merupakan tolok ukur perkembangan jiwa yang sehat. Jadi, jiwa yang sehat itu ditandai dengan kebutuhannya terhadap sesuatu yang bersifat mental atau sesuatu yang bersifat abstrak. Namun sebaliknya, jika seseorang hanya lebih terikat pada sesuatu yang sifatnya fisik dan kongkrit, maka orang tersebut sebenarnya mengalami hambatan perkembangan jiwa.

Tahap perkembangan
Sigmund Freud (1856-1939) mengatakan bahwa perkembangan anak-anak ditandai dengan tiga tahap perkembangan, yang kesemuanya bersifat fisik dan konkret: Pertama, tahap oral, yaitu tahap di mana anak-anak senang memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya; Kedua, tahap anal, yaitu tahap di mana anak-anak senang mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya, karenanya pada saat ini anak senang melihat-lihat dan memain-mainkan kotorannya, dan; Ketiga, tahap genital, yaitu tahap di mana anak senang memain-mainkan alat kelaminnya.

Bila diperhatikan ketiga tahap tersebut semuanya berorientasi kongkrit dan fisik, tidak ada yang bersifat abstrak atau ruhiyah, sementara itu menurut Freud perkembangan jiwa seseorang ditandai dengan beralihnya orientasi manusia kepada ketiga tahap tersebut menuju pada kebutuhan yang lebih abstrak dan ruhiyah. Oleh karenanya, Freud berpendapat bahwa jika ada orang tua yang kesenangannya hanya dalam bentuk mencari kepuasan makan dan minum saja, maka perkembangan jiwanya terhambat pada tataran oral saja. Selanjutnya, jika ada orang tua yang hanya mencari kepuasan dengan menumpuk-numpuk harta kekayaan, maka perkembangan jiwanya terhenti pada tahap anal saja. Sementara jika ada orang tua yang hanya mencari kesenangan dengan memenuhi kepuasan seks saja, maka perkembangan jiwanya hanya berhenti di tataran genital saja. Karenanya, kedewasaan seseorang ditandai dengan kemampuannya melampaui kebutuhan fisik seperti makan, harta dan seks menuju kepada kebutuhan yang lebih abstrak dan ruhiyah.

Mirip dengan Freud, psikolog Abraham Maslow (1908-1970) dalam teori Hirarchy of Need juga berpendapat bahwa tahap terendah perkembangan manusia bersifat fisik, sementara tahap selanjutnya beralih menuju pada tahap yang lebih abstrak. Ia mengatakan bahwa kebutuhan manusia yang pertama adalah kebutuhan fisiologis, seperti makan dan minum; Kedua, kebutuhan rasa aman dari gangguan atau safety; Ketiga, kebutuhan saling mencintai; Keempat, kebutuhan untuk saling mengakui dan diakui, dan; Kelima, kebutuhan aktualisasi diri, seperti mengembangkan bakat pada diri. Bila diperhatikan tampak bahwa semakin tinggi tingkat perkembangan dan kedewasaan manusia, maka semakin abstrak dan ruhiyah pula tingkat kebutuhannya.

Selain itu, psikolog lain Erick Fromm (1900-1980) juga sepakat dengan dua psikolog di atas tentang ciri-ciri manusia yang jiwanya berkembang. Ia mengatakan bahwa orientasi manusia ada dua bentuk yaitu orientasi to have (memiliki) dan orientasi to be (menjadi). Orientasi to have adalah kecenderungan manusia untuk memiliki dan menguasai sesuatu, seperti mendapatkan makan dan kekayaan harta yang banyak, sementara orientasi to be adalah kecenderungan untuk menjadi, seperti menjadi seorang yang bertanggung jawab, menjadi sabar, menjadi pencinta dan sebagainya. Menurut Fromm, jenis orientasi to be merupakan tipe kepribadian yang sehat. Dari pandangan Fromm ini, lagi-lagi memperlihatkan bahwa kedewasaan sebagai bentuk jiwa yang sehat itu cenderung semakin abstrak dan semakin ruhiyah.

