Puasa dan Rekonstruksi Batiniah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Puasa dan Rekonstruksi Batiniah

Puasa dan Rekonstruksi Batiniah
Foto Puasa dan Rekonstruksi Batiniah

Oleh Musliadi M. Tamin

PUASA merupakan ibadah tertua jika dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya seperti shalat, zakat, haji, dan sebagainya. Karena perintah untuk melakukan ibadah puasa telah diwajibkan oleh Allah Swt kepada para Nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Tujuan dari pelaksanaan ibadah puasa tersebut adalah untuk menjadi orang yang melaksanakannya sebagai orang yang bertakwa.

Firman Allah Swt, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, semoga kamu menjadi hamba yang takwa.” (QS. al-Baqarah: 183).

Jika dilihat dari perspektif lain, bahwa ibadah puasa tersebut merupakan ibadah batiniah yang dapat membongkar ego kemanusiaan manusia sehingga dapat merasakan bagaimana lapar dan haus itu, di sisi lain bagaimana kita dapat mencapai penyucian jiwa melalui dialog batiniah.

Dialog batin
Puasa merupakan satu sarana yang sangat tepat untuk melakukan dialog batin. Dengan proses dialog batiniah, hakikat puasa merupakan latihan kejiwaan (riyadlah al-nafsiyah) manusia yang menggiring kepada kesadaran fitrah. Tanpa dialog batin tersebut, mustahil penyucian diri akan terwujud dengan baik. Sebab, hal ini merupakan dialog yang terjadi dalam diri seseorang ketika melakukan ritualitas keagamaan, khususnya ibadah puasa.

Sebagai sebuah dialog batin, kesadaran ini termotivasi dari firman Allah Swt, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. asy-Syams: 9-10).

Setelah melakukan puasa, diharapkan orang yang melaksanakannya akan memiliki potensi agar dapat kembali kefitrahnya dan menambah rasa keimanannya kepada Allah Swt. Bahkan yang paling dicari-cari adalah predikat takwa sebagaimana yang telah ditegaskan Allah Swt, di mana orang yang melaksanakan puasa tersebut dengan benar sesuai dengan tuntunan Allah Swt dan Rasul-Nya, maka akan menjadi orang yang takwa.

Dialog batin merupakan sarana yang paling monumental sebagai proses penyucian diri (tazkiyah al-nafs) bagi kaum muslim. Karena untuk meraih potensi kejiwaan (nafsiyah) hanya dapat didekati dengan dialog batin.

Dalam struktur kejiwaan itu, Allah Swt memberikan maintenance dasar yang cenderung berkembang, hal ini dalam ilmu psikologi disebut potensialitas atau disposisi, yang menurut aliran behaviorisme disebut prepotence reflex (kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berubah-ubah). Dengan proses dialog batin berarti belajar melibatkan stimulasi dan respons. Sehingga apa yang disebut “kapasitas dan potensialitas manusia” dapat terwujud secara utuh.

Melalui proses dialog batin yang terjadi pada diri manusia akan terkonstruksi suatu kesadaran diri sebagai manusia atau hamba yang mengemban amanah dan tanggung jawab, kemampuan memilih, kepekaan hati nurani, keluasan pandangan, dan memiliki kekayaan pengalaman transendental.

Jika kita telusuri bahwa penyebab penyakit jiwa berasal dari hati, karena hati merupakan otoritas kehidupan manusia, sementara itu hati merupakan motor atau penggerak tindakan dan perbuatan manusia. Dari hati nurani timbul suara kebenaran dan kebaikan, dan dari lubuk hati pula muncul bisikan-bisikan dan hawa nafsu. Hati merupakan tempat asal munculnya dua kutup yang saling tarik menarik, antara kejujuran dan kebohongan, antara kebenaran dan kebathilan, antara keadilan dan ketidak adilan.

Dalam kaitan tersebut, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya dalam diri (tubuh) setiap manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh gerak-gerik (perbuatan tubuh) akan baik. Jika ia rusak, seluruh perbuatan (manusia) juga rusak. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks tersebut, seorang ahli psikoanalisa modern, Eric Fromm (1900-1980), menyatakan bahwa sebagian besar penyakit manusia modern adalah karena penyakit hati, bukan penyakit fisik (lahir). Dengan demikian, untuk mengobati penyakit tersebut yang diperlukan, bukanlah memeriksakan diri ke dokter spisialis, namun kepada agama (spiritual) kebenaran.

Proses penyucian hati hanya dapat dilakukan dengan dialog batin, berkomunikasi, berzikir kepada Allah Swt, sebagaimana firman-Nya, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra’ad: 28).

Proses dialog batin berarti melatih perasaan jiwa supaya terdorong hatinya kepada jalan dan ridha Allah Swt. Sebab ridha merupakan satu bagian dari akhlak seorang muslim kepada Allah Swt. Tuhan yang dicintainya dengan penuh semangat dan rasa kasih sayang.

Sikap tawadhu’
Dialog batin berarti juga mendorong manusia pada sikap tawadhu’. Sikap mulia ini termotivasi dari kesadaran batin yang bersih. Dalam hal ini Allah Swt berfirman, “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah diri atau tawadhu’.” (QS. al-Furqan: 63).

Sikap tawadhu’ inilah yang mengangkat derajat manusia di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda, “Tawadhu’, tidak ada yang bertambah bagi seorang hamba keculai ketinggian (derajat). Oleh sebab itu tawadhu’-lah kamu, niscaya Allah akan mengangkat derajatmu.”

Orang yang tawadhu’ biasanya dibarengi dengan sikap muraqqabah (waspada), dengan sikap ini berarti dialog batin mengajak hati manusia selalu melakukan muhasabah (introspeksi) dan seberapa jauh kepekaan perasaannya terhadap realitas sosial.

Dari proses dialog batin, manusia diharapkan kembali kepada asalnya yakni keadaan fitrah (suci). Sikap kembali, bukan saja memerlukan sebuah loncatan keberanian, tetapi juga kesiapan segala perubahan dalam jiwa manusia. Oleh sebab itu, momentum ibadah puasa Ramadhan adalah waktu yang sangat tepat sebagai sarana untuk melakukan perubahan-perubahan diri itu.

Puasa dianggap tidak berhasil jika tidak menumbuhkan sebuah perubahan diri yang jauh lebih baik dari hari sebelumnya. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang hari ini sama seperti kemarin maka ia merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia pandai (beruntung), dan barang siapa yang hari ini lebih jelek dari kemarin maka ia terlaknat.” (HR. Bahaqi). Semoga apa yang kita laksanakan selama bulan puasa, seperti shalat malam, tadarus Alquran, sedekah dan amal saleh lainnya hendaknya juga dapat dilaksanakan pada bulan-bulan lainnya di luar Ramadhan. Semoga!

* Musliadi M. Tamin, S.Sos.I, M.A., Pegawai Dinas Syariat Islam Aceh dan Wakil Ketua Fokal IMM Aceh. Email: [email protected] (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id