Menuju kedewasaan
Puasa pada dasarnya adalah sebuah proses untuk menjauhkan kita dari sifat kekanak-kanakan untuk menuju kedewasaan. Puasa akan membawa kita terbang meninggalkan yang fisik menuju ke spiritual, puasa membawa kita beralih dari yang konkret menuju ke abstrak, ia juga mengalihkan kita dari yang bendawi menuju ke ruhiyah atau dari material ke spiritual.

Puasa akan melepaskan ketergantungan kita kepada kecenderungan oral, anal, genital atau kecenderungan to have. Di bulan suci Ramadhan, seorang yang berpuasa tidak dibenarkan makan dan minum, ini sebenarnya latihan untuk melepaskan kita dari kecenderungan oral kita, kita juga dilarang melakukan hubungan suami isteri, ini juga sebenarnya proses latihan kita untuk meninggalkan kecenderungan genital. Dengan ditinggalkannya sifat-sifat kekanak-kanakan itu kita terbang menuju ke arah yang lebih dewasa dan ruhiyah yang berorientasi seperti to be, kebutuhan untuk menjadi orang baik, menjadi orang yang sabar, menjadi pemaaf, selalu butuh saling menyayangi, butuh untuk aktualisasi diri (self of actualization) dan sebagainya.

Karenanya tidak salah jika Allah swt menjadikan puasa dalam rangka untuk mendewasakan manusia. Munculnya sifat-sifat kedewasaan yang lahir dari puasa ini sebagaimana juga tampak jelas dari gambaran Alquran tentang ciri-ciri orang bertakwa sebagai hasil dari proses berpuasa. Dalam Alquran dijelaskan ciri-cirinya sebagai berikut: “dan bersegeralah kepada ampunan Tuhanmu dan surga seluas langit dan bumi yang dipersiapkan bagi yang bertakwa, yaitu orang yang berinfaq, baik secara sembunyi atau terang-terangan, menahan amarah dan mau memaafkan manusia lain”.

Dari ciri-ciri yang digambarkan oleh ayat di atas tampak bahwa orang yang takwa sebagai buah puasa itu semuanya menggambarkan sifat-sifat kedewasaan seorang manusia, semua sifat-sifat tersebut berdimensi ruhiyah, mental dan abstrak. Tidak sedikit pun menggambarkan sifat kekanak-kanakan.

Jika demikian, puasa Ramadhan merupakan kesempatan emas buat kita melatih diri untuk meningkatkan kualitas kepribadian kita menjadi lebih dewasa. Karena puasa merupakan sarana buat melatih kita untuk menekan kecenderungan fisik kita, sementara di sisi lain puasa mendorong dan mengarahkan kita untuk mengembangkan unsur-unsur ruhaniayah kita, Oleh karenanya, di bulan Ramadhan ini hendaknya kita mau mengintrospeksi diri kita, sejauh mana sudah tingkat kedewasaan kita saat ini sudah berkembang?

Dalam musim politik seperti sekarang ini seyogyanya Ramadhan kali ini bisa membuat para politikus semakin jujur dalam berpolitik, dan tidak menjadikan politik sebagai ladang untuk memperkaya diri dengaan menghalalkan segala cara. Seorang pedagang seyogyanya bisa lebih jujur, tanpa harus merugikan orang lain demi kepuasan fisiknya.

Jadi, jika kita ingin mengukur keberhasilan berpuasa kita tahun ini, maka kita bisa melihat sejauh mana kedewasaan kita telah meningkat, sejauh mana kesabaran kita, keikhlasan kita, kemampuan memberi maaf kita, kedermawanan kita, dan sebagainya, ini karena kedewasaan merupakan tolok ukur berhasil tidaknya puasa yang kita lakukan selama satu bulan ini. Tapi jika kedewasaan kita tidak bertambah, atau malah masih menuhankan budaya benda, wanita dan tahta, ini berarti ada yang salah dengan cara kita berpuasa, kita perlu mengkaji ulang kembali cara berpuasa yang benar.

Akhirnya, penulis ingin mengingatkan kembali, jika memang menjadi tua itu pasti, dan menjadi dewasa itu pilihan, maka puasa adalah sebuah pilihan untuk menjadi dewasa. Wallahu a’lam.

* Hadini Murdhana, Dosen UIN Ar-Raniry diperbantukan pada PTI Al Hilal, Sigli, Pidie. Email: [email protected] (uri/itri/elmeizar/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id